Pastikan udah baca part 42 dan 43 ya, Cieolo! (fandom Jeha Lucy, Ciel (langit) dan YOLO—you only live once).
*
Ada yang bilang, pernikahan adalah tahap akhir kehidupan. Namun, Lucy tidak setuju. Baginya, pernikahan adalah awal kehidupan. Semuanya dimulai tepat setelah dia menikah. Menjadi istri, membangun rumah tangga, hingga memutuskan memiliki buah hati dan menjadi seorang ibu. Segala sesuatunya itu dimulai ketika dia menikah.
Lucy tidak mengkhawatirkan apa yang nantinya akan dia dapatkan di dalam sebuah pernikahan, tapi dia penasaran dengan apa yang akan dialami dalam setiap perjalanannya. Dibandingkan penasaran bagaimana hubungannya dengan Jeha akan lebih terarah, Lucy justru penasaran apa saja masalah yang akan mereka hadapi.
Sementara itu, jika ditanya soal harapan setelah menikah, Lucy jelas punya. Dalam kehidupannya sebagai istri Jeha nantinya, dia ingin menjadi bunga matahari.
Bunga warna kuning dengan bentuk menyerupai matahari itu dianggap sebagai bunga yang memiliki beragam makna. Posisinya yang selalu mengarah ke matahari dapat diartikan sebagai simbol kesetiaan dan dedikasi pada orang tertentu. Warna cerahnya melambangkan keceriaan dan optimisme. Bahkan, dalam budaya Tiongkok, bunga matahari dianggap sebagai representasi keberuntungan dan kemakmuran.
Lantas ketika Lucy adalah bunga matahari, siapa Jeha?
Jawabannya adalah cahaya matahari.
Katanya, bunga matahari selalu tumbuh untuk mengikuti cahaya matahari. Tanpa cahaya matahari, bunga matahari tidak akan bisa tumbuh. Bagi Lucy, Jeha adalah sosok itu. Dia ingin menjadikan Jeha tokoh yang senantiasa dia ikuti arahnya. Dia ingin tumbuh bersama Jeha dan berkembang bersama-sama walaupun Lucy tahu tidak ada pernikahan yang sempurna. Apapun yang nantinya terjadi, Lucy ingin terus memiliki motivasi bangun di pagi hari dan melihat sinar mentarinya.
Alasan itu terdengar dangdut, bukan? Tapi percayalah, kata-kata lebih berarti daripada tidak melakukan apa-apa. Lagipula Jeha sangat setuju tentang fakta bahwa Lucy adalah bunga matahari dalam hidupnya. Tidak ada julukan lain yang cocok disematkan pada Lucy selain sebagai sosok hidup dengan jiwa bunga matahari. Tentu saja Jeha kesemsem dan nyaris sinting saat secara gamblang Lucy memanggilnya cahaya matahari. Cowok itu menggumamkan janji untuk terus bersinar dan memastikan bahwa bunga mataharinya mendapatkan cahaya yang cukup.
"Have you prepared your wedding vows, Sunflowy?" tanya Jeha ketika suasana panas menjalar ke seluruh tubuh bersama peluh yang menetes tidak beraturan ke tubuh elok wanita di bawahnya.
Lucy yang tengah menikmati gelombang kenikmatan itu perlahan membuka matanya. Sepasang mata teduh Jeha menyambut, membuat Lucy melupakan sejenak rasa nyeri di pusat tubuhnya. "Emang lo udah bikin?"
Kepala Jeha menubruk pundak Lucy diikuti desahan pelan tanda kecewa. Mereka belum mau melepaskan satu sama lain ketika Jeha kembali mengangkat wajahnya dengan ekspresi merajuk.
"Itu bagian penting, Lu."
"I know, tapi gue beneran lupa."
Jeha meringis miris. "Bisa-bisanya lupa sih?"
Lucy merapikan rambut Jeha yang jatuh menutupi mata. Tangannya mengusap lembut di sana. "Tenang aja, gue bakal bikin. Jadi, ayo selesaikan ini dulu, Jeremy."
Jeha menghela napas. Tangannya membelai lembut wajah hangat Lucy. Setelah puas menjamah wajah sang kekasih, bibirnya perlahan turun untuk memberikan kecupan-kecupan basah di beberapa tempat. Padahal sebelumnya sudah, tapi Jeha ingin kembali dan menghidu kuat-kuat aroma floral tubuh wanitanya. Tanda kemerahan yang merekah bak bunga sakura di musim semi itu pasti banyak tercetak di tubuh Lucy saat ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
Romantic Sequence [END]
Romance(Completed) Jeha bilang, Lucy tidak layak menjadi peran utama dalam kisah hidupnya. Namun, cowok introvert yang selalu menghabiskan waktunya untuk menulis itu akhirnya terpelintir oleh kalimatnya sendiri. Ini bukan kisah cinta bar-bar yang membara...
![Romantic Sequence [END]](https://img.wattpad.com/cover/371313903-64-k621575.jpg)