Note: Pastikan udah baca part sebelumnya, ya. Hari Selasa aku update ya gess jangan disangka aku ghosting lagi. Emang wp aja yang error nggak ada notif. So, pastikan udah baca part 42 sebelum baca part ini. Happy reading!
***
Lucy sedang membaca-baca respons di jagat maya tentang perilisan film Demain Inconnu saat tiba-tiba Arin mengiriminya pesan. Awalnya, dia melirik sekilas chat saudara iparnya itu, tapi semakin dianggurkan semakin beruntun hingga membuatnya menjeda sejenak aktivitas yang dilakukan.
Arin:
Calon suami lo adu urat sama Emily.
Arin:
Dari Kafe Fleur, Arin melaporkan.
Arin:
Datang woy, Jeha kelihatan banget mau nonjok Emily!
BJIR.
Itulah kata yang terucap dari mulut mungil Lucy ketika membaca deretan pesan Arin.
Setelah meminta izin pada Pak Alman dengan sedikit ngalus dan juga sogokan kopi instan, Lucy diizinkan untuk pergi ke Kafe Fleur. Tentu saja saat sampai di sana dia kehilangan momen. Walaupun sudah naik ojol sampai bapak ojolnya mendecak berkali-kali karena Lucy recokin untuk ngebut, dia tetap harus berpuas diri dengan momen kosong di hadapannya.
Mendengar kisah flashback dari mulut Arin, Lucy cengo lebar. Dia masih tidak percaya dengan apa yang barusan terjadi, tapi melihat ekspresi tenang Jeha dan Arin, Lucy manggut-manggut mengerti.
"Setelah kalian ngobrol, lo nggak diteror, kan?" tanya Jeha memastikan.
Lucy menggeleng.
Jeha mengembuskan napas lega. "Syukurlah, gue kira dia bakalan lanjut gila."
"I'm totally fine, Je." Kata Lucy lalu menoleh pada Arin. "Dia beneran nggak nabok Emily, kan? Takutnya tuh cewek ngadu ke pusat kan berabe."
Jeha kontan menukas. "Kalaupun dia ngadu, dia yang pantas dimarahin. Lagian kenapa bisa dia muncul tiba-tiba ke sini sih?"
"Kayaknya emang udah tahu soal kafe ini deh. Apalagi setelah buat syuting banyak yang datang terus ditambah milik saudara ipar calon istri lo," balas Arin kalem.
Benar juga. Setelah Kafe Fleur digunakan untuk syuting adegan di film Demain Inconnu, banyak pengunjung yang datang silih berganti. Bahkan, bunga yang biasanya kagak laku pun nyaris diborong setiap hati. Arin yang tengah hamil tua itu sempat kewalahan meladeni, tapi untungnya dia memiliki karyawan yang mumpuni.
"Mau minum nggak, Lu?" tanya Arin.
Lucy menggeleng. "Gue cuma izin sejam. Abis ini gue bakal balik lagi."
Tanpa sedikitpun minum dan memastikan tidak ada yang membuat keributan, Lucy kembali ke Colorgraph bersama Jeha.
"Je?" Di dalam mobil yang melaju membelah padatnya kota Jakarta, Lucy membuka suara.
"Hmm?"
"Gue minta maaf."
"Buat apa?"
"Karena nggak ngasih tahu kalau Emily begitu ke gue. Kemarin gue sakit hati banget, tapi untungnya sekarang udah baik-baik aja. Maaf, nggak maksud main rahasia-rahasiaan kok, Je."
Jeha menoleh kecil pada Lucy. "Nggak apa-apa. Dia aja yang suka ikut campur. Tapi beneran lo nggak diapa-apain dia, kan?"
"Kalau dia ngapa-ngapain gue ya tinggal gue bales."
Jeha terkekeh. "Bener sih. Palingan dia yang bakalan kalah kalau adu fisik."
Lucy tersenyum jumawa. Dadanya membusung bangga. Dia benar-benar lega melihat Jeha duduk tenang di sampingnya sambil terus memerhatikannya. Beberapa menit yang lalu, dia sempat senam jantung karena membayangkan Jeha akan marah pada Emily di tempat terbuka. Ditambah ada Arin yang hamil tua. Segala pikiran jelek sempat berkecamuk mengganggu kesabarannya. Namun, setelah semuanya baik-baik saja, Lucy benar-benar bisa menurunkan pundaknya dengan degup lega.
KAMU SEDANG MEMBACA
Romantic Sequence [END]
Romance(Completed) Jeha bilang, Lucy tidak layak menjadi peran utama dalam kisah hidupnya. Namun, cowok introvert yang selalu menghabiskan waktunya untuk menulis itu akhirnya terpelintir oleh kalimatnya sendiri. Ini bukan kisah cinta bar-bar yang membara...
![Romantic Sequence [END]](https://img.wattpad.com/cover/371313903-64-k621575.jpg)