Be wise, banyak adegan kurang senonoh. (Apaan banget aku baru ngasih warning ini pas udah ending.) Maap ya, aing lupa. Happy reading!
*
Sebelum melangsungkan pernikahan, layaknya pasangan lain, Jeha dan Lucy juga menjumpai banyak kejadian. Entah itu berhubungan dengan diri masing-masing ataupun keduanya.
Untuk lebih jelasnya, kita akan kembali pada momen sebulan sebelum pernikahan. Tepatnya hari di mana Lucy dan Jeha disibukkan dengan persiapan foto prewedding. Ditambah dengan Arin yang habis lahiran membuat mereka sering bolak-balik berkunjung.
Di tengah kesibukan itu, Lucy sempat berkali-kali sensitif. Biasanya Jeha yang akan gampang marah pada hal-hal remeh, tapi mendekati hari pernikahan, justru Lucy yang sering menekuk wajahnya sambil mendumel sebal. Waktu itu, Jeha tengah duduk di depan televisi mati sambil menyendok yogurt saat pintu rumahnya dibuka. Lucy masuk dengan langkah yang diseret. Otomatis ekspresi Lucy lebih penting daripada yogurt kesukaannya.
"Kenapa, Lucyyana?" tanya Jeha penasaran.
Lucy membantingkan tubuh ke sofa dengan hela napas berat. Tangannya dibiarkan terkulai lemas tanpa tenaga. Kakinya ditaruh di atas meja buat Jeha mengernyit heran.
"Je, suapin yogurt."
Jeha sempat ber-hah panjang, tapi saat melihat tidak ada tanda-tanda bercanda dari setiap kata yang Lucy lontarkan, Jeha menyuapkan yogurt ke mulut cewek itu. Tentu saja masih sambil selonjoran malas seperti baru pulang dari napak tilas.
"Je, gimana kalau gue resign aja?"
Jeha terkejut, tidak menyangka mendengar pertanyaan itu keluar dari manusia penggila kerja macam Lucy. Saat matanya mencoba mencari kebohongan di mata Lucy, Jeha berakhir gagal. Mata cewek itu sayu, tapi terlihat sungguh-sungguh dengan ucapannya.
"Kenapa tiba-tiba ngomongin resign? Bukannya lo seneng ya kerja di tempat sekarang?"
Lucy meniup anak rambutnya. "Jujur, gue capek, Je. Walaupun gue suka, gue udah di tahap muak dan pengen kerja yang nggak menguras tenaga begini. Tapi masih mikir-mikir juga sih, mendadak ragu."
"Apa ada masalah di tempat kerja, Lucyyana?" tanya Jeha hati-hati. Takut memang ada sesuatu yang menggemparkan hingga membuat Lucy membahas pengunduran diri.
Lucy justru menggeleng. "Enggak. Pikiran ini baru muncul beberapa hari belakangan. Gue sempat ragu mau omongin ini ke lo apa enggak, tapi saat lo udah jadi bagian dari hidup gue, nggak ada salahnya berbagi. Jadi, menurut lo gimana?"
Jeha diam sehentar. Dia masih mencerna agar mampu menjawab Lucy dengan bijaksana.
"Terus setelah resign lo mau ngapain?" tanya Jeha setelah puas mendalami ekspresi lelah Lucy. Yogurtnya sudah habis dan wadahnya tergeletak di atas meja
"Full time jadi istri lo."
Kedua alis Jeha bertaut, matanya menyipit curiga. "Lo beneran nggak kesambet setan pas pulang? Ini kok beda banget sama elo beberapa hari yang lalu."
Lucy mendengus malas. "Je, gue lagi serius loh ini. Meskipun masih rencana, tapi gue beneran udah di tahap pengen banget resign. Bukan karena lingkungannya yang nggak cocok, tapi kayak apa ya... kayak ada bagian dari diri gue yang nyuruh untuk berhenti aja karena udah nggak punya gairah untuk melanjutkan. Semoga lo paham. Kayak semisal lo tiba-tiba hilang gairah buat nulis lo ngapain?"
"Istirahat. Gue nggak pernah kepikiran buat berhenti nulis," Jeha menjawab cepat.
Lucy mengerjap. "Kenapa?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Romantic Sequence [END]
Romance(Completed) Jeha bilang, Lucy tidak layak menjadi peran utama dalam kisah hidupnya. Namun, cowok introvert yang selalu menghabiskan waktunya untuk menulis itu akhirnya terpelintir oleh kalimatnya sendiri. Ini bukan kisah cinta bar-bar yang membara...
![Romantic Sequence [END]](https://img.wattpad.com/cover/371313903-64-k621575.jpg)