Part 32. Restu Bolu

4.6K 341 41
                                        

Date to marry. That's it.

Maunya sih begitu, tapi Lucy tidak tahu bagaimana kehidupan asmaranya akan berjalan. Dibandingkan memikirkan dia akan berkencan lalu menikah, hal yang harus dipikirkan adalah siapa calonnya. Percuma memikirkan pernikahan jika calonnya saja belum ada kejelasan.

Jeha memang menjadi kandidat yang memungkinkan, tapi Lucy justru skeptis. Cowok itu memang pacarnya kini, tapi untuk menikahinya, Lucy tidak yakin Jeha akan bilang iya. Hubungan mereka juga belum sedalam itu untuk menbahas soal pernikahan. Bisa saja dia akan ditonyor oleh Jeha apabila membicarakan hal yang terlewat serius di saat hubungan mereka baru saja dimulai. Untuk menghindari perselisihan pendapat yang tidak berarti, Lucy pun bungkam. Cewek itu tidak mau membahasnya sekarang.

Lucy loyo. Selepas kerja, cewek itu memilih menyandarkan tubuhnya pada sofa ruang tamu Jeha. Hari ini tidak ada banyak masalah di lokasi syuting sehingga Lucy bisa pulang lebih cepat. Selepas pemilu, orang-orang pun sibuk membahas rekapitulasi sementara penghitungan suara. Lucy tidak begitu minat dan memutuskan pulang lebih dulu. Namun, dia tidak pulang ke kosannya, melaikan memutuskan pergi ke rumah Jeha. Saat dirinya tiba di sana, Jeha sedang berada di kamar mandi.

Hela napas terdengar bersamaan dengan gerakannya menyelonjorkan tubuh. Di depan sofa itu, Lucy memilih menatap layar televisi yang menghitam. Tidak ada niatan untuk menghidupkannya karena dia berkubang pada sebuah momen yang terjadi dua hari lalu.

Kalimat Jasmine membuat Lucy kepikiran hingga berhari-hari. Melihat tabiat Jeha, Lucy tidak yakin bisa mengiyakan ucapan Jasmine tempo hari. Alhasil, dia bingung sendirian.

Jadi, mari kembali ke momen di mana Jasmine datang bersama Lauren ke rumah Jeha. Hari itu, kedatangan Jasmine dan Lauren sambil menenteng banyak belanjaan membuat Jeha dan Lucy kompak memiliki keyakinan bahwa dua perempuan itu tidak akan sebentar berada di sana.

"Tumben banget Lucy jam segini udah di sini? Anabulnya bikin masalah lagi, ya?" tanya Jasmine membuka obrolan dengan Lucy yang masih sedikit syok."

"Hehe, enggak kok, Tan."

Lucy jadi kikuk. Tidak mungkin juga dia menjawab habis bermalam di rumah Jeha karena habis mabuk.

"Mama sendiri ngapain pagi-pagi ke sini?" tanya Jeha penasaran. Dia beralih memandang Lauren yang fokus meletakkan barang belanjaannya ke meja dapur. "Ngajakin dia pula."

"Lauren ngajakin bikin kue, jadi Mama iyain karena gabut."

"Kan bisa di rumah Mama."

"Pengen di sini soalnya abis ke salon tadi terus rumah kamu yang deket," kilahnya.

Jeha mendecih tidak suka. Bukannya menggubris reaksi emosi Jeha, Lauren justru kalem, merasa tidak melakukan sesuatu yang memicu Jeha menatapnya dengan tatapan tidak suka. Lucy menepi sejenak. Dia memilih untuk memberi makan Jiji dan Lili di catroom. Sesekali telinganya difokuskan agar bisa mendengar obrolan mereka. Meski jaraknya cukup jauh, Lucy masih bisa mendengar obrolan yang terdengar samar-samar dari tempatnya berada.

"Kenapa sih kamu kayak nggak suka Mama datang? Toh, kamu lagi nggak sibuk, kan? Bisa bantuin Mama sama Lauren bikin kue bolu."

"Halah, tinggal beli aja sok mau buat," kata Jeha sambil bersedekap sengak. Dia menunjukkan ketidaksukaannya. Tenti saja ketidaksukaan pada kedatangan Lauren yang seperti punya maksud tertentu.

Sang mama masih tidak mau kalah. "Sambil healing lah. Lagian Lauren bilang pengen tahu rumah kamu."

Jeha otomatis mengarahkan pandangannya pada Lauren. Cewek itu lantas tersenyum saat Jeha menghujaninya dengan tatap penuh pertanyaan. Jeha terlihat kesal karena waktunya bersama Lucy harus terdistraksi karena kedatangan mereka yang tiba-tiba ingin membuka kelas baking di dapurnya.

Romantic Sequence [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang