BONUS PART - SATU

7.2K 259 67
                                        

Sebagai suami yang baik, sudah semestinya Jeha sering siap siaga jika sewaktu-waktu Lucy membutuhkannya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Sebagai suami yang baik, sudah semestinya Jeha sering siap siaga jika sewaktu-waktu Lucy membutuhkannya. Bahkan, dia menjadi orang yang paling tidak bisa tidur saat Lucy hamil muda dan banyak minta aneh-aneh.

Ini pengalaman pertamanya sebagai suami orang yang tengah hamil. Tentu saja sebab dulu tidak pernah terbayangkan dirinya akan menikah dan memutuskan punya anak. Jika dulu dia selalu mengutamakan dirinya di atas orang lain, kini tidak lagi. Sekalipun kepalanya menginginkan bantal di saat-saat lelah mencumbui tubuhnya, Jeha akan selalu memastikan Lucy tidur dengan nyaman terlebih dulu lalu menyusul setelahnya.

Bagi beberapa orang hal seperti itu dianggap sebagai kewajiban seorang suami, tapi bagi Jeha itu adalah bentuk penghargaan dan rasa cintanya pada Lucy. Menurutnya, Lucy berhak diperlakukan lebih istimewa sekalipun ada hari di mana Jeha tidak mengerti keinginan random cewek itu. Bahkan, ngidam Lucy tergolong ngidam yang menurutnya mindblowing.

Pernah suatu hari Jeha pulang dengan kepala baru. Alias warna rambutnya yang baru. Modelnya pun baru sebab Jeha ingin tampil lebih fresh. Warna rambut yang semula berwarna hitam berubah menjadi cokelat gelap dengan model buzz cut. Jeha kira, dia akan disambut dengan senyum semringah istrinya karena berani tampil beda, tapi lagi-lagi lengkung bibirnya menurun saat Lucy menatapnya sinis begitu kakinya menapak lantai rumah.

"Siapa kamu? Kok jelek banget."

Kalau Jeha tidak ingin menularkan hal-hal kasar pada janin di perut Lucy, cowok itu pasti akan mengumpat. Biar bagaimanapun dia harus menjaga attitude di depan calon bayinya.

"Aku baru ganti model rambut."

"Jelek."

Jeha refleks istighfar padahal dia Katolik.

Ngomong-ngomong soal bahasa yang sekarang mereka pakai, sebenarnya sempat ada sedikit perdebatan kecil sebelum akhirnya diputuskanlah bahwa mereka akan menggunakan bahasa yang lebih sopan. Dengan dalih mereka tidak ingin menularkan hawa negatif pada si bayi, tercetuslah ide untuk berkata lebih sopan layaknya pasangan orang tua pada umumnya. Tidak ada obrolan menggunakan lo-gue setelah hari itu. Awalnya canggung, tapi secara tidak sadar mereka malah kelihatan lebih "rukun" dari sebelumnya.

"Aku abis potong rambut, Sayang. Masa jelek sih?"

Tanpa sedikitpun mengalihkan pandangannya dari televisi, Lucy menjawab. "Jelek banget."

Jeha sontak cemberut. Langkahnya mendekat ke arah Lucy sambil terus berharap istrinya itu mau mengubah sejenak atensi. Kepalang ingin sekali diperhatikan, Jeha duduk bersimpuh di depan Lucy yang tengah duduk si sofa. Sebelah alis Lucy terangkat begitu kepala Jeha jatuh ke pangkuannya dengan hela napas kecewa yang dibuat-buat. Lucy mendesah lelah, mau tidak mau meladeni bayi besar itu, mengabaikan sejenak tayangan Netflix di depan sana.

Romantic Sequence [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang