Part 11. Rasa Lain

5.9K 437 67
                                        

Pertanyaan yang membuat Lucy langsung menegak panik adalah,

"Kunci rumah ada di lo, kan?"

Lantas ketika Lucy menggeleng, Luki langsung mendelik padanya.

"LO LUPA BAWA KUNCI RUMAH TERUS KITA MASUK PAKAI JALUR ORANG DALAM, KAH?"

Lucy sudah berusaha mencarinya di tas, di saku celananya, tapi tetap tidak ada. Dia lantas tersadar bahwa kunci tersebut tertinggal di kontrakan, lebih tepatnya bergabung dengan berbagai kunci yang dia taruh di gantungan yang berada di atas meja televisi.

Oalah, jadi rasa tidak nyaman tadi rupanya karena Lucy lupa membawa kunci.

Luki mengacak rambutnya dengan frustrasi sebab keteledoran Lucy. Sementara itu, keempat orang lainnya hanya bisa diam saling berpandangan kikuk. Tidak ada yang mengeluarkan suara selain suara Luki dan Lucy yang sibuk berdebat soal tertinggalnya kunci di kontrakan. Arin sempat menarik lengan Luki untuk bersikap sabar, tapi cowok itu abai, melanjutkan berkacak pinggang sambil menatap kesal pada Lucy.

Lucy rasanya kepengen nangis. Dia tidak tahu jika kepikunannya membuat mereka terlontang-lantung padahal sudah berada di depan gerbang rumahnya. Rumah bercat putih itu pada akhirnya tidak bisa mereka masuki karena Lucy lupa membawa kunci.

"Telepon mama deh siapa tahu ada kunci cadangan yang ditinggal," kata Luki kemudian. Dia sudah lebih kalem dari sebelumnya.

Jujur, Lucy paling takut kalau Luki marah. Cowok itu jarang marah, tapi sekali marah bisa membuat tungkai Lucy melemas. Apalagi jika dialah penyebab kemarahan Luki. Menghindari cekcok yang mungkin bisa merembet ke mana-mana, Lucy menuruti perintah Luki. Saking takutnya diamuk massa, Lucy memencet kontak telepon sang mama dengan tangan bergetar. Tapi bukannya mendapatkan jawaban yang diinginkan, Lucy justru ditampar kenyataan.

"Mana ada Mama ninggalin kunci di rumah ataupun tetangga. Lagipula kalian punya masing-masing. Kenapa?" ucap sang mama saat Lucy menelepon.

"Lucy dan teman-teman udah di depan pintu rumah, Ma. Tapi Lucy lupa bawa kunci rumah."

"Oalahhh, gimana kamu ini!" mamanya terdengar heran lantas melanjutkan. "Kalau mau, ke rumah Budemu aja, di Lembang," kata mama lagi.

"Oh iya, mereka punya vila ya," Lucy langsung berbinar.

"Iya, ke sana aja daripada harus cari vila lain buat nginep. Luki mana?"

Luki langsung unjuk suara. "Di sini, Ma."

"Telepon Bude sama Pakde aja. Vila mereka bagus juga buat liburan kalian. Nggak usah ribut. Hari apes nggak ada di kalender," ujar mama seakan tahu Luki baru saja memarahi Lucy dan hampir membuat saudara kembarnya itu menangis.

"Iya, Ma."

"Enjoy your holiday, Anak-anakku."

Panggilan ditutup. Lucy dan Luki kompak menghela napasnya.

Luki menatap Lucy. Saking sibuknya menuruti hawa napsu untuk memupuk amarahnya, dia sampai tidak sadar wajah Lucy memucat, matanya berkaca-kaca dengan raut bersalah yang amat kentara. Mamanya benar, hari sial tidak ada di kalender manapun. Luki agak menyesal telah membentak Lucy hingga nyaris membuat cewek itu menangis. Satu-satunya hal yang bisa dia lakukan adalah menuruti saran mamanya. Memarahi Lucy dan melanjutkan kesal tidak akan mengubah keadaan. Sebaliknya, dia harus menyikapi sesuatu dengan cara dewasa.

"Jadi, kita pindah destinasi?" tanya Arin saat Luki dan Lucy mulai berdamai.

Luki dan Lucy mengangguk. "Iya."

"Yaudah lah, nggak masalah mau di mana aja. Lagian tetep holiday namanya," jawab Jeha santai. Cowok itu berjalan lebih dulu menuju mobil lalu diikuti yang lainnya. Kali ini dia yang memutuskan untuk menyetir.

Romantic Sequence [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang