Nungguin nggak?
*
Dua manusia itu pada akhirnya pacaran. Namun, bukannya uwu-uwuan, mereka justru berlagak seperti sebelum-sebelumnya. Aneh memang, tapi vibes pertemanan mereka lebih kental dibandingkan vibes mereka sebagai pasangan. Alih-alih kasmaran, mereka justru sedang duduk membahas berbagai persoalan kehidupan.
"Gue sebel banget, Harret di tempat syuting sewot mulu, njir," kata Lucy sepenuh sewot. Cewek itu baru pulang kerja sekitar lima belas menit yang lalu dan memutuskan untuk pergi ke rumah Jeha.
Jeha yang sedang mengaduk kopi dicampur susu itu lantas mendongak. "Kenapa lagi dia?"
Lucy mengerucutkan bibirnya sambip berkacak pinggang. "Entahlah. Baliho caleg kelihatan di depan mata aja dia sewot, katanya bikin jelek pemandangan sampai nyuruh syuting angle lain. Gue jadi Logan pasti udah misuh-misuh sih."
Setelah selesai dengan kopinya, Jeha menjawab kalem. "Tapi dia bener kok. Sejauh mata gue memandang, baliho caleg tuh nyepet-nyepetin mata, nggak guna juga. Desainnya jelek-jelek."
Lucy membuang napasnya. "Ya mau gimana lagi. Musim pemilu gini yang ada kita bakal dituntut kala ketahuan nurunin baliho. Agak-agak emang nih negara."
"Yaudah, pakai CGI aja. Colorgraph canggih, kan? Gue rasa hapus pemandangan yang nggak sesuai mudah dilakukan. Baliho caleg mah pasti easy banget."
Lucy mengedikkan bahu. "Entahlah suka-suka Harret nantinya. By the way, dia jadi deket sama Wilmey njir. Jilat ludah sendiri. Mampus banget."
Jeha menyipitkan mata dengan gelas yang mengambang di udara. "Kok lo kayak nyindir gue juga ya."
"Hah?" Lucy mengerjap tidak paham. "Gue kena-"
Belum sempat Lucy melanjutkan kalimat, cewek itu teringat sesuatu lalu tergelak. Jeha merotasikan bola mata dengan jengah. Tidak minat menyergah, Jeha justru mengambil duduk di depan Lucy. Mereka memilih duduk di tempat makan dibandingkan di depan televisi seperti biasanya.
"Kayaknya emang gen jilat ludah sendiri kalian tuh mendarah daging ya. Nggak lo nggak Harret sama aja," kata Lucy dengan nada agak mencemooh.
"Tapi Harret lebih parah."
"Parah lo lah."
"Oh ya? Kenapa?"
Lucy bersedekap, mempersiapakan diri untuk kultum sore. "Lo sepercaya diri itu nolak gue, tapi akhirnya kalah juga, kan? Kalau Harret kan emang nggak tahu aja cerita sebenarnya jadi dia ngira Wilmey aneh. Padahal mah yang aneh keluarga Wilmey. Sedangkan lo tuh tahu banyak soal gue, tapi seenteng itu jahat sama gue.
"Kan gue udah minta maaf dan mengakui segala kebodohan gue," balas Jeha dengan nada bersalah.
Lucy masih belum minat menyudahi kalimatnya. "Iya sih udah gue maafin dan menurut gue wajar lo denial, tapi masih keingat aja. Sakit banget tahu lo tolak dua kali, Je."
"Apa perlu gue beliin apel setruk, Lucyyana?"
Lucy memukul punggung tangan Jeha menggunakan sendok yang entah sejak kapan ada di atas meja. Jeha tidak sedikitpun menunjukkan tanda-tanda kesakitan.
"Ngawur lo! Entar bukannya cinta-cintaan kita buka toko buah," balas Lucy.
Jeha terkekeh. "Yaudah."
Lucy mencondongkan tubuh agar bisa bicara lebih dekat dengan Jeha. "Tapi beneran deh, Je. Lo naksir sama gue karena apa sih? Jujur aja mumpung lagi ngobrol gini."
"Emang harus banget gue kasih tahu alasannya?"
"Iyalah. Setidaknya ada satu hal yang bikin lo terpana sama gue. Ceilah, bahasa gue apaan banget," kata Lucy dilanjut dengan kikikan geli membayangkan kalimatnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Romantic Sequence [END]
Romantik(Completed) Jeha bilang, Lucy tidak layak menjadi peran utama dalam kisah hidupnya. Namun, cowok introvert yang selalu menghabiskan waktunya untuk menulis itu akhirnya terpelintir oleh kalimatnya sendiri. Ini bukan kisah cinta bar-bar yang membara...
![Romantic Sequence [END]](https://img.wattpad.com/cover/371313903-64-k621575.jpg)