Coba komen dulu, mwehehe 😉
*
Sejujurnya, selama sembilan tahun tinggal di Korea Selatan, Jeha tidak begitu suka dengan musim dingin. Seakan musim kutukan, kisah
cintanya selalu berakhir tragis ketika musim itu datang. Dia putus secara menyedihkan dengan Helena tepat ketika salju turun di kota Seoul untuk pertama kalinya. Kemudian dia ditolak oleh Jane kala salju masih menutupi seluruh Kota Seoul.
Jeha tidak percaya yang namanya takhayul, tapi karena Indonesia hanya punya dua musim yang labil, dia tidak takut kisah cintanya berakhir apes lagi. Dia percaya dengan tidak adanya musim dingin di Indonesia membuatnya terbebas dari hal-hal menyedihkan seperti waktu di Korea Selatan. Gitu pikir Jeha.
Sejauh ini memang semuanya berjalan lancar. Dia punya pacar cantik dan baik yang selalu membuatnya bahagia. Meski kadang masih suka adu bacot karena perbedaan pendapat, Jeha selalu menghargai Lucy. Apapun yang cewek itu minta selalu dikasih. Walapun Lucy sendiri jarang minta-minta, tapi maksudnya Jeha inisiatif untuk membelikan kekasihnya sesuatu sebagai bentuk representasi perasaannya.
Contohnya bunga.
Siapa sih perempuan yang tidak suka bunga? Apalagi jika pacarnya yang memberi.
Sudah sekitar lima belas menit Jeha berdiri mengintari toko bunga yang didatanginya, tapi belum juga mendapatkan bunga yang menurutnya cocok untuk diberikan pada Lucy. Cowok itu banyak menimang. Si penjual masih menunggu hingga cowok itu benar-benar mantap dengan pilihannya dengan senyum merekah sebab selain bunga yang indah, pelanggannya kali ini juga kelewat indah. Kalau tidak sadar sedang jualan pun mereka pasti akan mendekat dan minta foto pada Jeha. Untungnya masih pada paham yang namanya batasan.
Pada menit ke dua puluh si pelayan toko yang tidak sabar menghampiri Jeha.
"Mau nyari bunga apa, Kak? Terus buat siapa?"
"Hm, masih bingung. Bunganya buat pacar saya. Hari ini dia ulang tahun."
"Wah, mau full bunga apa ada hadiahnya?"
Jeha menoleh. "Full bunga aja. Kira-kira bunga lili bagus nggak ya, Kak?"
"Bunga lili bagus, Kak. Kalau boleh tahu sama bunga apa lagi?"
Jeha masih mikir. Otaknya agak kopong jika membahas bunga. Dia suka bunga, tapi tidak begitu paham konsep bunga. Makanya ketika ditanya penjual ingin bunga model seperti apa, dia hanya bengong dan pada akhirnya menyerahkan segalanya pada mereka.
"Yang utama bunga lili ya, Kak. Selainnya terserah. Ukuran jumbo."
"Baik, Kak. Mau bayar tunai apa cashless?"
"Cashless aja."
"Baik. Butuh kartu ucapan juga nggak ya, Kak?"
Jeha mengangguk. "Boleh, tapi saya aja yang nulis."
Si pelayan mengangguk.
Setelahnya dia duduk sambil mengirim pap pada Lucy. Tentu saja dia tidak bilang sedang berada di toko bunga. Dia hanya mengatakan sedang ada urusan sebelum menjemput sang kekasih di kantornya.
Pada akhirnya buket bunga cantik itu jadi. Jeha puas dan syukurnya Lucy menyukainya. Binar mata cewek itu berhasil membuat Jeha ikut tersenyum manis.
"Jadi, lo tadi aslinya lagi di toko bunga, kan?" tanya Lucy ketika mereka sudah mulai meninggalkan area kantor.
"Kok lo tahu?"
"Tahu lah. Gue punya indra keenam asal lo tahu."
"Heleh."
KAMU SEDANG MEMBACA
Romantic Sequence [END]
Romance(Completed) Jeha bilang, Lucy tidak layak menjadi peran utama dalam kisah hidupnya. Namun, cowok introvert yang selalu menghabiskan waktunya untuk menulis itu akhirnya terpelintir oleh kalimatnya sendiri. Ini bukan kisah cinta bar-bar yang membara...
![Romantic Sequence [END]](https://img.wattpad.com/cover/371313903-64-k621575.jpg)