⚠ PERLU DIINGAT BAHWA CERITA INI TIDAK ADA KAITANNYA DENGAN SEJARAH ASLI⚠
Sebuah insiden tabrakan truk dengan mobil menewaskan sang supir dan seorang wanita berusia sekitar dua puluh dua tahun dengan luka parah. Diketahui dia adalah Kinanti Surya At...
Masa yang tenang kapan itu akan datang? Kinanti menunggu. Memikirkan bagaimana jadinya kalau ia memutuskan untuk keluar dari sini dan memisahkan diri dari kartu keluarga. Bisa saja ssperti itu. Tetapi Kinanti harus memikirkan bagaimana dengan perusahaan yang dibangun oleh ibunya? Jelas ia tak akan ikhlas jika itu jatuh ke tangan ibu tirinya yang sudah jelas-jelas berniat menghancurkan keluarganya.
Hal yang buat ia kesal dan greget sendiri itu melihat bagaimana sikap ayahnya. Ia ingat betul bagaimana dulu ayahnya selalu mendengar apapun yang keluar dari mulut Vera. Adiknya -Arawinda- selalu mendapatkan apapun yang ia inginkan, sedangkan dirinya harus berusaha terlebih dahulu. Misalkan menyisihkan uang sakunya.
Ia ingat betul bagaimana sewaktu itu ia pergi ke kantor balai desa untuk mendapatkan Surat Keterangan Miskin. Jelas saja ia ditolak. Di tempatnya siapa yang tidak tahu nama Lingga Surya Atmaja?
Ia berdebat dengan para orang tua disana. Ia berpendapat bahwa ia sudah tak memiliki orang tua. Ayah yang berada di rumahnya itu bukanlah ayahnya, melainkan ayahnya Arawinda Surya Atmaja.
Padahalkan lumayan kalau ia mendapatkan bantuan. Uangnya bisa buat perbaiki laptopnya yang sudah tua dan gampang error.
Kinanti menghela napas memikirkan masa lalu itu. Ia sungguh tak tahu bagaimana ia bisa hidup sampai sekarang. Ia bisa melewati semua itu.
Satu koper kecil berukuran delapan belas inci sudah muat beres untuk semua perlengkapan dan kebutuhannya selama pergi liburan. Kemudian ia menatap wajahnya yang telah memudar bekas luka memar kecelakaan itu. Keberangkatannya mungkin tinggal beberapa jam lagi namun Kinanti telah menyiapkan semuanya tinggal pergi ke stasiun kereta.
Ia tak bisa memastikan berapa lama ia akan pergi liburan.
Matanya menunduk melihat kakinya ia gerakan dan sudah lumayan membaik. Walaupun dalam berjalan ia harus ekstra hati-hati dan sangat pelan. Otot persendian dikakinya sepertinya belum siap, namun ia memaksa untuk tetap berpergian jauh.
Makanan terakhir yang disajikan langsung oleh si pembantu itu. Ia bersumpah akan melayani lelucon ini untuk yang terakhir kalinya. Dengan membawa nampan itu ke kandang ayam brahma milik kakak tirinya.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Dan pada saat menyajikan ke tempat makan ayam itu si pembantu datang dengan mata melotot. Kemudian sepontan berteriak, "Non Kinanti!"
Kinanti mengadah lalu tersenyum miring. Ia jalan mengahampiri wanita tua itu.
"Maafkan saya. Saya tidak bermaksud berteriak dan bersikap kurang ajar. Maksud saya kenapa makanan itu di buang? Bagaimana kalau ayamnya mati?"
Bagaimana jika ayamnya mati? Lalu jika aku yang mati, kamu akan selamat? Batin Kinanti kesal setengah mati.
Medengar teriakan di belakang halaman buat Sandy yang baru datang ke rumah lantas segera melihat. Disana sudah ada Kinanti dan asisten rumah tangga. Kemudian matanya melihat ayam peliharaannya tengah memakan sebuah makanan yang telah ia curigai. Ia menghampiri kinanti dan melemparkan piring dan gelas itu dengan emosi tinggi.