XXXVII. Tilu puluh Tujuh

69 5 0
                                        

Haloooooooooo
Selamat sahur dan menunaikan ibadah puasa yaaa bagi kaum muslim yg menjalankan🥰🥰🥰

Aku udh berusaha semaksimal mungkin agar bisa up tiap hari huhuhuhu🥲😭😭😭😭

Chapter ini lumayan melelahkan;(((😮‍💨

Ada banyak bahasa tersirat di sana lohhhh😄😚 eh iya aku mau adain chapter yg uncensored tpi kalian follow dulu ya akun saya😍😘

Rekomendasi lagu untuk bab ini Miia - Dynasty

Some days
It′s hard to see
If I was a fool
Or you a thief
Made it through the maze
To found my one in a million
And now you're just a page torn from the story I′m living
And all I gave you is gone
Tumbled like it was stone
Thought we built a dynasty that Heaven couldn't shake
Thought we built a dynasty like nothing ever made
Thought we built a dynasty forever couldn't break up
The scar, I can′t reverse
And the more it heals, the worse it hurts
Gave you every piece of me
No wonder it′s missing
Don't know how to be so close to someone so distant


Happy Reading

Dulu Kinanti sempat berdebat dengan Gemintang pada saat kematian ibunya.

Waktu itu ia sedang sendirian di taman komplek perumahan, duduk di ayunan yang tersedia di sana. Dengan perasaan berduka yang dibarengi dengan kemarahan, Kinanti berkata, "Kenapa Ibuku yang harus meninggal? Kenapa gak ayahku saja."

"Astaga Kinanti. Ngomong apa sih?!" kata Gemintang yang kemudian duduk di ayunan sebelahnya.

"Aku sudah terbiasa hidup tanpa ayah. Tapi kalau Ibu? Rasanya dunia ini sudah gak berguna lagi." Suaranya serak begitu pula dengan air matanya yang telah mengalir deras. Gemintang rasa Kinanti belum bisa mengikhlaskan kepergian ibunya. Jelaslah ini baru hari ketiga, mana ada seorang anak yang bisa langsung hidup biasa saja setelah kepergian orang tuanya.

"Kinanti, kamu gak paham ya? Seberapa besar pun kebencian kamu dengan ayahmu, beliau tetap orang tua kamu. Dia jelas ada juga dihidupmu. Memangnya kamu ada hanya sel telur saja?" Kinanti mendelik padanya. Bukannya menghibur ini malah mengatakan yang jorok ditelinganya.

"Maksudku, kamu itu bagian dari setengah ibumu dan setengah ayahmu. Di dalam tubuhmu mengalir darah ayah dan ibumu."

Kinanti menghapus air matanya dengan kasar. "Kamu yang gak paham, Gemintang! Karena kamu berada di dalam keluarga yang harmonis. Kamu didengar, diapresiasi, orang tuamu selalu ada untuk kamu. Berbeda dengan aku!" bentaknya kemudian ia pergi dalam keadaan marah.

Kinanti menghela napas mengingat itu. Dan sekarang ia tengah membaca naskah yang telah tim penulis buat. Beruntung sekali Dyah Pitaloka memiliki ayah yang suportif dan selalu mendengarkan pendapatnya.

Kadang ia bersyukur ketika berada di dalam tubuh Dyah Pitaloka. Ia bisa merasakan bagaimana keluarga itu. Seorang ayah, ibu dan juga adik yang manis. Itu buat hatinya yang terluka dan sangat mendambakan akan hal itu jadi terobati.

Kemudian ia mencoba mengingat kembali di masa itu, karena sepertinya ada sesuatu yang kurang di memorinya. Tapi apa ya?

Bukannya mendapatkan kenangan yang hilang itu, ia malah merasakan sakit kepala yang seperti tengah ditumbuk lisung. Ia kemudian merevisi beberapa adegan yang menurutnya tidak seperti yang ia lakukan dulu atau yang ia katakan dulu.

PadmaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang