Happy reading~~~
Rekomendasi lagu Dewa19-Perempuan paling cantik di Negriku Indonesia
Seperti bunga wijaya kusuma yang terkadang kita tidak tahu dan tidak menyadari bahwa ia telah mekar. Terkadang tetapi kebanyakan ia akan bermekar pada malam hari. Dan itulah mengapa banyak orang jua tak menyadarinya.
Hari demi hari bukan untuk melupakan rencananya. Namun sekarang ia begitu merasa dekat dengan idolanya. Waktu yang tersisa harus di manfaatkan sebaik mungkin, bukan?
Belajar seni bela diri, berkuda, memanah, juga tentang kepemimpinan ala sang Maharani.
Sosok yang pertama kali ia trmui begitu dingin dan misterius namun pada saat mengenal beliau, Kinanti melihat sisi ibu dan wanitanya.Hari inipun ia tengah mempersiapkan diri untuk belajar bela diri, seperti biasanya. Di tengah jeda istirahat mereka berbincang seperti biasanya. Terkadang mereka tertawa bersama dengan lelucon yang sebetulnya menurut ia tak lucu. Yah tapi kadang memang anak tujuh belas tahun suka menampilkan pesona mereka walau mereka tak menyadarinya.
"Apakah ini di perbolehkan?"
Sang maharani tertawa kembali, "Sudah berapa kali kamu bertanya seperti itu? Bukankah kamu hapal apa jawabannya?"
Kinanti tersenyum malu kemudian menundukan kepala.
Ratu Tribuana menatap sinar matahari yang menyorot sempurna. Pikirannya melayang. "Bunga wijaya kusuma telah mekar," gumamnya lembut.
Kinanti mengerjapkan matanya bingung. Bunga wijaya kusuma itu bunga yang mekar di tumbuhan kaktus bukan? Lalu ada hubungannya kah? Tanda alam kah? Zaman dahulu kan selalu seperti itu. Mengaitkan alam yang terjadi sebagai pertanda sesuatu.
Ia kembali bersiap setalah lama beristirahat untuk melanjutkan kembali ilmu bela dirinya. Kinanti tersenyum lebar saat pujian sang guru padanya. Sepertinya tubuh Dyah potaloka ini ada bakat dalam hal bela diri. Dirinya begitu langsung paham dengan apa yang disampaikan.
Matanya terbelak melihat Hayam wuruk berdiri di samping sang ibu. Dan ia melihat senyum ditipis itu sambil menatapnya dengan mata teduh penuh kehangatan itu.
***
Kinanti memiringkan kepala, bingung. Sejenak ia memikirkan kejadian siang tadi.
Hayam wuruk menghampirinya lalu mengatakan bahwa ia tidak perlu belajar lagi tentang ilmu bela diri. Besok dan seterusnya ia tidak boleh mendatangi tempat pelatihan itu.
Ah ia mengerti sekarang. Ia memang terlalu berani. Padahal ia bukan siapa-siapa. Tak ada hak istimewa apapun. Mungkin sang maharaja tersinggung dengan sikap lancangnya.Baiklah ia mengerti. Ia akan turuti perintah itu.
Tapi kenapa tadi ia tersenyum padanya. Senyum bangga kan itu? Pikir Kinanti sewot.
"Tuan putri, semua kain ini mau di taruh dimana?"
Kinanti menoleh pada sumber suara itu. Melihat Jenar dan Gendhis membawa begitu banyak. "Ini apa?" tanya Kinanti gelagapan dan Asih menatap nya bingung. Masa tak tahu kain? Begitulah arti tatapannya.
"Ini adalah hadiah dari Cina." Kinanti terperangah mendengar jawaban dari Jenar. Benar ia pernah mendengar bahwa dulu memang ada Cina ke nusantara.
Kinanti mengangguk. Lalu menunjuk ranjangnya. "Taruh saja disana. Sekarang antar aku melihat tamu itu," ujarnya bersemangat sembari memperlihatkan giginya.
Kinanti mengendap bersembunyi dari kejauhan melihat Sang prabu dengan tamu itu. Kemudian ia mengangguk dan terkikik. Jenar dan Gendhis melihatnya dengan tatapan aneh.

KAMU SEDANG MEMBACA
Padma
Ficción histórica⚠ PERLU DIINGAT BAHWA CERITA INI TIDAK ADA KAITANNYA DENGAN SEJARAH ASLI⚠ Sebuah insiden tabrakan truk dengan mobil menewaskan sang supir dan seorang wanita berusia sekitar dua puluh dua tahun dengan luka parah. Diketahui dia adalah Kinanti Surya At...