XXXII. Tilu puluh Dua

83 4 2
                                        

Hiiii guys lama ga up yaa, maaf bgt karena emng dunia nyata nya aku sibukkkkk bgt🥲
Ini cerita masih panjang siiiiii, panjang bgttttttt

So apakah ada yg menantikan?

Jgn lupa follow akunku yaaa
Dan jgn lupa follow instagramku karena disana aku bkl updet dan juga kasih spoiler gimana kedepannya🤣😄

Happy reading~~~

Setelah banyak mendapatkan informasi para si pembuat onar tersebut dan ia dikejutkan oleh salah satu dari kelompok mereka yang berhasil masuk ke dalam kediaman Dyah Pitaloka dan mencelakai gadisnya itu hingga terdapat darah yang keluar dari leher putih jenjangnya. Hanya sedikit tetapi bisa buat ia sangat marah dan khawatir.

Untuk itu ia akan segera ambil tindakan mungkin semacam pembalasan atau peringatan darinya agar tak mengusik apalagi menyentuh miliknya itu. Walaupun dilihat sang putri baik-baik saja dan gadis itu meyakinkan dirinya bahwa ia tak merasa kesakitan.

Hingga pada suatu malam entah apa yang terjadi padahal waktu itu Dyah pitaloka bersikeras untuk membatalkan pernikahan ini, tetapi sekarang gadis tersebut menanyakan perihal lamaran yang ia berikan pada Dyah pitaloka.

Dan ternyata gadis itu menyetujui perihal pernikahan tersebut walau yang pasti banyak sekali orang-orang yang menentang pernikahan mereka baik dari kerajaan Majapahit ataupun kerajaan Sunda-Galuh. Namun karena ia sudah lama berada di bumi majapahit tersebut yang buat gadis itu akhirnya menyetujui pernikahan politik yang sempat tertunda. Atau mungkin ada alasan lain yang tak diketahui oleh dirinya selain daripada itu? Entahlah...

Setelah penjamuan itu ia pun pergi menemui sang prabu sekaligus almarhum ayahanda dari Dyah Pitaloka di hari hampir pagi. Ia meminta izin padanya dan meminta maaf pada beliau atas sikap yang kurang mengenakan saat keluarga Galuh tiba di sini.

"Aku berjanji padamu, bahwa aku akan menjaga putrimu hingga tetesan darah terakhirku. Aku akan melindunginya dan mencintainya hingga tak ada satu orang pun yang berani memisahkan kami."

Kemudian setelah pergi dari makam beliau, ia segera memerintahkan untuk menyiapkan acara pernikahan nanti yang akan diadakan beberapa hari kemudian. Mulai dari makanan, busana, perhiasan, dan hal-hal lainnya.

Lalu ia memikirkan mereka para pemberontak yang hendak merencanakan pembunuhan pada garwanya. Hmm.. baiklah untuk sekarang ia hanya perlu 'mengamankan' mereka, lalu setelah itu barulah ia akan mengeksekusi mereka dengan hukuman yang paling berat.

***

Dari kejauhan matanya menatap pada Dyah Pitaloka yang amat sangat syok melihat kedatangan ibunda juga adik laki-lakinya. Ia tadinya hendak menemui mereka hanya saja kakinya terhenti dan ia akan memberikan mereka ruang untuk melepaskan rasa rindu.

Di sore hari, langit telah berubah warna menjadi oren dari biru, Dewi Lara linsing datang menemuinya. Wajah mereka hampir mirip apalagi senyum yang terukir di wajah calon ibu mertuanya. Wajah keibuan itu berkata kepadanya dengan lembut buat jantungnya entah kenapa berdebar sangat kencang. "Baginda raja, bolehkah aku meminta sebuah permintaan nanti kelak?"

"Ya, tentu saja. Apa yang Dewi (Ratu) inginkan?" tanyanya karena mungkin ada mahar yang diinginkan oleh wanita paruh baya itu atau hal yang lainnya, mungkin.

Dewi lara linsing menggelengkan kepalanya samar. "Nanti saja. Akan kupikirkan. Tapi untunglah kamu bersedia untuk menerima permintaanku."

"Tentu saja aku akan mengabulkan apapun itu." Asalkan Dyah pitaloka menjadi garwaku.

Dewi lara linsing tersenyum tulus padanya. "Kamu pemuda yang baik dan tulus. Tadinya aku sempat khawatir dengan putriku yang sendirian di bumi orang lain. Walaupun aku adalah seorang ratu, namun aku tetap seorang ibu dan Pitaloka adalah putriku."

PadmaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang