XXXVI. Tilu Puluh Genep

72 5 0
                                        

Halooooo bagaimana puasa hari ini?
Udh ada yg bolong² ga? Klo aku sendiri udh bolong pas awal puasa😭 alamat ini mh ga bisa solat ied😭😭😭

Semngt ya untuk kaliann💪❤️‍🔥❤️‍🔥❤️‍🔥





Happy Reading










Di pagi hari ini dengan cuaca hangat kota hujan menyelimuti hampir seluruh daerah kota. Kinanti melangkah masuk ke dalam sebuah toko roti. Di sana sudah ada seorang wanita yang duduk sendirian di pojokkan menunggu dirinya.

"Wah liat kita baru ketemu dan kamu sudah berubah banyak ya," gurau Kinanti saat kursi kayu itu mencium bokongnya.

Wanita di hadapannya yang berwajah Indo-Arab tersenyum miring menanggapi candaan teman lamanya. "Eh gimana kabar kamu?"

"Ya, gini-gini saja. Kamu sendiri?"

"Gini-gini juga. Tapi yang bedain itu, sekarang ya lagi nunggu anak kedua."

Kinanti terperangah kaget. Bukannya baru lahiran ya?

Wanita dihadapannya tertawa melihat ekspresi bodoh Kinanti. "Biasalah kebobolan."

Dan kemudian mereka saling tertawa karena candaan receh yang saling dilontarkan satu sama lain. Hingga pada berikutnya Kinanti mulai serius dengan arah pembicaraan mereka dimana ia sudah membuat janji pada teman lamanya itu untuk bertemu membahas sesuatu yang serius.

"Jadi gini, aku mau bikin sebuah pentas teater. Ceritanya ya kurang lebih tentang 'Perang Bubat'. Nah, saat aku cek kostum-kostum yang akan dipakai sama pemain nanti, semuanya sudah pada hancur. Ada yang kotor, ada yang robek, macam-macam lah. Untuk itu, aku minta bantuan kamu buat ngedesain. Tenang saja aku sudah beli bahan-bahannya kok."

Wanita itu mengangguk paham. "Cerita Dyah Pitaloka ya."

"Eh iya Mim, kamu kan putri keraton, ada yang kamu ketahui tentang 'mereka'?"

Gemima termenung sebentar. "Kayanya sih ada ceritanya ya disimpan di buku babat carita. Nanti deh aku lihat dulu."

Kinanti mengangguk. "Mim, kamu kan asal dari keluarga Kerajaan, itu gak apa-apa suamimu dari Jawa? Bukannya orang Sunda gak boleh nikah sama orang Jawa ya?"

Gemima tertawa terbahak-bahak mendengar Kinanti mengatakan itu sampai sudut matanya mengeluarkan air mata. "Duh nak, lihat tantemu lucu banget," katanya sambil mengelus perutnya yang sudah mulai terlihat menonjol.

"Kalau aa sunda nikah sama mas jawa sih udah pasti gak boleh lah. Tapi serius ya kalau aku berpikir biasa saja, toh yang gagal nikah kan mereka, kenapa harus berdampak hingga ratusan tahun lamanya?" lanjutnya.

Mima dan Kinan adalah panggilan yang mereka buat dari zaman sekolah menengah pertama. Dan Mima pula lah yang selalu membantunya kala Kinan sedang mengalami kesusahan. Jika Kinan sedang tak punya uang untuk jajan ataupun ongkos pulang, Mima selalu mengulurkan tangannya tanpa ragu. Maka dari itu hubungan mereka sudah bukan lagi seperti 'teman atau sahabat' melainkan sudah seperti saudara satu garis keturunan.

Mereka yang sedang asyik berbincang tanpa tahu waktu dan keadaan sekitar itu benar-benar merasa hidup di toko itu hanya mereka. Tapi tepat diarah sebrang dimana tempat mereka mengobrol ada Satya dan Asih yang sedang memperhatikan mereka.

"Sudah bisa cium kan, kalau wangi aura Gemima dan Kinanti itu sama. Sudah jelas karena mereka keturunan dari Prabu Wretikandayun," jelas Asih sembari menyeruput secangkir kopi hitam panas.

"Iya hampir mirip." Satya kembali terpana dengan ekspresi senang dan gembiranya Kinanti. Senyum wanita itu sangat menawan dan jelas siapa pun bisa jatuh cinta pada wanita berwajah elok itu.

PadmaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang