XXXVIII. Tilu puluh Dalapan

222 5 0
                                        

SAHUR SAHUR~~~

Bacanya sebelum imsyak yaa atau setelah buka puasa🤫

Duhhhhh degdegan bgt hhhaaaa😂😂😂😂

Oh iya kayanya aku bakalan revisi dulu ya dari prolog sampai beberapa bab😘 klo ada yg kangen boleh follow instagram aku => megarama.dbook

Hatur tengqyuuuu💞💞💞

Rekomendasi lagu untuk chapter ini Dark paradise - lana del rey


Happy reding guyssss

Sejarah tetaplah sejarah. Dan kenangan hanyalah kenangan yang tidak bisa diulang kembali. Mungkin hanya bisa diputar oleh memori di otak kita.

Sebelum pulang, Satya menghampirinya dan mengajaknya untuk makan malam bersama guna merayakan kesuksesan pentas teater ini. "Saya jemput kamu jam tujuh malam," katanya.

Kinanti menautkan alisnya bingung, "Saya bisa berangkat bersama Pak Lingga."

"Tidak. Saya hanya mengundang kamu saja untuk makan malam," katanya sembari menggelengkan kepala.

"Loh kenapa? Kita bisa merayakan bersama-sama, kan?"

Bahu pria itu merosot saat mendengar kalimat yang tidak peka yang dilontarkan Kinanti padanya. Dan Kinanti bukannya tidak peka, ia tahu hanya saja menurutnya ini kurang etis saja jika hanya mereka berdua yang merayakannya.

Namun setelah dipikirkan kembali akhirnya Kinanti menganggukkan kepalanya. "Baiklah, saya tunggu kamu."

***

Kinanti yang sedang merias diri mendengar suara ketukan pintu. Ia menoleh pada pintu kamarnya dan berseru, "Masuk saja, gak dikunci."

Ayahnya masuk tanpa kata dan duduk di sisi ranjang memandangnya lekat. Tadi sore ia sudah diberitahu oleh Kinanti bahwa anaknya itu akan pergi bersama Satya dan kemungkinan akan pulang sangat larut.

Kinanti yang telah selesai memoles bibirnya dengan lipstick menoleh pada ayahnya yang tengah menunduk juga melamun. "Ada apa, ayah?" tanyanya dengan suara akan getaran rasa khawatir.

Ayahnya mendongak dan melihat wajah cantik milik putrinya yang sama persis dengan mendiang istrinya sewaktu muda. "Jangan terlalu malam. Besok kamu harus bangun pagi sekali. Jam delapan sudah harus berada di kantor."

Kinanti mengangguk. Oh cuma itu. "Iya aku ingat. Kan biasanya juga selalu pergi kerja jam delapan."

Lingga menghela napas sebelum pergi keluar dari kamar anaknya. Padahal tadinya ia mau mengatakan bahwa ia khawatir jika Kinanti pergi sendirian. Tanpanya, tanpa mayang -gadis yang selalu bersamanya. Tetapi mengapa susah sekali untuk mengucapkan kekhawatiran itu?! Anakku semoga kamu kembali ke rumah dengan selamat. "Ayah cuma mengingatkan. Kalau begitu selamat bersenang-senang dan makanlah yang banyak dan enak!"

Kinanti mengerutkan keningnya memikirkan ayahnya yang bersikap aneh. Apa ayah masih trauma ya ditinggalkan anaknya? Takut terjadi kecelakaan lagi, kah? Paham sih soalnya pelaku utamanya masih berkeliaran di luar dan bebas kapan saja membunuhnya.

Setelah menyemprotkan parfum ke area pergelangan tangan juga sekitaran lehernya kemudian ia kembali melihat penampilannya di kaca yang tinggi. Dan setelah dirasa sudah cukup, ia kemudian pergi keluar menemui Satya yang sudah datang.

 Dan setelah dirasa sudah cukup, ia kemudian pergi keluar menemui Satya yang sudah datang

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Mar 18, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

PadmaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang