Rekomendasi lagu~
Seventeen — menemukanmu
Happy Reading guys🥰💐
Tahun 2013
Satya segera mengemasi barang-barangnya setelah mendapatkan panggilan untuk mengajar di sebuah universitas di Bogor. Hanya dua bulan ke depannya saja, lalu setelah itu ia akan kembali berkelana mencari sosok reinkarnasi dari gadisnya, Dyah Pitaloka.
Tepat pada pukul sepuluh malam ia sudah sampai di sebuah kamar hotel dekat dengan daerah kampus yang dikatakan oleh seorang dosen kenalannya. Esok pasti ia akan disibukkan untuk itu ia segera mengistirahatkan tubuhnya agar segar di pagi hari nanti.
Hari pertama berjalan begitu mulus, semuanya sempurna hingga hari ketiga ia menyadari bahwa sekarang ia sedang di Bogor! Iya, Satya baru tersadar. Lantas memangnya ada apa? Mengapa begitu terkejut?!
Ia ingat bahwa dulu gadis itu pernah mengatakan bahwa ia akan lahir di sebuah kota hujan, yaitu Bogor. Bumi Pakuan Padjajaran.
Hingga hari ke empat dan seterusnya pikirannya sudah kacau. Sangat kacau. Ia segera menelusuri tiap-tiap sudut kota Hujan ini, namun ternyata hasilnya nihil. Bahkan ia sudah membeli sebuah rumah mewah bernuansa Sunda Klasik di sebuah perumahan elit agar ia bisa lebih lama lagi mencari sosok Dyah Pitaloka. Ia yakin karena ia sangat ingat bagaimana wajah rupawan itu.
Namun hingga hari ke lima puluh pun ia tak dapat menemukannya. Dan akhirnya setelah selesai dengan urusannya ia pun mencoba cara yang lain.
Satya menghidupkan mobilnya dan bersiap menuju ke suatu tempat. Ia berdoa dalam hatinya semoga Sang Hyang Widi bisa memberinya sebuah petunjuk agar ia bisa dipertemukan kembali dengan gadisnya setelah beberapa tahun lamanya. Kita pasti bisa bersama, pikirnya.
Ini bukan pertama kalinya kakinya menginjaki tempat bersejarah ini. Dulu-dulu ia pernah berkunjung ke tempat ini. Astana Gede Kawali namanya, ia masuk dan menatap ke sebuah petilasan. Ia duduk dan mulai melantunkan doa untuk sang kekasih.
Tak berselang lama ia diminta oleh seorang kuncen untuk menghadap seseorang. Dan di sebuah rumah sederhana tak jauh di sana ada seorang pria paruh baya dengan Asih yang sedang asyik bercengkrama.
Pria paruh baya itu melihatnya dan tersenyum mempersilahkannya masuk.
Satya duduk d samping Asih, kemudian menanyakan pada wanita tersebut kenapa ada di tempat ini.
"Saya tahu Raden pasti memanfaatkan situasi sewaktu di Bogor itu, kan? Bagaimana hasilnya? Apakah sudah ketemu?"
Satya menghela napas sebelum menjawab, "Panggil nama saja Asih, saya bukan orang bangsawan." Kemudian ia menggelengkan kepala. "Saya belum menemukannya."
"Kalian sedang mencari siapa?" tanya pria paruh baya yang berpakaian serba putih lengkap dengan iket kepala putih juga yang membawa segelas air lengkap dengan makanan ringan.
"Orang lama, Bah. Dia seorang wanita yang lama sudah hilang. Sosoknya mirip sekali dengan Dyah Pitaloka," jelas Asih.
Abah itu mengangguk dengan curiga kepada kedua orang ini. Bagaimana bisa mengetahui wajah rupa anak Sang Prabu Wangi? Itu kan sudah ratusan tahun lamanya.
"Setahu Abah, beliau (Dyah Pitaloka) ini tidak ada duplikatnya. Nya kumaha bade neang awewe nu jiga pisan?" (lantas bagaimana mau mencari yang sama persis)
Satya mengangguk kemudian berpamitan padanya bersama Asih. Dari tatapan Abah itu yang diberikan padanya dengan jelas ia yakin beliau ini sedang menilainya. Tentu saja bagi orang yang sensitif, mereka dapat merasakan auranya yang berbeda dengan orang lain. Maka dari itu ia segera membawa Asih pergi dan menyelesaikan pembicaraan lainnya dengan wanita ini tanpa si Abah yang mulai mengendus dirinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Padma
Historyczne⚠ PERLU DIINGAT BAHWA CERITA INI TIDAK ADA KAITANNYA DENGAN SEJARAH ASLI⚠ Sebuah insiden tabrakan truk dengan mobil menewaskan sang supir dan seorang wanita berusia sekitar dua puluh dua tahun dengan luka parah. Diketahui dia adalah Kinanti Surya At...
