Revisi : 15 Juli 2025 22:17
Tuk...tuk...tuk
Suara bunyi sepatu heels dengan tinggi sepuluh senti menter beradu dengan lantai keramik kala seorang gadis tengah berjalan menuju lift private untuk dapat berkunjung ke pemimpin perusahaan. Jemari yang dihiasi nail art itu memencet tombol ke lantai yang ia tuju dan tak berlangsung lama pintu lift pun terbuka. Gadis itu segera membuka pintu ruangan sang pimpinan tanpa permisi.
Di sana ada seorang pria paruh baya bersama dengan pria kepercayaan sang pimpinan. Mata mereka bertemu dan gadis itu langsung membungkukkan badannya dan mengatakan, "Tempatkan aku di posisi ini," tunjuknya pada meja pimpinan tersebut. Kemudian matanya menatap dua proposal yang bertuliskan 'The Tragedy of Bubat' dan juga 'Niskala wastu kencana The Greatest Kings Silih Wangi' yang mana drama teater yang berjudul tragedi bubat tak ditanda tangani oleh si pimpinan.
Kinanti mengambil proposal yang tak disetujui itu dan bertanya pada pria dihadapannya, "Kenapa bukan ini yang disetujui? Tragedi bubat bukannya lebih populer ketimbang Prabu Siliwangi pertama?"
Lingga tersenyum miring mengejek perkataan anak gadis semata wayangnya kemudian ia menyipitkan matanya dan mencondongkan tubuhnya. "Kamu mau jadi pemimpin di sini tapi kamu malah tidak tahu sepopuler apa Prabu Siliwangi pertama itu? Dia bahkan lebih populer ketimbang tragedi bubat! Dia adalah raja yang membangkitkan kembali kekuatan Sunda Galuh."
Kinanti merenung kemudian mengangguk samar. "Oke. Kalau begitu jadikan aku pemain utama di sini! Dengan terjunnya langsung memerankan tokoh utama di sini aku pasti memahaminya kenapa dia bisa di sebut sebagai The Greatest King Siliwangi."
"Kamu gak bisa main-main dengan perusahaan, Kinanti."
"Aku gak main-main. Toh, perusahaan ini milik ibuku dan sudah seharusnya kembali ke tangan yang asli." Kinanti kembali menyinggung persoalan siapa yang lebih pantas untuk duduk di kursi pimpinan. Ada yang bercerita dan sampai ke telinganya bahwa yang akan memimpin setelah ayahnya itu adalah Sandy, kakak tirinya. Untuk itu ia sangat murka dan membenci Vera selamanya yang telah berhasil masuk ke keluarganya dan memusnahkan hal-hal yang berkaitan dengan ibunya.
Belum lagi pada saat ia membaca proposal itu ia melihat bahwa Arawinda akan memerankan sebagai Lara Sarkati dan Kinanti tak mau Vera kembali menang, ini harus ia dapatkan.
***
Sudah menjadi kebiasaan di sore hari Bogor dilanda hujan. Namun anehnya hujan kali ini Kinanti merasa Sang hyang kersa sedang memberikan berkah padanya. Kinanti berdoa jika memang seperti itu maka ia berjanji akan kembali membangkitkan kekuatan ibunya pada dirinya sendiri dan tak akan goyah oleh sesiapa pun.
Ketika malam telah tiba, suara ketukan pintu kamarnya buat ia berdiri dari kursi belajarnya untuk membukakan pintu kamarnya.
"Ini ada titipan dari Pak Lingga," kata Sandy dengan lirih. Pria itu kemudian menatap Kinanti. "Kamu belum makan malam?"
Kinanti sudah terbiasa untuk tak ikut nimbrung pada keluarga cemara tersebut sejak kematian ibunya. Dulu, saat masih ada ibunya Kinanti akan makan bersama namun kini sudah tidak ada lagi orang yang mau Kinanti ikut makan malam. Ayahnya bahkan tak pernah sekalipun bertanya apakah hari ini ia sudah makan atau belum.
"Oh iya, terima kasih." Kinanti bersyukur setidaknya kali ini ayahnya mau mendengarkan dirinya.
Setelah menutup pintu, segera Kinanti mempelajari dialog-dialog Lara Sarkati. Namun ternyata di balik naskah tersebut ada sebuah note yang mengatakan bahwa ia akan memerankan sebagai Dyah Pitaloka Citraresmi -kakak dari Prabu Niskala wastu kencana.
KAMU SEDANG MEMBACA
Padma
Historical Fiction⚠ PERLU DIINGAT BAHWA CERITA INI TIDAK ADA KAITANNYA DENGAN SEJARAH ASLI⚠ Sebuah insiden tabrakan truk dengan mobil menewaskan sang supir dan seorang wanita berusia sekitar dua puluh dua tahun dengan luka parah. Diketahui dia adalah Kinanti Surya At...
