Bekerja selama tujuh tahun sebagai seorang sekretaris dengan model bos seperti Zhafran Afandi, benar-benar membuat Rachel harus memupuk kesabaran seluas samudera. Bagaimana tidak? Zhafran adalah definisi bos menyebalkan, banyak mau, dan juga super d...
Suara deru nafas yang saling beradu satu sama lain menandakan jika sepasang suami istri yang tak lain adalah Zhafran dan juga Rachel baru saja menyelesaikan aktivitas ranjang mereka yang benar-benar membuat nikmat dan yang pasti keduanya sama-sama merasakan kepuasaan yang tiada tara.
"Kamu udah lepas kb kan, mi?" tanya Zhafran yang kini memeluk tubuh istrinya dengan salah satu tangan yang menganggur digunakan untuk mengelus punggung polos tersebut.
"Udah dari seminggu yang lalu, pi. Kenapa?" sahut Rachel yang senantiasa mengelus rahang milik suaminya yang kini di tumbuhi bulu-bulu kecil nan kasar dengan tangannya.
"Papi lihat Oliv udah cocok jadi kakak. Mau ada rencana nambah anak gak, mi?" kode Zhafran sambil mengedipkan sebelah matanya genit.
"Emang kamu udah siap pi punya anak dua? Satu aja kayanya rempong banget kamu, apalagi bentukannya kaya Oliv" tanya Rachel serius.
"Papi selalu siap, mami. Mau punya anak dua, tiga, atau empat sekalipun papi siap dan sanggup. Masalahnya, papi mikirin mami. Mami sanggup gak? Makanya papi minta pendapat mami dulu. Kalau papi aja yang mau nambah anak, sedangkan mami masih belum mau, itu namanya papi egois. Masalah ini harus disetujui oleh kedua belah pihak. Kalau cuma satu pihak aja yang mau, itu namanya timpang sebelah. Papi gak pengen kaya begitu. Makanya papi nanya sama mami, mami mau ada rencana nambah anak atau enggak, begitu" jelas Zhafran lembut.
Ini dia yang Rachel sukai dari Zhafran, lelaki itu selalu bersifat dewasa dan menghargai pendapat pasangannya. Lelaki itu benar-benar seratus delapan puluh derajat berbeda kepribadiannya ketika berada di kantor dan ketika menjadi suaminya.
Dulu, saat Rachel masih menjabat sebagai sekretaris suaminya, dia pikir lelaki itu pasti akan sangat buruk menjadi kepala keluarga, di tambah dengan sikap sok dan bossy nya tersebut. Namun, dia salah. Setelah dia menikahi atasannya sendiri, dia bisa melihat dan juga merasakan jika mantan bosnya itu sosok yang benar-benar dewasa dan bisa mengayomi dirinya. Bagi Rachel, Zhafran adalah sosok kepala rumah tangga sekaligus sosok ayah yang benar-baik baik, penuh tanggung jawab, tidak pernah kasar, dan yang pasti selalu mengiyakan apapun yang diinginkan oleh istri serta anaknya. Dalam berumah tangga hingga hampir enam tahun ini, tidak pernah sekalipun kata menolak terucap dari mulut Zhafran untuk mewujudkan keinginan istri serta anaknya, lelaki itu selalu mengiyakan keinginan istri serta anaknya. Kecuali, masalah lelaki, baru sosok suaminya itu selalu mengatakan tidak. Asal tau saja, Zhafran itu bukan hanya posesif terhadap dirinya saja, pada Oliv pun juga posesif. Iya, Zhafran ini tipe-tipe orang tua yang protektif dan posesif terhadap anaknya, apalagi bentukan anaknya seperti Oliv, makin menjadilah protektif dari lelaki itu.
"Gimana, mi?"
Rachel tersadar setelah mendengar suara suaminya. Ternyata, dia sudah terlalu lama terdiam. "Aku siap kok kalau nambah anak, pi. Tujuan aku lepas kb juga kan karena aku udah siap mau punya anak lagi. Apalagi Oliv juga udah besar dan mulai ngerti masalah adik."
Zhafran mengangguk. "Gak sabar mau masuk ke dalam rumahnya Alexa lagi."
Rachel melotot ketika melihat sosok suaminya yang kini beralih posisi menjadi di atasnya. Bahkan, tangan suaminya dengan sengaja melebarkan kedua pahanya. "Pap---- ah..."
Rachel mendesah ketika benda panjang nan tumpul milik suaminya melesak masuk ke dalam area kewanitaannya. Meski sudah sering kali di masuki oleh benda milik suaminya itu, Rachel tetap saja terus merasakan milik suaminya yang keluar masuk di bawah sana begitu sesak di kewanitaannya. Entah milik suaminya yang terus membesar atau miliknya yang masih terasa sempit. Entahlah, Rachel sendiri tidak tau. Namun, dia sangat menyukai milik suaminya yang besar, yang sedang memompa miliknya keluar masuk di bawah sana.
Selagi milik mereka yang beradu di bawah sana, Zhafran tidak akan membiarkan seinci tubuh istrinya menganggur. Payudara yang polos menggantung dengan bebas di dada istrinya pun menjadi sasaran utamanya. Dia menangkup payudara yang sangat pas di genggamannya itu dan kemudian meremasnya pelan. Zhafran tersenyum ketika mendengar erangan dari mulut istrinya ketika tangan besar miliknya terus meremas gundukan tersebut.
"MAMI! PAPI! BUKA PINTUNYA!"
Zhafran dan Rachel sontak melebarkan kedua mata mereka ketika mendengar teriakan dari Oliv dari luar kamar sana.
"Pi, ada Oliv di luar" panik Rachel yang sesekali terus mendesah karena alat kelamin mereka yang terus beradu di bawah sana.
"Tunggu sampai kita benar-benar sampai, mi" ucap Zhafran yang semakin cepat memompa miliknya di area kewanitaan istrinya.
"Papi..." lirih Rachel dengan desahan tertahannya karena gelombang cintanya akan segera sampai.
"Bersama, mi" Zhafran langsung menggenggam erat kedua tangan milik Rachel dan memompa miliknya di bawah sana dengan cepat. Iya, miliknya pun sebentar lagi akan mendapatkan puncaknya.
"Papi..."
"Mami...."
Zhafran langsung ambruk di atas tubuh Rachel. Nafas keduanya kembali beradu satu sama lain.
Zhafran melepaskan miliknya dan kemudian menatap wajah istrinya dengan tatapan yang lembut. "Terima kasih, mami..." Zhafran pun tak lupa memberi ciuman di bibir istrinya dengan sedikit lumatan.
"PAPI! MAMI! BUKA PINTUNYA! OLIV MAU MASUK!"
Zhafran dengan cepat bangkit dari tubuh sang istri dan turun dari ranjang mereka. Dia dengan cepat mengambil celana boxer dan baju kaos putihnya. Tak lupa, dia mengambil bathrobe untuk istrinya.
"Kamu duluan aja mi bersih-bersihnya. Biar Oliv sama papi dulu" ucap Zhafran sambil mengelus pucuk kepala milik Rachel.
Rachel hanya bisa menganggukkan kepalanya. Sebab, dia masih merasa lelah. Apalagi kedua kakinya terasa masih bergetar karena kegiatan mereka barusan.
Setelah kepergian suaminya, Rachel yang masih tidak mengenakan apapun di tubuhnya mengelus permukaan perutnya yang datar. "Cepat hadir di perut mami ya, sayang. Mami, papi, dan juga kakak Oliv menunggu kehadiran kamu di sini..."
-bersambung-
Senyum lo pada? Seneng kan?
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.