CHAPTER 51

121 8 0
                                        

" Jika bertemu denganmu adalah sebuah penyesalan. Kamu adalah penyesalan yang paling ingin ku ulangi di bagian hidup manapun."

-----

"Hallo, benar ini dengan ibu Asna Alfiyah?"

"Benar, dengan siapa ya?"

"Kami dari pihak RS mitra bunda ingin memberitahu pihak keluarga kalau saudara Haris setiawan dan Diki Permana mengalami kecelakaan dan sekarang sedang ditangani secara intensif oleh dokter."

Seluruh tubuh Asna bergetar, badannya rubuh sebelum akhirnya ditangkap oleh suaminya. Gus Adnan langsung sigap menopang Asna untuk duduk terlebih dulu. Tangan Asna gemetar matanya memerah dengan sudut mata berlinang.

"Haris, Diki, mas...." Ucapnya terbata

"Coba sini mas yang bicara." Ujar Gus Adnan

"Mohon maaf sus, apa benar itu atas nama Haris setiawan dan Diki Permana?"

"Iya benar pak. Mohon segera ke RS untuk persetujuan penanganan lebih lanjut."

"Oh iya terima kasih sus."

panggilan terputus. Gus Adnan memeluk erat istrinya yang masih tergoncang. Pasalnya mereka bukan sekedar lawan jenis, atau sahabat, mereka bahkan sudah seperti keluarga saudara bagi Asna. Dan beruntungnya Gus Adnan juga merasa hal yang sama. Asna menatap mata Gus Adnan meminta bergegas pergi ke RS, Gus Adnan mengusap tangan istrinya.

"Iya ayo sayangku. Kita pergi, tapi kamu aman kan?"

"Aman sayang."

---------------

Tak perlu waktu lama, Sesampainya di pelataran parkir rumah sakit. Asna bergegas jalan duluan. Ia menyusuri koridor rumah sakit, mengingat ruangan yang tadi disebutkan suster rumah sakit. Acap kali ia lupa, bahkan soal ucapannya yang semenit lalu saja dia bisa lupa apalagi orang lain yang berucap.

"Bener ini, iya deh ruangan ini."

Ia masuk bahkan suaminya belum terlihat batang hidungnya. Ia sudah berada dalam ruangan Haris. Tatapannya sendu. Asna,Haris dan Diki sudah seperti saudara.

"Lu kenapa pakai acar nangis sih na!" Ucap Haris yang nyengir dengan kepala diperban dan tangan luka parah.

Asna tersenyum, sebelum kemudian melemparkan Bogeman kecil di depan wajah Haris.

"Kenapa, kenapa. Nih kenapa!" Ujarnya emosi, "untung aja nyawa lu masih kepake ris, dik."

Haris dan Diki saling bertatap muka. Pasalnya menurut laki-laki. Kalau hanya dijahit itu nggak seberapa dibanding meriang. Begitu katanya.

"Aman bos!" Ujar Diki

"Jantung gua Mao copot!" Gerutu Asna dengan gigi berderit panjang kesal.

Beruntung ruangan mereka diujung koridor. Dan hanya ada 3 kasur dengan 1 kasur yang kosong. Pasalnya suara Asna terhitung keras, mungkin karena rasa khawatirnya yang melampaui batas. Asna lupa kalau ini fasilitas umum.

"Ssttt.. jangan teriak teriak sayang!" Ujar seseorang dari balik pintu.

"Haris.. Diki.. semua administrasi udah aman. Kalian kalau udah mendingan boleh langsung balik." Timpalnya sekali lagi yang memicu senyum sumringah dua bocah kuliahan abal-abal itu.

"Anjay, bos kita dik!"

"Yoi.. ada Agus semua kelar! Kelaz!" Sambil menampol lengan Haris yang diperban.

"Sakit pea!!!"

"Yaelah. Lebay amat dah!" Ujar Diki, "Asna kita pulang sekarang aja ya. Gua Gedeg disini si Haris godain suster Mulu."

Asna dan Gus Adnan melirik dengan alis naik sebelah ke arah tersangka. Namun, Haris hanya menggeleng kepala.

"Lu kali. Gua mah kan udah ada Mecca my honey! Beda kalo lu mah homo kali ya lu!?" Tak sampai satu detik Diki beranjak dari ranjang kasurnya dan menyumpat mulut Haris dengan tangan.

"Tau gitu, gua game over-in elu tadi. Biar ga bacot!"

"Haris! Diki! Ini rumah sakit!" Ujar Gus Adnan penuh penekanan sebab tak enak hati jika harus berteriak ditengah hiruk pikuk rumah sakit.

"Yaudah ayo balik!"

---------------

Hai hai guys maaf author Hiatus satu tahun hehe. Semoga masih ada yang baca ini dan suka
Jangan lupa tinggalin jejak yaa

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jul 23, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Jodoh Dalam DoaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang