Sebagai apresiasi untuk penulis, tidak ada salahnya jika kalian klik bintang, dan komentar yang baik ya. Selamat membaca...!
---
Hari itu adalah awal baru bagi Embun. Dengan mengenakan kemeja putih rapi dan rok span hitam, ia tampak bersemangat sekaligus gugup. Rambut cokelatnya diikat sebagian, sementara poni lurusnya menggantung ringan di atas alis, membingkai wajahnya yang chubby dan manis. Sorot matanya memancarkan kegembiraan—hari ini ia akan bertemu calon bosnya dan, jika segalanya berjalan lancar, mendapat pekerjaan seperti yang menjadi tujuannya merantau ke Jakarta.
Setibanya di depan The Plaza Office Tower, Embun tertegun. Ini adalah pertama kalinya ia menginjakkan kaki di gedung perkantoran yang begitu megah. Gedung itu menjulang tinggi, nyaris mencakar langit, seolah tidak berujung. Ia mendongak, mencoba mencari puncaknya, tapi yang terlihat hanya deretan kaca yang memantulkan sinar matahari dengan kilauan yang hampir menyilaukan. Seketika, Embun merasa kecil—sangat kecil—di hadapan raksasa beton dan kaca ini.
Melangkah masuk ke dalam gedung, dunia di sekelilingnya berubah drastis. Udara sejuk dari pendingin ruangan menyapa kulitnya, pintu otomatis terbuka tanpa suara, dan lantai marmer mengilap memantulkan lampu-lampu terang di atas. Suara langkah kaki bercampur dengan obrolan samar orang-orang yang berpakaian rapi, berjalan dengan tujuan yang jelas. Embun berhenti sejenak di dekat pintu masuk, matanya menyapu ke sekeliling lobi luas itu, mencoba menyesuaikan diri dengan pemandangan yang terasa asing.
Di tengah lobi, orang-orang tampak sibuk. Mereka bergerak cepat, membawa tas kerja dan dokumen, seolah masing-masing memiliki misi penting. Embun, di sisi lain, hanya berdiri canggung, bibirnya sedikit mengatup saat ia bertanya dalam hati, Ke mana aku harus pergi sekarang?
Ia melirik sekeliling, mencoba mencari tanda atau petunjuk yang bisa membantunya. Namun, tatapannya tiba-tiba tertahan pada seseorang di tengah keramaian. Sosok itu terlihat begitu familiar, mengguncang ingatannya.
"Hah, itu... pencuri!" serunya tanpa pikir panjang, suara tingginya memecah kesibukan lobi. "Hei, pencuri... tunggu!" Embun berlari kecil, berusaha mendekati sosok itu, tanpa memedulikan tatapan bingung beberapa orang yang mulai memperhatikannya.
Keramaian di lobi mendadak berubah. Beberapa orang mulai memperlambat langkah, penasaran dengan teriakan Embun. Mereka melirik ke sekeliling, mencari tahu siapa pencuri yang dimaksud gadis muda itu. Sementara itu, Embun yang tak ingin kehilangan jejak buruannya, berlari dengan langkah tergesa, langsung menuju seorang pria yang tengah berdiri di depan lift.
"Hei, kamu pencuri itu, kan?" serunya lantang, menepuk pundak pria tersebut tanpa ragu.
Laksa, pria yang dituduh, menoleh dengan ekspresi terkejut bercampur kesal. "Gue? Pencuri?" ucapnya dengan nada tajam. Matanya menyipit, menatap Embun dari atas ke bawah. "Eh, gadis kampung, ngapain lo di sini? Teriak-teriak pencuri segala lagi!" sambarnya, suaranya keras, cukup untuk menarik perhatian beberapa orang di sekitar.
Embun tak mundur sedikit pun. Dia malah berdiri lebih tegap, matanya berbinar penuh keyakinan. "Iya, bener, kan? Kamu pencuri yang di rumah Oma Tari itu, kan?" ujarnya, seolah baru saja menemukan petunjuk penting yang selama ini ia cari.
Laksa mendengus, menahan amarahnya. "Tutup mulut lo, gadis kampung! Mana ada pencuri sekeren gue," jawabnya sarkastis, sudut bibirnya terangkat sedikit, meski lebih karena frustrasi daripada senyum.
Embun sempat terdiam, lalu mendadak tertawa kecil. "Iya juga ya. Ganteng-ganteng masa pencuri. Hehehe..." katanya polos, memperlihatkan deretan giginya yang rapi.
Laksa memijat pelipisnya, menghela napas panjang, lalu melangkah masuk ke dalam lift yang akhirnya terbuka. "Udah ah, minggir! Bisa sial gue lama-lama deket sama lo," tukasnya ketus, nyaris menggerutu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Laksana Embun ( On Going Dan Proses Revisi )
RomanceLaksa, mengalami trauma jatuh cinta akibat dihinati pacarnya, Zivanya. Ia rela menyelingkuhi Laksa dengan seorang sutradara demi mengejar karirnya sebagai artis. Akibatnya, Laksa selalu menolak perjodohan yang diatur oleh neneknya, Oma Tari. Sampai...
