Malam itu, Zivanya terduduk di sudut kamar apartemennya yang mewah namun kini terasa seperti penjara. Tubuhnya masih gemetar, bukan hanya karena amarah tetapi juga karena rasa malu yang menggerogoti. Pikirannya berputar tanpa henti, mengulang-ulang kejadian beberapa jam lalu saat istri Om Seno tiba-tiba datang melabraknya di depan umum.
"Dasar perempuan murahan! Apa wanita licik sepertimu, memang selalu rela melakukan apa saja demi ketenaran?!" teriakan itu masih terngiang jelas di telinganya. Mata-mata tajam dari orang-orang yang berada di lokasi syuting seakan menelanjangi dirinya, membuat Zivanya merasa lebih kecil dari debu.
Zivanya menghempaskan ponselnya ke sofa, layar yang penuh dengan notifikasi media sosial dan berita gosip membuatnya semakin muak. Foto-fotonya dengan Om Seno—yang diambil tanpa sepengetahuannya saat mereka makan bersama di sebuah restoran—telah viral. Tanpa perlu bertanya, semua orang sudah bisa menebak bahwa dia adalah "Wanita perusak rumah tangga."
"Om Seno keparat! Padahal dia pernah berjanji mau nikahin aku. Sekarang justru cuci tangan seakan tak terjadi apapun." Suaranya pecah di tengah malam.
Tangannya terlihat gemetar saat membuka media sosial. Mungkin, karena dia sedang mencoba membaca komentar-komentar yang membanjiri unggahannya.
"Dasar pelakor!"
"Cantik sih, tapi moral nol."
"Bisa sukses karena menjual diri."
Kalimat-kalimat itu seperti jarum yang menancap ke dadanya, membuat setiap helaan napasnya terasa berat.
Zivanya mengusap wajahnya kasar, air matanya kini bercampur dengan riasan yang belum sempat ia hapus. Ia marah, bukan hanya pada Om Seno dan istrinya, tetapi juga pada dirinya sendiri. 'Kenapa aku bodoh harus termakan dengan rayuannya? Kenapa aku nggak berpikir panjang?'
Di satu sisi, Zivanya merasa kacau dan tak berdaya. Namun, di sisi lain, ia sadar bahwa menyerah bukanlah pilihan. Tapi bagaimana cara membersihkan namanya? Bagaimana ia bisa melawan ombak opini publik yang begitu deras?
Zivanya merenung sepanjang malam. Dalam keputusasaannya, ia meraih ponselnya sekali lagi, membuka kontak Prita, lalu menelepon.
"Halo, Ta... Aku mau terima kerja sama dengan perusahaan Laksa," ucapnya parau namun tegas.
"Tapi kamu sudah menolaknya, Zi..."
"Katakan saja ini untuk amal. Aku akan membuka endorse gratis. Umumkan itu di media. Pokoknya, kamu harus buat aku punya alasan untuk bisa dekat dengan Laksa, Ta."
"Kamu sebenarnya mau apa?"
"Untuk menghapus skandal itu, aku harus punya pacar, kan? Sebarkan foto lamaku dengan Laksa di media sosial. Buat orang-orang percaya aku ada hubungan dengannya, Ta..."
"Oke... oke, Zi. Aku paham."
Zivanya menutup telepon, lalu memandang sudut ruangan apartemennya dengan tatapan tajam. Barangkali ia tengah meyakinkan dirinya bahwa rencana ini akan berhasil.
Ia tahu ini mungkin salah satu titik terendah dalam hidupnya. Namun, Zivanya bukan tipe orang yang mudah menyerah. Meski kini berada di ujung tanduk, ia berjanji pada dirinya sendiri: ia akan bangkit, apa pun yang terjadi.
***
"Selamat pagi, sayang..."
Suara Laksa terdengar ceria, menggema di kamar yang masih diliputi keheningan pagi. Ia duduk di tepi ranjang, menatap Embun yang terbungkus selimut tebal. Wanita itu menggeliat sedikit, wajahnya mengernyit karena sinar matahari yang menyusup lewat celah tirai, mengusik tidur lelapnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Laksana Embun ( On Going Dan Proses Revisi )
RomanceLaksa, mengalami trauma jatuh cinta akibat dihinati pacarnya, Zivanya. Ia rela menyelingkuhi Laksa dengan seorang sutradara demi mengejar karirnya sebagai artis. Akibatnya, Laksa selalu menolak perjodohan yang diatur oleh neneknya, Oma Tari. Sampai...
