Dear pembaca...
Akhirnya, sampai juga di bab yang akan penuh dengan getaran. Siap-siap akan mesem-mesem sendiri. Hehehe...
Sebenarnya aku mau berterima kasih banget, karena kalian membaca ceritaku sampai di bab ini. Maaf, ya... jika kalian masih banyak menemukan typo atau kesalahan tanda baca, pelan-pelan aku akan segera merevisinya. Meski begitu, aku berharap pesan dari cerita ini tetap akan sampai pada kalian.
Jangan lupa follow akun ini dulu, ya. Biar kalian dapat info setiap aku up-date.Jangan lupa juga klik tanda bintang di tiap bab. Aku sangat berterima kasih jika kalian mau melakukannya.
Segitu dulu, deh, pesan dari aku. Semoga kalian menikmati ceritanya, ya...
Selamat membaca...!!
~~~
"Naik jabatan? Wah... Makasih banget, Mas. Sebagai apa?"
Laksa mendekatinya perlahan, lalu menundukkan kepala hingga bibirnya nyaris menyentuh telinga Embun. Ia berbisik lembut, "Jadi nyonya rumah..."
Kemudian, Laksa melangkah pergi begitu saja dengan tenang setelah membisikkan sesuatu yang lembut, seakan-akan sebuah rayuan manis, menyelinap ke telinga Embun. Kata-katanya bergema, membuat hati Embun berdebar tak menentu. Pipinya merona secerah senja, memerah bagai udang yang baru matang. Bibir mungilnya sedikit terbuka, gemetar oleh rasa yang tak menentu, pikirannya berputar di satu pertanyaan: "Jadi nyonya rumah? Apa maksudnya? Apakah mungkin..."
Tak kuasa menahan gelora yang menyeruak, Embun menyembunyikan wajahnya di balik kedua tangan, seolah berharap bisa menghalau gejolak malu yang merambat hingga ke relung hatinya.
Masih terbawa oleh pesona kata-kata Laksa yang begitu mengejutkan, Embun larut dalam lamunannya. Namun, tanpa diduganya, Laksa kembali muncul di belakangnya dengan langkah yang ringan. Suaranya lembut, nyaris seperti angin, membelai telinga Embun. "Sampai kapan kamu akan malu seperti ini?" bisiknya penuh kehangatan.
Terkejut, Embun spontan menoleh ke belakang. "Mas Laksa... Ih, bikin kaget saja," ujarnya dengan nada manja, sembari menepuk lengan Laksa dengan lembut, seakan ingin menutupi rasa gugup yang masih membekas di pipinya.
"Cepetan siap-siap, habis ini aku jemput kamu. Kita akan lanjutin belanja tas yang tertunda."
"Embun ndak mau, ah, Mas."
"Kenapa? Aku kan udah janji mau kasih kamu bonus."
"Tapi tas itu harganya mahal-mahal banget, Mas... Masak satu tas harganya sampai puluhan juta. Itu sudah bisa buat lunasin utang orang tua Embun, Mas..."
"Memangnya berapa utang orang tuamu?"
"Sebelumnya, sih, 45 juta, Mas. Tapi Embun sudah sempat kirim ke Ibuk. Jadi sisanya sekitar 40 juta lagi."
"Kenapa orang tuamu bisa berutang sebanyak itu?"
Embun menarik napas panjang, matanya menerawang seolah menyusuri kembali jejak kenangan pahit yang membekas. "Bapak sempat dirawat sebulan di rumah sakit karena gagal ginjal," ujarnya pelan, suaranya sarat dengan kelelahan. "Jadi, kami terpaksa berutang untuk membayar biaya pengobatan."
Laksa menatapnya dengan penuh empati. "Kamu anak yang sangat berbakti," katanya lembut, sambil mengusap kepala Embun dengan penuh kasih. "Kalau begitu, besok kita pergi ke rumahmu di kampung. Aku akan bantu lunasi utang orang tuamu."
"Ah... benarkah, Mas?" tanya Embun dengan mata berbinar.
"Benar, Embun. Sekalian kamu pulang kampung. Kamu pasti sudah kangen, kan, sama orang tuamu?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Laksana Embun ( On Going Dan Proses Revisi )
RomanceLaksa, mengalami trauma jatuh cinta akibat dihinati pacarnya, Zivanya. Ia rela menyelingkuhi Laksa dengan seorang sutradara demi mengejar karirnya sebagai artis. Akibatnya, Laksa selalu menolak perjodohan yang diatur oleh neneknya, Oma Tari. Sampai...
