Bab 30 Sahabat Lama

30 37 0
                                        

Keesokan harinya, Laksa mengantar Embun ke bandara. Suasana pagi itu terasa berat, meskipun langit cerah. Di depan gate keberangkatan, Laksa memandang Embun dengan tatapan penuh kesedihan. Ia menggenggam tangan Embun erat, seolah tak ingin melepas. Matanya mulai berkaca-kaca.

"Bun... tunggu aku di sana ya? Aku janji akan segera menyusul."

Embun menatap Laksa dengan mata yang juga berair. Ia tak kuasa menyembunyikan kesedihannya. "Iya, Mas. Embun pasti akan tungguin Mas Laksa."

Laksa menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan hatinya. Namun, tiba-tiba ia berkata dengan nada yang lebih serius, "Jangan dekat-dekat sama Raka. Aku gak suka..."

Embun terkekeh kecil mendengar itu, meski air matanya masih tertahan. "Mas... Raka itu sahabat Embun."

"Tapi dia juga suka sama kamu."

Embun memiringkan kepala, sedikit tak percaya. "Ah... suka dari mana? La wong kita udah temenan sejak TK."

"Jangan bilang kamu pura-pura gak tau. Kalau gak ada perasaan, kenapa waktu itu kamu menamparnya? Dia pasti mengatakan sesuatu tentang perasaannya, kan?"

Embun terdiam. Senyum manis di wajahnya perlahan memudar, tergantikan dengan ekspresi masam. Ia menarik napas panjang sebelum menjawab, "Mas... Embun ndak mau membahas soal itu."

Laksa terdiam. Ia menarik napas panjang, seakan berusaha menelan kekecewaan. Ia tersenyum pahit dan berkata pelan, "Oke, kalau kamu gak mau cerita gak apa-apa."

Embun memandangnya, lalu mencoba mencairkan suasana dengan menggoda. "Emm... Mas Laksa cemburu, ya..."

"Enggak kok..." jawab Laksa cepat, berusaha mengelak.

"Alahh, pasti cemburu..." goda Embun lagi sambil menggelitik pinggang Laksa.

Laksa terkekeh geli sambil menghindar. Ia tak mampu menahan senyumnya lebih lama. Tanpa berkata apa-apa lagi, ia menarik Embun ke dalam pelukannya. Pelukan itu erat, penuh kehangatan.

"Bun, aku gak mau kejadian di masa lalu terulang lagi. Tapi aku percaya, kamu gak akan mengkhianati aku."

Embun tersenyum kecil di bahunya. "Embun ndak akan mengkhianati Mas Laksa. Buat Embun, Mas Laksa itu adalah tongkat. Embun ndak akan bisa berjalan tanpa Mas Laksa. Sekalipun bisa, pasti akan pincang."

Laksa tersenyum sumringah mendengar itu. Ia menatap Embun dalam-dalam, seolah mencoba mengabadikan setiap detail wajahnya dalam ingatannya. Perlahan, ia mengecup kening Embun dengan lembut. Embun memejamkan matanya, menikmati momen itu. Ciuman Laksa kemudian turun ke bibirnya. Mereka larut dalam kecupan panjang, seolah melupakan hiruk-pikuk orang-orang yang berlalu lalang di sekitar mereka.

Namun, suara pengumuman dari speaker bandara memecah momen itu. Informasi keberangkatan tujuan Semarang harus segera boarding.

Embun melepas diri dari pelukan Laksa. Ia tersenyum tipis. "Mas... Embun berangkat dulu, ya. Jaga diri Mas Laksa baik-baik..."

Laksa mengangguk pelan. "Emh... Kamu juga, ya. Kasih kabar kalau sudah sampai."

Embun mengangguk sambil menarik kopernya menuju antrean boarding. Laksa tetap berdiri di tempatnya, memperhatikan punggung Embun yang perlahan menjauh. Ketika Embun tiba di gerbang, ia membalikkan badan sekali lagi, melambaikan tangan sambil tersenyum. Laksa membalasnya, melambaikan tangan dengan senyuman yang berat.

Ketika Embun tak lagi terlihat, Laksa menghela napas panjang. Ia berbalik badan dan melangkah keluar bandara, hendak kembali ke kantor. Namun, langkahnya terhenti ketika ponselnya berdering. Ia merogoh kantong celananya, mengecek siapa yang menelepon.

Laksana Embun ( On Going Dan Proses Revisi )Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang