Bab 34 Perjuangan Laksa

27 2 1
                                        

Malam itu, dentuman musik elektronik menggetarkan dada Laksa. Di sekelilingnya, lautan manusia bergerak dalam irama yang sama, diterangi kilatan lampu disko yang memantul liar di wajah-wajah berkeringat. Ia tertawa, gelas di tangannya berayun mengikuti alunan musik. Bastian, sahabatnya, berdiri di sampingnya, bahu mereka bersentuhan dalam euforia yang sama. Untuk sesaat, Laksa berhasil melupakan segalanya.

Getaran kecil di saku jaketnya tenggelam dalam kebisingan klub. Panggilan demi panggilan dari Embun lenyap ditelan hiruk pikuk. Pesan singkat pun ikut terabaikan, terkubur di bawah lapisan kesenangan semu. Malam itu, Bastian dan gemerlap klub terasa cukup untuk mengisi kehampaan yang biasanya diisi oleh Embun.

Namun, saat langkah kaki mulai membawanya keluar dari klub, dinginnya udara malam menyadarkannya. Ia merogoh saku, mengeluarkan ponselnya. Layar itu menyala, menampilkan angka-angka merah yang berkedip—panggilan tak terjawab. Sebuah ikon pesan juga terpampang di sana. Dengan gerakan lambat, ia membuka pesan itu. Senyum yang tadi menghiasi wajahnya perlahan memudar, digantikan oleh garis-garis tegang.

"Mas Laksa, maaf kalau Embun pernah merepotkan. Terima kasih sudah membuat Embun merasa berarti, meski hanya sebentar. Mulai sekarang, Embun tidak akan mengganggu lagi. Semoga Mas selalu bahagia."

“Apa maksud Embun ini?” gumamnya, suara musik yang kini menjauh tidak mampu menenangkan hatinya.

Laksa segera menekan nomor Embun, namun panggilan itu berulang kali terputus. Perasaannya semakin tidak enak. Ia gelisah, tak bisa duduk tenang. Dalam kepanikan, ia memanggil sopir keluarganya, Pak Miko.

"Pak... ayo kita ke rumah Oma," perintahnya dengan suara gemetar.

"Baik, Den," jawab Pak Miko, langsung menancap gas tanpa banyak bertanya.

***

Rumah Oma Tari gelap dan sunyi saat Laksa tiba. Ia berlari masuk tanpa peduli sapaan penjaga rumah. Nafasnya tersengal, dan ia langsung memanggil nama Oma Tari.

"Oma! Oma!" teriaknya, membangunkan sang nenek yang sedang tertidur lelap di kamar.

Oma Tari terjaga dengan kaget. Matanya yang masih setengah mengantuk memandang Laksa yang berdiri di pintu kamar. "Ada apa? Kenapa malam-malam teriak-teriak? Mengganggu Oma saja," ucap Oma Tari dengan suara parau.

"Oma, tolong bantu Laksa. Embun mengirim pesan aneh. Laksa gak bisa telepon dia lagi," kata Laksa, tangannya yang gemetar menyerahkan ponselnya kepada Oma.

Oma Tari membaca pesan itu dengan perlahan. Setelah selesai, raut wajahnya berubah geram. Tanpa peringatan, ia memukul punggung Laksa dengan keras.

"Oma bilang apa! Sudah Oma bilang jangan abaikan Embun. Sekarang, terbukti ketakutan Oma!" bentaknya.

Laksa terdiam, menunduk penuh rasa bersalah. "Maaf, Oma. Apa yang harus Laksa lakukan sekarang?" tanyanya, suara seraknya mengandung penyesalan.

Oma Tari memukulnya lagi, lebih pelan tapi tetap penuh emosi. "Dasar bodoh! Ya cepat susul dia ke desanya sekarang!"

"I-iya, Oma. Laksa akan pesan penerbangan paling cepat," jawabnya terbata-bata.

"Ya sudah, Oma akan ganti baju dulu," balas Oma Tari sambil bergegas ke kamar mandi.

***

Setelah tas-tas tertutup rapat, mereka bergegas menuju bandara. Laksa, dengan langkah gontai, tak lepas dari layar ponselnya. Jemarinya berulang kali menyentuh layar, memeriksa notifikasi yang kosong. Setiap detik berlalu terasa seperti siksaan, harapan akan pesan dari Embun semakin menipis. Bayang-bayang wajah Embun, senyumnya yang renyah, dan celoteh polosnya yang selalu mengundang tawa, justru semakin menyiksa batinnya. Rasa bersalah mencengkeram dadanya, menyesali setiap detik yang terasa sia-sia tanpa Embun di sisinya.

Laksana Embun ( On Going Dan Proses Revisi )Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang