Bab 21 Janji Setia

46 41 0
                                        

Lokasi syuting yang semula penuh canda dan gelak tawa mendadak hening. Suara tumit sepatu yang menghentak lantai keras terdengar jelas, seperti genderang perang yang tak terelakkan. Semua mata beralih ke seorang wanita paruh baya berbadan gempal--mengenakan baju gamis yang glamor dengan tatapan penuh amarah, berjalan cepat menuju Zivanya.

"Apa kamu Zivanya?" tanya wanita itu sinis.

Zivanya, yang saat itu sedang mengulang dialognya dengan sutradara, tertegun ketika wanita itu tiba-tiba mendekatinya. Ia berusaha mengingat wajah itu. Bola matanya membulat sempurna ketika ingatan tentang wajah itu muncul. Rupanya, wanita itu adalah istri Om Seno, seorang sutradara sekaligus kekasih gelapnya.

Zivanya berusaha menjawab pertanyaan wanita itu dengan berani, meski tubuhnya sudah mulai gemetar. "Iya, saya Zivanya..."

PLAK!

Suara tamparan itu menggema di seluruh ruangan.

Zivanya terhuyung, pipinya memerah dan matanya membelalak. Ia meringis, memegang bekas tamparan keras yang membuat kepalanya berputar seketika. Beberapa kru yang menyaksikan hanya mampu berdiri kaku, tak berani campur tangan.

"Kamu pikir kamu siapa, hah?! Berani-beraninya menghancurkan rumah tangga orang!" teriak istri Om Seno dengan suara bergetar. Ia tak dapat menahan luapan emosinya hingga air matanya hampir tumpah.

"Maaf, Bu. Saya rasa anda hanya salah paham!" Zivanya berusaha membela diri, suaranya serak dan goyah.

Namun, wanita itu tak peduli. "Jangan sok polos! Aku sudah tahu semuanya! Foto kalian, percakapan kalian, semua! Kamu pikir bisa selamanya menipuku? Kamu enggak lebih dari wanita murahan yang memanfaatkan suamiku demi karier!"

Kata-kata itu menusuk Zivanya seperti pisau. Tubuhnya gemetar, bukan hanya karena rasa malu yang menghanguskan, tapi juga karena dia tak tahu harus bagaimana. Semua orang di lokasi syuting menatapnya dengan campuran rasa kasihan dan cemoohan.

Sutradara akhirnya turun tangan, mencoba menenangkan situasi. "Maaf, Bu. Tapi di sini bukan tempatnya untuk..."

"Diam! Jangan coba-coba melindungi perempuan ini! Atau jangan-jangan... kamu juga bermain gila dengannya?" potong istri Om Seno dengan lantang. "Dasar perempuan murahan! Apa wanita licik sepertimu, memang selalu rela melakukan apa saja demi ketenaran? Aku peringatkan padamu untuk yang terakhir. Jauhi suamiku secepatnya! Atau aku sebarkan vidio mesum kalian ke seluruh media."

Zivanya tak bersuara, badannya bergetar karena merasa sedikit takut sekaligus malu. Air mata mulai mengalir di pipinya. "Saya tidak seperti yang Anda pikirkan... Saya tidak..." Namun, suaranya tercekat. Bahkan ia sendiri mulai kehilangan keyakinan. Skandal ini terlalu besar, dan telah berhasil menghancurkan karirnya.

Setelah puas meluapkan emosinya, wanita itu berbalik pergi, meninggalkan ruangan yang kini terasa dingin dan mencekam. Zivanya berdiri di tempatnya, membeku. Pipinya masih terasa panas, bukan hanya dari tamparan, tetapi juga dari penghinaan di depan begitu banyak orang.

Beberapa kru mencoba mendekatinya, namun Zivanya mengangkat tangannya, meminta mereka menjauh. Prita, menegernya, bergegas membawanya pergi menjauh dari tempat itu. Dengan langkah berat, Zivanya meninggalkan lokasi syuting tanpa sepatah kata. Di dalam mobilnya, dia memandang pantulan dirinya di cermin. Wajah yang selalu penuh percaya diri kini tampak rapuh.

"Kamu gak papa, Zi?" tanya Prita khawatir.

"Apa yang harus aku lakukan, Ta..." bisiknya, tak mampu menahan air mata yang akhirnya tumpah.

"Zi... Menurutku, kamu harus segera tinggalkan Om Seno. Ancaman istrinya itu seperti gak main-main."

"Dasar wanita tua bangka!" seru Zivanya penuh amarah, suaranya bergetar. "Berani-beraninya dia menamparku di depan banyak orang! Cepat buat laporan polisi, Ta! Aku ingin menjeratnya dengan tuduhan penganiayaan!"

Laksana Embun ( On Going Dan Proses Revisi )Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang