Laksa tak dapat menyembunyikan kebahagiannya setelah berhasil mendapatkan kesepakatan kerja sama dengan PT. Unilever Indonesia selama sepuluh tahun. Hal itu memastikan ia akan menerima pendapatan yang stabil sepanjang waktu tersebut.
"Thanks, Bun. Ello sangat berjasa untuk perusahaan gue," ujar Laksa penuh rasa syukur.
"Sama-sama, Mas. Embun juga senang bisa membantu Mas Laksa," jawab Embun dengan senyum tulus.
Mereka saling bertukar senyum hangat sebelum Embun melangkah pergi untuk merapikan semua barang bawaan Laksa.
Melihat kedekatan Laksa dan Embun, tiba-tiba Pak Miko muncul dari belakang dengan senyum kecil di wajahnya. "Saya juga senang, Den. Melihat kalian yang semakin dekat," ucapnya sambil terkekeh.
"Pak Miko..." Laksa menoleh, merasa ada sesuatu yang disembunyikan.
"Oma juga pasti akan bahagia melihat ini, Den," lanjut Pak Miko dengan nada ringan.
Laksa mengerutkan kening. "Apa Pak Miko sengaja mendekatkan saya dengan Embun?"
Pak Miko tertawa kecil sebelum menjawab, "Sepertinya begitu, Den. Hahaha... Maaf, Den, saya hanya mendukung rencana Oma."
Laksa terdiam sejenak. "Jadi benar, Oma yang merencanakan semuanya?"
Pak Miko tersenyum bijak. "Lebih baik Den Laksa pura-pura ndak tahu saja. Kasihan Oma, beliau selalu memikirkan kebahagiaan Den Laksa."
Wajah Laksa memancarkan kesedihan yang sulit disembunyikan setelah mendengar nasihat dari Pak Miko. Kata-kata itu seperti cermin yang memantulkan kembali kenyataan pahit yang selama ini ia coba hindari. Laksa tahu betul, Oma Tari hanya menginginkan yang terbaik untuknya, dan keinginan terbesar wanita itu sederhana namun penuh tuntutan: melihatnya menikah dan membangun keluarga.
Namun di balik itu, hati Laksa terasa perih. Ia sadar, selama ini dirinya kerap membuat Oma kecewa, bahkan mungkin marah, meski bukan itu niatnya. Setiap malam, ia tahu Oma tak pernah berhenti memikirkannya, merangkai doa-doa panjang yang penuh harap. Satu-satunya impian Laksa hanyalah membuat Oma tersenyum bahagia, tetapi kenyataan sering berkata lain. Semua pencapaian ekonominya, kerja kerasnya yang selama ini ia banggakan, ternyata tak cukup untuk memenuhi kebahagiaan Oma Tari.
Oma tidak peduli pada harta yang Laksa miliki; ia hanya ingin cucunya itu menemukan seseorang untuk mendampinginya, seseorang yang bisa memberikan keluarga baru dan keturunan sebelum ajal menjemputnya. Namun, hati Laksa tidak semudah itu dilunakkan. Trauma dari masa lalu membuatnya terkurung dalam kisah yang sama, kembali pada bayangan wanita yang sudah pernah membuatnya hancur hingga berakhir dengan luka yang semakin dalam. Kepercayaannya pada hubungan baru telah lama runtuh, dan hingga kini, ia belum mampu membangun kembali keyakinan itu.
Setelah selesai membereskan semua barang bawaan, Laksa berjalan bersama Embun menuju tempat parkir. Sementara Pak Miko sudah siap, menunggu mereka di dalam mobil dengan sabar. Namun, langkah mereka terhenti ketika pandangan Laksa terpaku pada sosok yang tidak asing baginya. Zivanya, mantan kekasihnya yang pernah meninggalkan luka mendalam, turun dari sebuah mobil mewah dengan seorang pria yang ia kenali sebagai sutradara terkenal, yang tak lain adalah pasangan gelapnya.
Embun, yang tidak tahu menahu tentang masa lalu Laksa, justru tampak antusias begitu melihatnya. "Mas Laksa! Itu kan Zivanya, artis terkenal yang Embun bilang kemarin!" serunya, girang seperti anak kecil. "Beberapa hari yang lalu Embun juga pernah bertemu di kantor. Oh ya, waktu itu dia keluar dari ruangan Mas Laksa sambil menangis. Embun ingin bertanya, tapi sepertinya Mbak Vanya tidak melihat Embun."
Laksa hanya terdiam, tubuhnya kaku seperti terpaku di tempat. Kenangan-kenangan pahit itu kembali menyeruak, membelenggunya dalam perasaan yang tak pernah ia harapkan. Sementara Embun semakin senang, karena dipertemukan kembali dengan artis idolanya itu. Ia bahkan mulai melangkah mendekat, berniat untuk menyapanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Laksana Embun ( On Going Dan Proses Revisi )
RomanceLaksa, mengalami trauma jatuh cinta akibat dihinati pacarnya, Zivanya. Ia rela menyelingkuhi Laksa dengan seorang sutradara demi mengejar karirnya sebagai artis. Akibatnya, Laksa selalu menolak perjodohan yang diatur oleh neneknya, Oma Tari. Sampai...
