Zivanya terperangah. Ia mengambil langkah, hendak membalas tamparan Embun lagi. Tapi, Embun menangkap tangannya dengan tegas. "Mbak... Hanya karena Embun diam, bukan berarti bisa ditindas. Ingat, Embun ndak akan biarkan Mbak Vanya merebut Mas Laksa."
Kebetulan yang sangat tepat waktu. Suasana di toilet kala itu sunyi, tanpa pengunjung lain kecuali mereka berdua—membuat mereka tampak leluasa bersaing memperebutkan cinta Laksa. Embun membuang tangan Zivanya dengan gerakan cepat dan kasar, matanya berkilau dengan tekad yang baru. Dengan percaya diri ia berbisik di dekat telinga Zivanya. "Mas Laksa adalah milikku," ujarnya tegas. Suaranya bergetar namun penuh kekuatan. Embun berjanji pada dirinya sendiri—tidak akan membiarkan siapapun mengendalikannya. Meski itu adalah Zivanya—sang idola.
Besarnya cinta Embun terhadap Laksa membuatnya bertindak seberani ini. Ia lupa bahwa dirinya hanyalah orang kampung yang tak punya kekuatan apapun di kota besar ini. Embun hanya mengandalkan Laksa sebagai kekuatannya untuk melawan kejahatan Zivanya. Ia tahu Laksa berjuang cukup keras untuk sembuh dari traumanya akibat di hianati oleh Zivanya. Dan oleh sebab itu, Embun tidak akan membiarkan Laksa kembali terjerumus. Meski sebenarnya, dia sendiri sadar—Laksa terlalu sempurna untuknya.
Kemudian, Zivanya ditinggalkan Embun dalam keterpakuan. Ia hanya berdiri di tempatnya, terdiam dengan wajah yang memerah karena menahan marah sekaligus malu. Hatinya dipenuhi amarah yang bercampur keterkejutan. Ia tidak pernah menyangka akan mendapatkan perlawanan sedemikian rupa oleh Embun. "Kamu akan menyesal, Embun...!" geramnya, namun suaranya terdengar kosong. Lalu keluar toilet mengikuti Embun.
Embun melangkah kembali ke meja makan—tempat mereka duduk sebelumnya. Di sana, Laksa sudah berdiri dengan wajah tegang, matanya menyiratkan kesabaran yang hampir habis. Dari raut wajahnya, Embun dapat melihat dengan jelas ada sesuatu yang telah terjadi di antara dirinya dan Zivanya selama ia pergi ke toilet. Namun sesuatu itu, belum sempat diketahui olehnya. Mungkin insiden itu menjadi alasan di balik kemarahan Zivanya yang meledak-ledak hingga berani menamparnya.
"Bun, kita pulang saja. Rencana ini sudah tidak ada gunanya," ujar Laksa, nada suaranya dingin namun tegas, menunjukkan ketidaksukaannya pada situasi yang baru saja terjadi.
Embun memandang Laksa sejenak, lalu mengangguk setuju. "Baik, Mas..." jawabnya, seraya mengulurkan tangan. Senyum kecil terlukis di wajahnya, seolah menghapus kekacauan yang baru saja dialaminya. Ia sengaja tak memberi tahu Laksa tentang apa yang terjadi antara dirinya dan Zivanya di toilet barusan.
Laksa menyambut tangan Embun dengan kelembutan yang tulus, menggenggam jemarinya erat seakan ingin meyakinkan bahwa dirinya adalah satu-satunya tempat ternyaman bagi Embun. Suara hiruk-pikuk restoran perlahan memudar, seolah dunia di sekitar mereka lenyap begitu saja. Fokus Embun hanya tertuju pada Laksa—pada genggaman hangatnya yang memberikan rasa tenang di tengah kekacauan. Dalam keheningan yang sarat makna, keduanya melangkah pergi meninggalkan restoran, membiarkan Zivanya terjebak dalam badai emosinya sendiri.
Di tempatnya berdiri, Zivanya masih membeku menyaksikan Laksa yang pergi dengan menggenggam tangan Embun. Kemarahan membakar dadanya, matanya menatap punggung Embun dengan kebencian yang tak tertahankan. Napasnya tersengal, tangannya gemetar saat membuka tasnya dan meraih ponsel.
Suaranya bergetar saat ia menelpon seseorang di ujung sana. "Ta... lakukan itu sekarang!" perintahnya dengan nada tegas yang hampir pecah, air matanya mulai mengalir deras. Amarah yang meluap-luap menenggelamkannya, memenuhi pikirannya dengan dendam yang terus membesar.
***
Setelah menyudahi makan siang di restoran, Laksa menghentikan mobilnya di depan gedung kantor. Embun memandang ke luar jendela, mencoba mempersiapkan dirinya untuk atmosfer berat yang entah mengapa terasa membayangi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Laksana Embun ( On Going Dan Proses Revisi )
RomanceLaksa, mengalami trauma jatuh cinta akibat dihinati pacarnya, Zivanya. Ia rela menyelingkuhi Laksa dengan seorang sutradara demi mengejar karirnya sebagai artis. Akibatnya, Laksa selalu menolak perjodohan yang diatur oleh neneknya, Oma Tari. Sampai...
