Bab 17 Pulang Kampung

53 41 3
                                        

Sementara Laksa menatap Embun dengan mata yang mendalam, seperti senja yang perlahan mengajak malam. Ada percik hasrat di balik sorot itu, halus namun membara. Tatapannya seakan mengajak Embun untuk hanyut bersama dalam sebuah kehangatan.

Kemudian, perlahan Laksa menurunkan pandangannya ke arah dada Embun, lalu berbisik nakal. "Bun, maukah kamu...?"

Seketika, Embun merapatkan kedua tangannya ke dada, seolah melindungi dirinya. "Ndak, Mas. Embun ndak mau. Maaf, Mas... Embun belum pernah melakukan itu. Tolong jangan lakukan itu ke Embun, Mas," pintanya dengan suara bergetar, penuh harap.

Laksa hanya tersenyum kecil, lalu tertawa ringan. Reaksi Embun sungguh tak terduga baginya. Wanita yang dicintainya ternyata memiliki kepolosan yang begitu memikat. Laksa merasakan perasaan itu semakin kuat, membuatnya kian jatuh hati. Dengan lembut, ia mengusap kepala Embun, berusaha menenangkannya. "Embun... Aku bukan lelaki sekejam itu," ucapnya lembut, penuh kehangatan.

Embun tiba-tiba menangis terisak, tangisannya terdengar begitu memilukan. Entah karena lega mengetahui kekhawatirannya itu keliru, atau justru karena perasaannya terluka akibat gurauan Laksa yang dirasanya terlalu jauh. Ia menutupi wajahnya dengan kedua tangan, berusaha menyembunyikan kesedihannya. Dalam hatinya, Embun sempat diliputi ketakutan yang mendalam, membayangkan kemungkinan Laksa akan melakukan sesuatu yang melampaui batas. Rasa takut itu masih membekas, membuatnya semakin rapuh.

Laksa merasa bersalah melihat ketakutan di wajah Embun. Dengan hati-hati, ia menangkup kedua pipi wanita itu, menatapnya penuh kelembutan. "Astaga, maafkan aku, ya. Aku hanya bercanda, Bun. Kamu enggak berpikir aku akan benar-benar melakukan itu, kan?" katanya pelan, berusaha menenangkan.

"Bisa jadi, kan, Mas? Dari kemarin-kemarin Mas Laksa selalu bisa memaksa cium Embun," ucapnya di sela isak tangis, suaranya penuh getir. "Padahal Embun belum pernah berciuman sebelumnya. Embun takut, sekarang Mas Laksa malah mau lebih dari itu..." lanjutnya dengan suara lirih.

Laksa menghela napas panjang, semakin merasa bersalah. "Astaga, Embun... Aku benar-benar minta maaf kalau kamu masih menyimpan luka karena kejadian itu. Sungguh, aku enggak pernah berniat melakukan itu. Semua terjadi begitu saja, tanpa sengaja," ujarnya lembut, mencoba meredakan tangis Embun. "Bun, maaf ya. Jangan nangis lagi, please. Kalau Oma sampai tahu, dia pasti marah besar."

"Biarin saja, biar Mas Laksa dimarahi Oma," ucap Embun dengan nada kesal.

"Ih, kayak anak kecil aja ngambeknya. Sudah, dong... Aku benar-benar minta maaf. Janji, deh, enggak akan ulangi lagi," jawab Laksa sambil tersenyum kecil, mencoba meluluhkan hatinya.

Embun menatapnya dengan mata yang masih basah. "Awas kalau Mas Laksa goda Embun lagi," ancamnya, meski suaranya terdengar parau karena sesenggukan.

"Iya, iya... Sudah, ayo siap-siap," ujar Laksa, mengalihkan pembicaraan.

"Mau ke mana?" tanya Embun, bingung.

"Kita ke Semarang hari ini." 

"Tapi Mas Laksa bilangnya besok..." 

"Kita pergi sekarang," katanya tegas sambil tersenyum.

"Wah, ayo Mas!" sahut Embun, mendadak girang.

Tak menunggu lama, mereka segera mengemas barang-barang, lalu berangkat ke bandara dengan diantar Pak Miko.

***

Penerbangan dari Jakarta menuju Semarang terasa begitu istimewa bagi Laksa dan Embun. Mendapatkan tempat duduk yang berdekatan dengan jendela membuat Embun dengan leluasa memandang awan-awan putih yang seolah berkejaran di luar sana. Ini adalah pertama kali bagi Embun menaiki pesawat terbang. Karena keterbatasan biaya, sebelumnya ia selalu memilih perjalanan darat saat pergi ke Jakarta atau kembali dari sana. Sesekali ia melirik Laksa yang duduk di sampingnya--sedang sibuk menatap layar kecil di depannya. Senyuman kecil terbit di wajah Embun. Ia tak menyangka akan melakukan perjalanan dengan orang yang kini dicintainya. Embun tak sabar segera sampai di kampung halamannya. Ia ingin secepatnya memperkenalkan pria tampan yang menjadi atasannya itu kepada keluarganya.

Laksana Embun ( On Going Dan Proses Revisi )Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang