Hari ini, layar televisi dihiasi dengan wawancara Zivanya yang membahas tudingan perselingkuhan Laksa. Ucapannya, yang sarat manipulasi dan permainan retorika, berhasil membelokkan fakta, memancing gelombang simpati dari netizen. Namun bagi Laksa, langkah Zivanya itu tak ubahnya menambahkan minyak ke dalam kobaran api. Amarahnya kian membara, terlebih saat Zivanya dengan percaya diri mengumumkan rencana pernikahan mereka di depan publik. Seolah hubungan mereka nyata adanya.
Selesai menyaksikan siaran itu, kesabaran Laksa akhirnya mencapai batasnya. Ia meraih ponselnya dengan gerakan tergesa, menekan nomor Zivanya tanpa ragu.
"Halo, Laksa..." Suara Zivanya terdengar ceria, seolah tak ada masalah yang melibatkan mereka. "Aku nggak nyangka kamu bakal telepon aku duluan.
Laksa langsung menukas, tanpa basa-basi. "Kamu gila, ya? Apa yang kamu sampaikan ke wartawan? Kamu sengaja mau bikin masalah ini semakin rumit?"
"Oh, soal itu..." Zivanya terkekeh kecil, mencoba terdengar tak bersalah. "Aku minta maaf, ya. Aku bisa jelasin, kok. Bagaimana kalau kita nge-date? Sekalian bicarain masalah ini."
"Apa kamu bilang? Nge-date? Kamu udah gak waras?"
"Laksa... Jangan emosi terus, dong. Aku cuma ingin kita ngobrol santai."
"Kamu lupa, ya? Kita udah gak ada hubungan apapun, Zivanya. Jadi stop membuat berita palsu."
"Oke... Oke. Maaf... Aku cuma ingin kita makan bersama. Setidaknya, sekali saja."
"Aku sudah punya kekasih, Vanya. Dan kamu tahu? Karna ulah kamu ini, hubungan aku sama Embun bisa hancur."
Zivanya terdiam sejenak. Hatinya terasa perih, karena belum percaya tentang Laksa yang benar-benar sudah melupakannya.
"Baik, Laksa... tenang dulu. Aku akan buat klarifikasi. Tapi setelah kita makan siang bersama, gimana?"
"Aku nggak ada waktu buat basa-basi, Vanya. Aku mau kamu bikin klarifikasi tanpa syarat."
"Ajak Embun juga..."sanggahnya cepat. "Kamu boleh ajak Embun. Aku janji setelah itu akan buat jumpa pers."
Laksa terdiam sejenak, sebelum berkata dingin, "Apa aku bisa percaya sama janjimu?"
Zivanya tertawa kecil. "Laksa, sesusah itukah kita saling percaya? Kita pernah saling mencintai. Apa nggak ada sedikit pun perasaan yang tersisa buatku?"
"Iya, kita pernah saling mencintai. Jauh sebelum kamu berhianat." Suara Laksa tajam, menusuk tanpa ampun. "Dan kamu sendiri yang merusak kepercayaanku."
Zivanya menghela napas, suaranya terdengar lebih lemah. "Aku minta maaf. Aku tahu aku pernah melakukan kesalahan besar. Tapi aku mohon... Untuk kali ini, kembalilah padaku, Laksa."
"Menurutmu, apa aku masih punya alasan untuk kembali?" balas Laksa datar. "Aku tidak mau berdebat. Sekarang, tunjukkan janjimu untuk klarifikasi."
Sambungan telepon terputus tiba-tiba. Laksa menutupnya tanpa ragu, meninggalkan Zivanya dengan rasa sakit hati yang membara.
Di sisi lain, Zivanya terduduk diam, jari-jarinya menggenggam ponsel dengan erat. Matanya menyala dengan kemarahan yang dingin, penuh dendam. Penolakan itu menjadi bahan bakar bagi pikirannya yang mulai merancang rencana balasan. Apa pun caranya, ia tidak ingin menyerah.
***
Keesokan harinya, langit terlihat cerah, tapi suasana hati Embun tak sepenuhnya selaras dengan cuaca. Di depan cermin, ia mematut diri, memastikan riasannya sempurna dengan dress yang melekat indah di tubuh mungilnya. Hari ini, ia ingin terlihat lebih menarik, meskipun ia tahu kecantikan Zivanya sulit ditandingi. Namun, bukan itu tujuannya. Embun hanya ingin memberikan yang terbaik, setidaknya untuk dirinya sendiri, dan tentu saja untuk Laksa.
KAMU SEDANG MEMBACA
Laksana Embun ( On Going Dan Proses Revisi )
RomanceLaksa, mengalami trauma jatuh cinta akibat dihinati pacarnya, Zivanya. Ia rela menyelingkuhi Laksa dengan seorang sutradara demi mengejar karirnya sebagai artis. Akibatnya, Laksa selalu menolak perjodohan yang diatur oleh neneknya, Oma Tari. Sampai...
