Bab 8 kehangatan

59 41 0
                                        

Sudah baca sampai sini? Follow dulu dong... Biar kamu dapat notif tiap author up-date.

Votenya juga, jangan pelit. Selamat membaca...!

.

.


"Pak Miko, tolong mampir ke minimarket dulu ya, Embun pengen beli jajan," kata Embun, menunjuk minimarket di kejauhan.

Laksa mendengus. "Loe kayak anak kecil aja beli jajan."

Embun meliriknya. "Embun pengen ngemil, Mas. Memang cuma anak kecil saja yang boleh ngemil?"

Pak Miko membelokkan mobil ke kiri. Area parkir penuh, jadi ia memarkir agak jauh. "Silakan, Mbak."

"Cepet ya, kalau lama gue tinggal," seru Laksa, melipat kedua tangannya di dada.

Embun mencebik, lalu melangkah keluar. Pak Miko melirik Laksa dari kaca spion. "Den Laksa kok masih saja galak sama Mbak Embun. Saya pikir sudah mulai suka. Hehehe..."

Laksa membuang muka ke jendela. "Kalau saya gak galak, bisa-bisa Embun yang jatuh cinta," gumamnya, lebih pada dirinya sendiri.

"Bagus kan, Den?" Pak Miko tertawa kecil. "Memangnya Den Laksa ndak suka sama Mbak Embun?"

"Pak Miko kepo aja," jawab Laksa, meskipun sudut bibirnya sedikit tertarik ke atas. Ia baru ingat perlu uang tunai. "Oh ya Pak, saya lupa kalau lagi butuh uang cash. ATM masih jauh gak ya, Pak?"

Pak Miko menoleh ke sekeliling. "Oh itu Den, sepertinya di dalam minimarket ada ATM."

"Emm baik Pak, saya masuk dulu sebentar."

Pak Miko menatap langit yang mulai gelap. "Tapi Den, ini mendung gelap banget. Sepertinya mau hujan. Apa lebih baik kita ke bank saja?"

"Gak usah Pak, di sini aja. Saya cuma sebentar kok," sahut Laksa, membuka pintu mobil.

"Den Laksa yakin ndak apa-apa?"

"Gak papa Pak, sebentar aja. Saya lari kok," jawab Laksa, menutup pintu dan berlari kecil ke arah minimarket.

Pak Miko menggeleng pelan, lalu menatap langit lagi. Mendung semakin pekat, angin bertiup lebih kencang. Perasaan khawatir mulai menyelimutinya. Ia melihat Laksa berpapasan dengan Embun di depan minimarket.

"Mas Laksa mau ke mana?" tanya Embun, sedikit berteriak karena angin mulai berhembus kencang.

"Gue ke ATM dulu bentar!" balas Laksa sambil berlari masuk.

Embun bergegas kembali ke mobil. Pak Miko terus memandang langit. Tetes hujan mulai jatuh. Ia menghela napas. "Aduh, Mbak, ini beneran hujan," ujarnya pada Embun yang baru masuk mobil.

"Iya Pak, kenapa tiba-tiba deras ya?" sahut Embun, menatap ke luar jendela.

"Mbak, ini ndak baik buat Den Laksa."

"Ah, Pak Miko berlebihan. Mas Laksa kan sudah besar, Pak. Dia bisa lari ke sini," kata Embun, meskipun nadanya sedikit khawatir.

"Masalahnya, Den Laksa ada trauma, Mbak. Ini bisa bahaya kalau traumanya sampai kambuh."

"Trauma sama hujan?" tanya Embun, mengerutkan dahi.

Pak Miko mengangguk. "Saya jemput Den Laksa dulu, Mbak." Ia meraih payung dan keluar dari mobil.

Laksa keluar dari minimarket, tepat saat hujan deras mengguyur. Ia berhenti di depan pintu, menatap hujan yang tiba-tiba turun dengan tatapan kosong. Suara gemuruh petir dan derai hujan membangkitkan kenangan yang selama ini ia kubur dalam-dalam. Dadanya sesak, napasnya tercekat. Kilasan guyuran hujan membasahi mobil yang terbalik, orang tuanya yang terpental hingga keluar mobil dan darah yang mengucur membanjiri aspal kembali menghantuinya. Kakinya terasa lemas, ia hampir terjatuh.

Laksana Embun ( On Going Dan Proses Revisi )Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang