Bab 33 Lamaran

32 36 1
                                        

Malam itu di rumah Embun, kedatangan orang tua Raka terasa bagai badai yang siap menerjang. Bayangan lima tahun lalu, saat Juragan Sastro datang dengan amarah dan tuntutan, kembali menghantui. Bu Fatma meremas tangannya, Pak Sumito mengusap keringat di dahinya. Kecemasan menyelimuti seisi rumah.

Juragan Sastro dan Nyonya Sastro duduk di ruang tamu yang sederhana. Kontras antara perabotan kayu yang usang dengan pakaian mewah mereka semakin mempertegas perbedaan status. Bu Fatma menyuguhkan kopi dengan tangan gemetar.

"Maaf Juragan," suara Bu Fatma terdengar bergetar, "Saya sudah melarang Embun untuk mendekati Raka. Tapi, mereka anak-anak. Mungkin hanya berteman..."

Juragan Sastro terkekeh rendah. "Bu Fatma, apa yang Ibu khawatirkan? Saya datang ke sini bukan untuk melarang mereka bermain."

Kerutan di dahi Bu Fatma dan Pak Sumito semakin dalam. Mereka saling bertukar pandang, kebingungan terpancar di mata mereka.

"Jika begitu, apa maksud kedatangan Juragan?" tanya Pak Sumito dengan hati-hati.

Juragan Sastro menyesap kopinya perlahan, matanya menyapu ruangan. "Pak... Buk. Sebelumnya, kami mohon maaf atas kejadian lima tahun lalu. Kami sadar, kami terlalu angkuh dan sombong. Tapi, waktu membuktikan, usaha kami sia-sia. Raka dan Embun tetap berteman."

Nyonya Sastro mengangguk, senyum tipis terukir di wajahnya. "Benar, Bu Fatma. Kami menyesal telah menyakiti perasaan Embun dan kalian. Karena itu, kami datang ke sini untuk... melamar Embun."

Mata Pak Sumito dan Bu Fatma membelalak. Embun, yang mengintip dari balik pintu kamarnya, membeku di tempatnya. Kata-kata itu bagai petir di siang bolong.

"Juragan, kami sangat berterima kasih atas niat baik ini. Tapi, kami hanyalah keluarga biasa. Kami merasa tidak pantas..." Pak Sumito berusaha mencari kata-kata yang tepat.

Juragan Sastro menyela dengan nada datar. "Memang benar. Sejujurnya, saya juga tidak menginginkan ini. Tapi, apa yang bisa saya lakukan? Ini permintaan anak saya satu-satunya. Ia harus segera menikah agar bisa meneruskan usaha saya. Dan syaratnya... ya, kami harus melamar Embun."

"Tapi, Juragan, kami perlu bicara dengan Embun. Keputusan ini ada di tangannya," sahut Bu Fatma.

"Tidak perlu. Kalian orang tuanya. Seharusnya ia menurut. Oh ya," Juragan Sastro menatap Pak Sumito dengan tajam, "Saya berencana membeli sawah yang kalian sewa. Jika kalian menolak lamaran ini, saya terpaksa menyewakannya pada orang lain."

Wajah Pak Sumito pucat pasi. "Jangan, Juragan... Sawah itu satu-satunya mata pencaharian kami. Sewanya pun paling murah dibandingkan yang lain. Jika Juragan menyewakannya pada orang lain..." Suaranya tercekat.

Juragan Sastro terkekeh. "Tentu saja kamu benar. Tapi kamu tidak perlu khawatir. Jika nanti Raka menikah dengan Embun, aku akan memberikan sawah itu sebagai mahar. Jadi kamu tidak perlu menyewanya lagi. Bagaimana?"

Bu Fatma dan Pak Sumito terdiam, merasa terpojok. Di tengah ketegangan itu, Nyonya Sastro menatap suaminya dengan sedikit khawatir. Ia meletakkan tangannya di lengan Juragan Sastro, mencoba memberikan isyarat untuk meredakan suasana. "Pa, jangan bicara seperti itu. Kita datang ke sini dengan niat baik," bisiknya pelan. Namun, Juragan Sastro hanya mengabaikannya.

Embun, yang mendengar segala pembicaraan itu, merosot ke lantai. Lututnya membentur ubin dingin. Air mata menggenang di pelupuk matanya, kemudian tumpah, membasahi pipinya. Dadanya sesak, setiap tarikan napas terasa berat. Ia memeluk lututnya, mencoba meredam gemuruh di dadanya. Bayangan sawah yang menghidupi keluarganya melintas di benaknya. Ia tak punya pilihan lain. Lamaran Juragan Sastro adalah satu-satunya jalan. Sentuhan dingin ponsel di genggamannya terasa hampa. Panggilan dan pesan yang ia kirim untuk Laksa tak kunjung berbalas. Rasa diabaikan semakin memperburuk kepedihannya.

Bahu Bu Fatma terkulai, garis-garis wajahnya semakin dalam, membentuk guratan kesedihan yang kentara. Ia menatap lantai dengan mata kosong. Sementara  Pak Sumito memijat pelipisnya. Mereka merasa terjebak. Tidak ada jalan keluar.

"Bu Fatma tidak perlu khawatir. Raka dan Embun kan sudah bersama sejak kecil. Kalau mereka menikah, pasti akan bahagia," ujar Bu Nima, senyumnya dipaksakan.

Juragan Sastro menimpali, nadanya merendahkan. "Benar kata istri saya. Kalian juga tidak mau kan, jika anak kalian menjadi benalu dalam hubungan orang. Sudah tepat Embun memilih kembali ke desa ini. Jika tidak, dia hanya akan mengganggu hubungan percintaan bosnya."

Pak Sumito menarik napas dalam, mencoba menenangkan diri. "Baik, Juragan. Kami akan segera memberi jawaban setelah bicara pada Embun."

"Baiklah... kalau begitu, kami permisi dulu." Juragan Sastro tersenyum tipis, namun matanya menyiratkan ancaman. "Aku harap, kalian tidak salah dalam mengambil tindakan."

Mereka pergi, meninggalkan keheningan berat di rumah Embun. Bu Fatma bergegas menuju kamar Embun. Ia mendorong pintu kamar dengan kasar dan melihat Embun terduduk di lantai, bahunya bergetar hebat. Isak tangisnya memecah keheningan.

Bu Fatma berlutut di samping Embun, tangannya dengan lembut mengusap punggung putrinya yang bergetar. "Ndok... Apa kamu sudah mendengar semuanya?"

Embun mengangguk kecil, wajahnya basah oleh air mata. Ia menatap ibunya dengan mata sembab.

"Embun... Ibuk tidak akan menerima lamaran itu kalau kamu memang tidak mau," kata Bu Fatma, suaranya bergetar.

Embun menggeleng lemah. "Tidak, Buk. Terima saja lamaran itu. Kalau tidak, Bapak akan kehilangan mata pencahariannya," bisiknya di antara isak tangisnya.

Bu Fatma memeluk Embun erat. Air matanya ikut tumpah, membasahi rambut putrinya. "Maafkan Ibuk, Ndok. Kamu jadi harus berkorban seperti ini."

Embun membalas pelukan ibunya, air matanya semakin deras. "Tidak, Buk. Mungkin apa yang dikatakan Juragan Sastro benar. Di Jakarta, Embun hanya akan menjadi perusak untuk masa depan Mas Laksa. Seharusnya dari dulu Embun sadar, Embun tidak pantas untuk Mas Laksa," ucapnya tersendat-sendat.

"Sudah, Ndok," kata Bu Fatma, mencoba menenangkan putrinya. "Besok Ibuk akan ke rumah Juragan Sastro untuk memberi jawaban."

Embun hanya mengangguk pelan. Setelah Bu Fatma keluar, Embun meraih ponselnya. Ia mencoba menghubungi Laksa berkali-kali, namun hanya suara operator yang terdengar. Ia memejamkan mata, air matanya terus mengalir. Dengan jari gemetar, ia mengetik sebuah pesan perpisahan:

"Mas Laksa, maaf kalau Embun pernah merepotkan. Terima kasih sudah membuat Embun merasa berarti, meski hanya sebentar. Mulai sekarang, Embun tidak akan mengganggu lagi. Semoga Mas selalu bahagia."

Embun menekan tombol "kirim", lalu memblokir nomor Laksa. Ia menatap ponselnya kosong, tangannya bergetar. Ia mencoba melupakan, meskipun tahu itu akan sangat sulit. Kini, hanya kepasrahan yang ia rasakan, mencoba melepaskan Laksa dengan ikhlas.

***

To be continued...

Laksana Embun ( On Going Dan Proses Revisi )Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang