Bab 29 Harus Melepaskan

30 37 0
                                        

Vote dulu biar enggak lupa!

.

.

.

Beberapa hari telah berlalu sejak rekaman viral itu. Video berdurasi 30 detik yang memperlihatkan Embun dilempari telur dan tomat busuk tersebar luas di media sosial. Berita tentang cinta segitiga antara dirinya, Laksa, dan Zivanya memenuhi linimasa, membuat nama Embun jadi bahan gunjingan.

Di sebuah rumah sederhana di kampung, TV sudah menyala meski hari masih pagi. Suara presenter gosip yang menyebut nama Embun membuat Bu Fatma menggenggam erat gelas kopinya. Cairan panas menyentuh jarinya, tapi ia bahkan tak merasakannya. Di sudut ruang, Pak Sumito menghentikan tangannya yang tengah memperbaiki cangkul. Ia mendesah berat.

"Embun lagi... Apa yang anak itu lakukan?" gumam Bu Fatma. Matanya berkaca-kaca. Ia meletakkan gelas dengan tangan gemetar, lalu meraih ponsel di meja.

Di tempat lain, Embun sedang duduk di sofa apartemennya. Telepon ibunya masuk, suara berdering membuatnya terkejut. Dia menatap layar ponselnya sesaat, ragu untuk menjawab. Akhirnya, ia menggeser layar ke atas.

"Halo, Buk," jawabnya, mencoba terdengar tenang.

Suara Bu Fatma terdengar bergetar di ujung sana. "Endok, kabarmu baik-baik saja, Nak?"

Embun mengerutkan kening. "Baik, kok. Memangnya ada apa, Buk?"

Hening sejenak. Suara dari TV gosip di rumah mereka seolah ikut menunggu jawaban. Akhirnya, Bu Fatma berbicara, pelan namun menusuk. "Yang ada di berita itu, apakah itu kamu? Apa kamu memacari bosmu, Nak?"

Embun terdiam. Kakinya tanpa sadar menyentuh lantai dingin, berusaha mencari keseimbangan. Dia tahu pertanyaan ini akan datang, tapi mendengarnya langsung membuat lidahnya kelu.

"Ibuk..." suaranya hampir tak terdengar. "Itu semua hanya salah paham. Mas Laksa itu single, Buk. Embun ndak merebut siapa-siapa."

Namun, jawaban itu tak membuat Bu Fatma lega. "Ndok, kamu ini bagaimana? Sudah ibuk bilang, jangan pacaran! Apalagi sama bosmu. Ndak pantas! Kita ini siapa, Nak? Orang kampung, miskin. Jangan sampai kejadian kamu sama Raka dulu terulang lagi."

Embun menggigit bibirnya, kenangan lama menghantam keras. Kenangan saat orang tua Embun di labrak oleh Juragan Sastro yang mengira ia berpacaran dengan Raka, anaknya. Orang tua Embun dihina habis-habisan. Bahkan warga turut andil dalam meremehkan keluarganya. Embun dianggap sebagai wanita tak tau malu karena berani mendekati anak orang kaya. Matanya mulai berkaca-kaca. Ia berusaha tetap tenang, tetapi suara ibunya semakin pecah.

"Ibuk ini sudah cukup dihina warga, Ndok. Sekarang kamu membuat gosip lebih besar dari pada sebelumnya. Kamu mau Ibuk sama Bapak menanggung malu apa lagi, hah?"

Air mata Embun mengalir deras. Tangannya mengepal hingga kuku menekan telapak tangannya. "Buk, maaf... Embun ndak bermaksud begitu..."

Namun permintaan maaf itu tak mampu menghapus kerisauan di hati Bu Fatma. "Pulang saja, Ndok. Kalau kamu tetap di sana, warga akan terus membicarakan kita."

Panggilan itu berakhir tanpa banyak kata lagi. Embun memandang ponselnya, layar yang kembali gelap seperti hatinya yang hampa.

***

Malam itu, Embun duduk di kamarnya. Koper besar berdiri di samping lemari. Ia menatap koper itu lama, tetapi tak bergerak. Pandangannya kosong, pikirannya penuh dengan suara ibunya yang terus terulang.

Setelah lama menimbang, Embun akhirnya mengambil keputusan. Meski dengan hati yang bimbang, ia menarik kopernya keluar kamar.

Dari arah pintu, terdengar suara langkah mendekat. Tombol kode apartemen dipencet, dan beberapa detik kemudian pintu terbuka.

Laksana Embun ( On Going Dan Proses Revisi )Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang