Bab 25 Playing Fictim

34 39 3
                                        

Siang itu, aroma gurih steak panggang memenuhi udara restoran yang nyaman, tak jauh dari kantor. Laksa dan Embun duduk di meja dekat jendela, cahaya matahari masuk melalui tirai tipis, menyinari wajah mereka yang sesekali tertawa kecil di sela-sela makan siang.

Embun menikmati makanannya dengan lahap, matanya berbinar setiap kali mencicipi potongan steak di piringnya. Namun, tanpa ia sadari, sedikit bumbu kecokelatan menempel di sudut bibirnya. Laksa memperhatikan hal itu sembari tersenyum tipis.

"Tunggu sebentar..." ujar Laksa lembut, menghentikan gerakan tangan Embun yang hendak mengambil potongan berikutnya. Ia meraih ibu jarinya ke arah wajah Embun, lalu menyeka sudut bibir wanita itu dengan gerakan lembut dan hati-hati.

Embun membeku sejenak. Jantungnya terasa berdetak lebih cepat ketika matanya bertemu dengan tatapan teduh Laksa. Tak ada kata yang terucap, hanya kehangatan yang mengalir di antara mereka. "Makasih, Mas," gumam Embun akhirnya, dengan suara pelan dan senyum tersipu yang menghiasi wajahnya.

Laksa hanya mengangguk, membalas senyumnya dengan penuh cinta. Seolah ingin memperpanjang momen tersebut, ia mengambil pisau dan garpu, memotong steaknya menjadi potongan kecil. Dengan santai, ia mengangkat garpu itu ke arah Embun.

"Aakk... buka mulutmu," pintanya ringan, seperti memberi makan seorang anak kecil.

Embun terdiam sejenak, matanya melirik ke sekeliling. Restoran itu cukup ramai, dan beberapa pengunjung di meja lain tampak sesekali melirik mereka.

"Mas... ndak perlu. Di sini banyak orang. Embun malu, ah..." bisiknya, wajahnya memerah.

Laksa tidak peduli. Senyumnya tetap lebar, penuh keyakinan. "Embun, nggak papa. Ngapain perduliin mereka? Ayo, buka mulutmu," ujarnya, sedikit memaksa namun tetap lembut.

Keraguan terpancar di wajah Embun, tetapi akhirnya ia menyerah. Dengan perlahan, ia membuka mulutnya, menerima suapan dari Laksa. Hatinya berdebar, tapi ia tak ingin mengecewakan pria yang begitu ia cintai.

Sisa waktu makan siang mereka berlangsung dengan penuh kehangatan. Canda dan tawa ringan menghiasi percakapan mereka, membuat suasana terasa seperti dunia hanya milik mereka berdua. Kini Embun tak lagi peduli pada tatapan orang lain di sekitar.

*** 

Siang yang semula tenang itu mendadak berubah menjadi kekacauan. Laksa dan Embun baru saja melangkah keluar dari restoran ketika segerombolan orang dengan kamera dan mikrofon muncul dari arah parkiran. Blitz kamera menyala-nyala, dan suara langkah mereka tergesa-gesa mendekat, mengurung Laksa sebelum ia sempat mencapai mobil yang dikendarai Pak Miko.

"Laksa! Tolong klarifikasi kabar hubungan Anda dengan Zivanya!" suara pertama menyeruak dari kerumunan, nyaris memotong langkah Laksa.

"Banyak foto Anda berdua beredar akhir-akhir ini! Apa benar Anda sedang menjalin hubungan romantis?" sambung yang lain, mikrofon mengarah tepat ke wajahnya.

Embun, yang berdiri di sisi Laksa, mencoba melindungi dirinya sendiri dari kerumunan yang semakin mendekat. Namun, keberadaannya justru menjadi penghalang. Salah satu wartawan, tanpa sedikit pun rasa peduli, mendorong tubuh Embun ke samping. Ia terhuyung, lalu jatuh, lututnya terhantam keras ke lantai trotoar. Sakitnya terasa menusuk, tetapi lebih perih lagi rasa terabaikan yang muncul dari tatapan dingin orang-orang di sekitar.

"Laksa, apakah benar Anda pacar Zivanya?" pertanyaan demi pertanyaan terus dilemparkan, seolah mereka buta terhadap apa yang baru saja terjadi pada Embun.

Laksa sendiri terkejut. Pandangannya sibuk mencari-cari Embun, mencoba menembus lautan kamera dan mikrofon yang mengelilinginya. Saat akhirnya ia melihat Embun terduduk di pinggir trotoar, ekspresi wajahnya berubah drastis. Tanpa menjawab satu pun pertanyaan wartawan, ia menerobos kerumunan dan mengulurkan tangan untuk menarik Embun berdiri.

Laksana Embun ( On Going Dan Proses Revisi )Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang