Kamu menikmati ceritanya? Sampai lupa untuk follow dan klik bintang.
Ayo balik! Klik bintang di setiap akhir bab. Sebagai apresiasi buat penulis biar makin semangat membuat karya yang bagus dan menarik. Klik akun penulis trus follow. Biar kamu selalu mendapat info setiap kali aku update cerita.
By the way... Thanks ya, udah baca sampai sini. Semoga kalian suka dengan ceritanya. Dan jika ada adegan yang membuat kalian gelisah, yuk komen. Supaya aku bisa membenahi kesalahan dan tidak berulang. So, happy reading...!!!
.
.
.
Laksa membuka pintu apartemen dengan tergesa, nyaris membantingnya. Napasnya memburu, dan matanya langsung menyapu seluruh ruangan. Sofa di ruang tamu kosong, selimut yang biasanya Embun gunakan masih terlipat rapi. Tidak ada tanda-tanda keberadaannya.
"Embun!" serunya, suaranya pecah di tengah keheningan. Langkahnya berat namun cepat, menuju kamar tidur. "Embun, kamu di mana?" Pintu kamar ia dorong, hanya untuk menemukan kasur yang masih rapi tanpa jejak disentuh.
Dia melangkah ke dapur, membuka lemari, laci, bahkan kulkas—seolah berharap menemukan sesuatu yang bisa memberinya petunjuk. Kosong. Ruangan itu begitu sunyi hingga suara detak jarum jam terdengar begitu jelas, menghantam kesadarannya yang kacau.
Ponselnya bergetar di tangan, panggilan yang ia buat terus masuk tanpa jawaban. Ia menatap layar, menunggu dengan sia-sia hingga panggilan itu terputus. Matanya beralih ke jam di pergelangan tangan—pukul dua dini hari. Waktu terus merambat maju, tapi Embun tetap tak ditemukan.
Laksa meremas rambutnya, berdiri mematung di tengah ruangan. Dalam pikirannya, kilasan-kilasan peristiwa di klub tadi berkelebat. Embun pergi tanpa sepatah kata, meninggalkannya bersama Zivanya. Apa yang Embun lihat? Apakah ia marah?
"Aku tak seharusnya membiarkannya sendirian," sesal Laksa dalam hati, suaranya teredam oleh rasa bersalah. Wajah Embun terbayang jelas, membuat dadanya sesak. Bayangan terburuk terus menghantuinya: bagaimana jika sesuatu terjadi pada Embun? Bagaimana jika ia terluka karena kecerobohannya?
Ia menghentak langkah menuju jendela, mengamati kota yang terhampar dalam gelap. Jakarta yang berkilauan tiba-tiba terasa begitu asing, begitu dingin. Laksa terus bertanya di mana keberadaan Embun sekarang? Embun tak punya siapa-siapa di kota ini, kecuali dirinya dan Oma Tari.
Sebuah ide menyala dalam benaknya. Oma Tari. Mungkin dia di sana. Tanpa berpikir panjang, Laksa memakai kembali jas yang tergeletak di sofa lalu bergegas keluar, langkahnya penuh rasa bersalah yang terus menghantui.
Laksa meraih ponsel dari saku jasnya, hendak mencari kontak Oma Tari sebelum pergi ke rumahnya. Namun, tepat saat itu, sebuah pesan dari nomor tak dikenal masuk.
Sebuah video. Laksa menekannya, membukanya.
Bagai disambar petir, video itu menampilkan Embun yang agresif mencium Sebastian. Laksa membeku. Ia tak percaya. Bagaimana mungkin Embun, wanita polos yang ia kenal, berani mencium seorang pria lebih dulu? Terlebih lagi, ia melakukannya tanpa ragu sedikit pun.
Napas Laksa mulai terengah, emosi memuncak dalam dirinya.
Dengan tangan gemetar, Laksa membuka video berikutnya. Tubuhnya terhuyung mundur hingga terduduk di lantai. Mulutnya menganga, matanya melebar, air mata menggenang di pelupuknya. Video kedua tak kalah mengejutkannya. Embun mendekati Sebastian di sebuah kamar, lalu dengan agresif memeluk serta menciumnya. Embun bahkan membuka bajunya sendiri, menyingkirkan kemeja Sebastian yang menghalangi tubuh mereka.
KAMU SEDANG MEMBACA
Laksana Embun ( On Going Dan Proses Revisi )
RomanceLaksa, mengalami trauma jatuh cinta akibat dihinati pacarnya, Zivanya. Ia rela menyelingkuhi Laksa dengan seorang sutradara demi mengejar karirnya sebagai artis. Akibatnya, Laksa selalu menolak perjodohan yang diatur oleh neneknya, Oma Tari. Sampai...
