Sementara Laksa terpaku di tempatnya, menyaksikan gadis yang selama ini mengisi hatinya berada dalam pelukan pria lain. Dadanya bergemuruh, namun tak sepatah kata pun keluar dari bibirnya. Hanya sorot matanya yang berbicara--mencampurkan kebingungan, kepedihan, dan luka yang tak terucapkan. Di benaknya, satu pertanyaan berulang tanpa henti, "Siapa pemuda ini?"
Raka, pria yang kini tengah melepas rindu bersama Embun, adalah sosok yang memancarkan kehangatan dan ketenangan. Wajahnya yang manis--dengan garis rahang tegas namun lembut, alis hitam tebal, dan sepasang mata teduh bagai telaga--membuat siapa saja yang menatapnya sulit untuk berpaling. Kulitnya bersih, sedikit kecokelatan karena sering turun ke sawah, kontras dengan pakaian rapi yang selalu dikenakannya, mencerminkan keseimbangan antara kerja keras dan gaya hidupnya yang berkecukupan.
Laksa baru tersadar, ia tak pernah bertanya sebelumnya apakah Embun memiliki kekasih atau tidak. Kini, kecemburuan menyelimuti hatinya, menguasai setiap pikiran dan perasaannya. Sungguh tak terduga, bahkan dalam benaknya pun ia tak pernah membayangkan akan menghadapi seorang pesaing di desa ini.
Merasa diabaikan oleh Embun, Laksa melangkah pergi dengan hati yang dipenuhi amarah yang membara dan cemburu yang tak terbendung. Langkahnya berat, seolah setiap jejak yang ditinggalkan membawa luka yang semakin dalam. Ia mengurung diri di kamar, membiarkan kesunyian menjadi sahabat sepi yang pahit.
Sementara itu, Embun tetap larut dalam tawa dan percakapan dengan Raka, tak sedikit pun menyadari bahwa kepergian Laksa meninggalkan bayangan perih yang tak terucapkan.
"Kamu kenapa ndak bilang kalau mau pulang kampung? Aku kan bisa jemput kamu di bandara," protes Raka pada Embun.
"Maaf, ini mendadak sekali. Bosku tiba-tiba mengajakku ke sini," ujar Embun sambil tersenyum tipis. Setelah menyebut bosnya, ia baru tersadar sesuatu. "Oh ya, aku lupa mengenalkan kamu. Ini..."
Kata-katanya terhenti ketika ia menoleh ke belakang. Laksa sudah tak ada di sana. "Loh... Mas Laksa ke mana?"
"Siapa?" tanya Raka penasaran.
"Mas Laksa, bosku. Dia yang barusan duduk di sini bersamaku," jelas Embun kebingungan.
Raka tersenyum tipis, menyembunyikan kegembiraan di balik sikap tenangnya. "Biarkan saja, mungkin dia sudah pergi untuk beristirahat. Mungkin saja dia lelah." Tanpa menunggu jawaban, ia menggenggam tangan Embun dengan lembut dan mengajaknya duduk di teras, tepat di tempat Laksa sebelumnya. "Sini, duduklah. Aku rindu sekali padamu, Bun."
Embun tertawa kecil. "Iya... Aku juga rindu," jawabnya dengan suara yang datar. Seolah kata rindu bukanlah hal yang istimewa bagi Embun."Kamu sibuk apa saja di sini?"
"Aku hanya membantu usaha Ayah," jawabnya cepat. Kemudian, Raka menatap mata Embun dalam. "Aku serius, Bun. Aku hampa, menjalani hari-hari di sini tanpa kamu."
"Ah, dasar. Gombal terus. Kamu ndak kuliah ke kota?" tanya Embun, berusaha mengalihkan pembicaraan.
Raka tersenyum masam. Tanggapan dari Embun tentang perasaanya memang selalu berakhir seperti sebuah candaan semata. "Ndak, aku malas belajar. Lagipula, nanti aku tetap akan mewarisi usaha Ayah."
"Enak banget, ya, jadi kamu. Ndak perlu repot memikirkan masa depan. Beda sama aku yang harus bekerja keras setiap hari."
Raka Wijaya, pewaris tunggal kekayaan keluarga Juragan Sastro tinggal di ujung desa yang di kelilingi sawah hijau terbentang luas. Di sana, berdiri sebuah rumah joglo yang megah. Menjadi pemilih tanah yang berhektar-hektar serta pengusaha hasil bumi, membuat Raka dan keluarganya disegani oleh masyarakat desa. Tak hanya kekayaan keluarganya yang menjadi buah bibir, pesona Raka juga tak luput dari incaran para gadis di desa itu. Sayangnya, dia hanya menaruh hati pada Embun yang berasal dari keluarga sederhana.
KAMU SEDANG MEMBACA
Laksana Embun ( On Going Dan Proses Revisi )
RomanceLaksa, mengalami trauma jatuh cinta akibat dihinati pacarnya, Zivanya. Ia rela menyelingkuhi Laksa dengan seorang sutradara demi mengejar karirnya sebagai artis. Akibatnya, Laksa selalu menolak perjodohan yang diatur oleh neneknya, Oma Tari. Sampai...
