Bab 4 Benih cinta

105 54 42
                                        

Sebelum lupa, klik tanda bintang dulu...

.

.

.


Embun terlihat sempoyongan, langkahnya goyah saat membawa dua kardus besar berisi contoh masakan. Tangannya sedikit gemetar, namun ia tetap berusaha keras untuk menyeimbangkan beban hingga akhirnya sampai di area basement. Peluh mulai membasahi dahinya, tapi tekadnya tidak pudar.

Pak Miko, sopir pribadi Laksa, yang tengah berdiri tak jauh, segera menghampiri begitu melihat kondisi Embun. "Sini, Mbak. Biar saya saja yang bawa," ujarnya sambil meraih kardus-kardus itu dari tangan Embun.

"Iya, Pak. Tolong ya," jawab Embun sambil menghela napas lega, melepaskan beban dari tangannya.

Namun, Pak Miko tidak bisa menahan komentar kecilnya. "Mbak kok mau-maunya dikerjain sama Den Laksa, sih?" ucapnya sembari tersenyum samar, setengah bercanda setengah prihatin.

Sementara itu, dari dalam mobil yang terparkir tak jauh, Laksa mengamati kejadian itu dengan puas. Ia bersandar santai, tangan memainkan iPad dengan gerakan yang terkesan sibuk, namun senyum kecil di wajahnya tak bisa disembunyikan. Ia tahu betul bahwa ia sedang mengerjai Embun, dan jelas menikmati hasilnya.

Embun, di sisi lain, tak mampu menyembunyikan kekesalannya. Tatapannya tajam saat ia berjalan menuju mobil, rahangnya mengeras, bibirnya mengerucut. Emosi yang membara dalam dirinya hampir saja meledak, tapi ia memilih menahannya, untuk saat ini.

"Mari, Mbak. Masuk ke dalam," ajak Pak Miko sambil membukakan pintu mobil.

Embun masuk dengan langkah penuh tekad. Tatapannya langsung tertuju pada Laksa, seakan menantangnya dengan jelas. "Jahat banget sih sama perempuan. Tak doain jadi perjaka tua!" gerutunya, suaranya terdengar ketus.

Laksa menoleh cepat. "Apa lo bilang?"

Pak Miko, yang duduk di kursi depan, ikut menimpali sambil cekikikan. "Ndak usah didoain, Den Laksa memang sudah perjaka tua dari dulu, Mbak."

Laksa mendengus, tapi matanya memancarkan sedikit rasa geli. "Saya masih dua puluh tujuh tahun, Pak Miko. Jangan sembarangan ngomong."

Embun tertawa kecil. "Kalau di kampungnya Embun, umur segitu biasanya sudah punya dua anak, Mas."

Laksa menghela napas panjang, lalu berkata sinis, "Ya gue nggak tinggal di kampung, kan."

Pak Miko tak berhenti menggoda. "Ya sudah, ngaku saja kalau memang belum laku, Den."

Embun, yang sebelumnya menahan amarah, kini mulai tak mampu menahan tawa. Bibirnya bergetar, bahunya naik-turun kecil, hingga akhirnya ia meledak juga. "Hahaha! Ya siapa juga, Pak, yang mau sama cowok galak kayak dia!"

Laksa memutar bola matanya, tapi mendadak ia menatap Embun dengan intens. "Lo nggak mau sama gue?" tanyanya tiba-tiba, nada suaranya terdengar setengah menggoda.

Pertanyaan itu membuat Embun tersentak, wajahnya langsung memerah. Ia tertawa kecil, menutupi rasa malunya. "Mau... kalau boleh, hehehe."

Senyumnya yang lebar membuat suasana terasa lebih hangat, sementara Laksa mencoba menyembunyikan cengirannya. Ia membuang muka, tapi jelas terlihat bahwa ia berusaha keras menahan senyum.

Di kursi depan, Pak Miko ikut tersenyum sambil memperkenalkan diri. "Oh iya, Mbak, saya Miko, supir pribadinya Den Laksa."

Embun mengangguk ramah. "Salam kenal, Pak Miko. Terima kasih, ya, tadi sudah bantuin saya."

Laksana Embun ( On Going Dan Proses Revisi )Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang