Bertempat di Majesti club, pesta ulang tahun Sebastian digelar dengan mewah malam ini. Di bawah lampu-lampu neon yang berkilauan, club itu berdenyut seperti jantung yang berpacu cepat. Musik dari DJ menghentak keras, memenuhi setiap sudut ruangan, menggoyangkan tubuh-tubuh yang berbaur di lantai dansa. Asap tipis dari mesin kabut melayang, menciptakan suasana misterius di antara kerumunan orang yang tertawa, bersorak, dan bersulang.
Di tengah ruangan, meja besar dengan dekorasi mewah menjadi pusat perhatian. Balon-balon emas dan perak melayang di atasnya, sementara kue ulang tahun bertingkat dengan lilin menyala menjadi pusat gravitasi semua pandangan. Sebastian, sang pemilik pesta tersenyum dengan lebar. Jas yang digunakannya berkilauan. Ia berdiri di tengah, dikelilingi oleh teman-teman dan rekan bisnis yang memberikan pelukan serta hadiah.
Embun yang baru saja tiba dengan Laksa, berdiri canggung di dekat pintu masuk, tangannya menggenggam erat tangan Laksa. Mata kecilnya menyapu ruangan, terperangkap oleh lampu neon yang berkilauan dan kerumunan yang menari tanpa beban. Dentuman musik terasa seperti mengguncang tulang dadanya, asing dan mengintimidasi.
Bar di sudut ruangan sibuk melayani minuman, gelas-gelas berisi koktail berwarna cerah berpindah dari tangan bartender ke pengunjung. Suara gelas berdenting dan tawa membahana, bersaing dengan dentuman musik. Di lantai dansa, sekelompok orang menari tanpa henti, gerakan mereka menyatu dengan irama bass yang mengguncang.
Tiba-tiba, MC mengangkat mikrofon, memanggil perhatian semua orang. Sorotan lampu mengikuti Sebastian yang kini bersiap untuk meniup lilin. Semua orang bersorak serempak, "Happy birthday!" Sebuah confetti meledak di udara, mengisi ruangan dengan serpihan warna-warni. Sebastian tertawa lepas, wajahnya penuh kebahagiaan.
Namun, di pojok ruangan, seorang wanita dengan gaun hitam elegan memperhatikan keramaian itu dengan pandangan yang sulit ditebak. Dia adalah, Zivanya.
Senyum tipis tersungging di wajahnya, menatap lekat kepada Laksana dan Embun yang tengah berdiri di antara kerumunan. Tatapan matanya menyiratkan sesuatu yang dalam.
Setelah meniup lilin, Sebastian menghampiri Laksa dan Embun yang masih mematung. "Hai Laksa. Kenapa lo berdiri aja? Ayo nikmati pestanya," ajaknya. Ia merangkul Laksa menuju panggung dansa.
"Ahh... Enggak, Bas. Gue lagi sama Embun."
"Hei.. kenapa, Bro?" Sebastian mengalihkan pandangannya pada Embun. "Embun, apa lo ngelarang Laksa buat have fun?"
"Ndak kok Mas. Mas Laksa ndak apa-apa kalau mau ke sana. Embun mau cari tempat duduk saja."
"Tu, kan... Embun asyik, kok. Ayolah Laksa... Ini ulang tahun gue," rayu Bastian.
Laksa menatap Embun, ia tak ingin meninggalkan kekasihnya seorang diri. Di sisi lain, dia merasa tak enak jika harus mengabaikan Sebastian.
"Ndak apa-apa kok, Mas. Silahkan saja ikut Mas Bastian,"pinta Embun.
"Aku hanya akan ke tengah sebentar, kamu duduk aja di sana ya," ujar Laksa.
"Bun... Nikmati pestanya, ya. Di meja sana banyak makanan dan minuman," imbuh Bastian.
Embun mengangguk. "Baik, Mas. Selamat ulang tahun ya..."
Sebastian tersenyum, sembari mengangguk. Setelah Laksa ke tengah bersama Sebastian, Embun mencari tempat duduk yang kosong.
Di tengah lantai dansa, lampu-lampu neon memantulkan warna-warna liar di kulit Laksa yang basah oleh keringat, tubuhnya bergerak selaras dengan dentuman musik. Sebastian ada di dekatnya, senyumnya lepas, tangannya sesekali menyentuh pinggang Laksa, membuatnya semakin tenggelam dalam irama. Namun, di tengah keriangan itu, mata Laksa sesekali melirik ke arah sudut ruangan, tempat Embun duduk dengan kaku di sofa kulit hitam. Wajahnya tampak bingung, seperti tamu yang salah datang ke pesta.
Laksa menghela napas pelan, menyembunyikan rasa bersalah yang mulai mengusik. Namun sebelum ia sempat memutuskan untuk menghampiri Embun, seseorang datang menyentuh lengannya.
"Laksa." Suara itu, tajam dan dingin—membuatnya berpaling. Zivanya berdiri di depannya, gaunnya yang hitam pas badan membuatnya tampak seperti bayangan yang memikat sekaligus mengancam. Matanya menatap langsung, menusuk ke dalam Laksa, seolah ingin mencurahkan kerinduan yang telah lama terpendam.
"Zivanya," jawab Laksa, nada suaranya datar, meski tubuhnya sedikit menegang.
Sebastian melirik mereka berdua, alisnya sedikit naik, tapi ia memilih mundur perlahan, memberikan ruang yang tegang itu untuk keduanya. Laksa berdiri terpaku, mencoba membaca maksud Zivanya. Pandangan Embun kini terlupakan, tersapu oleh badai baru yang berdiri di hadapannya.
"Lama enggak berjumpa. Kamu apa kabar?" Tanya Zivanya, senyumnya merekah.
Laksa menarik napas panjang, merasa tak nyaman dengan kedatangannya. "Baik," jawabnya singkat. Ia menoleh, mencari keberadaan Sebastian yang menghilang tanpa jejak.
Laksa kemudian tersadar, dalam batinnya bicara. 'Apa Sebastian sengaja mempertemukan kami?'
Zivanya menyadari tingkah Laksa yang tak nyaman berada di dekatnya. Ia meraih tangan Laksa tanpa sungkan. "Laksa, aku minta maaf. Maaf tentang kasus kemaren. Apakah kita enggak bisa berhubungan baik, meski bukan pacar?"
Laksa hanya terdiam. Ia mematung menatap Zivanya yang masih menggandeng tangannya.
Di sisi lain, Embun menyaksikan mereka yang terlihat seperti sedang bicara mesra. Perasaan kalut muncul di hatinya. Bersama dengan itu, Sebastian datang menghampirinya.
"Hai Bun. Ello kok diem aja. Gak suka pestanya ya?" Tanya Bastian. Mencoba mengalihkan pandangan Embun terhadap Laksa.
"Ndak kok Mas, Embun suka," jawabnya berkelit. Meski di hatinya merasa tak nyaman dengan situasi ini. Keadaan club ini di luar dugaannya. Sebelumnya dia berpikir, akan menghadiri pesta ulang tahun meriah seperti di sinetron yang biasa dia tonton. Tak di sangka, itu adalah tempat yang bising dan penuh dengan asap rokok.
Sebastian menyodorkan segelas alkohol padanya. "Minum ini. Rasanya enak banget. Ello pasti belum pernah minum ini, kan?"
"Apa ini, Mas?" Tanyanya—menerima gelas itu.
"Champagne, ini minuman mewah. Lo harus cobain."
Embun meminumnya sedikit. "Emm..." Ia mengerutkan kening—menjulurkn lidahnya. "Pahit Mas..." Ujarnya sembari terbatuk kecil.
Sebastian tersenyum puas. Ia baru sadar jika Embun selugu ini. "Ini karena ello baru pertama kali minum. Coba lagi. Setelah itu, lo akan rasakan nikmatnya minuman ini."
"Ndak ah, Mas. Lidah Embun Ndak cocok minum minuman begini."
"Trus, Lo mau minum apa? Biar gue ambilin."
"Apakah ada jus?"
Sebastian terbahak. "Embun... Lo serius mau minum jus di club?"
Senyum Embun seketika menurun. "Kalau gitu, Ndak usah aja Mas."
"Gak papa. Gue minta buatin khusus lo. Tunggu di sini ya."
Embun mengangguk. Pandangannya kembali tertuju pada Laksa yang masih berada di tengah lantai dansa bersama Zivanya. Entah kenapa, hatinya terasa nyeri. Ia memegang dadanya sesaat, lalu meraih kembali gelas champagne yang ada di meja. Ia meneguknya dengan cepat, hingga habis seketika.
Jantungnya berdebar kencang saat melihat Laksa dan Zivanya saling memandang. Rasanya seperti ribuan jarum menusuk dadanya. Bagaimana bisa dia begitu santai dengan mantan kekasihnya? Sementara aku seperti orang bodoh di sini. Pikiran-pikiran negatif memenuhi kepalanya. Ia ingin sekali menghampiri mereka, berteriak, lalu memisahkannya. Tapi, rasa malu dan takut membuatnya terdiam. Ia merasa sangat kecil dan tidak berarti.
Sesaat kemudian, Embun merasakan kepalanya sedikit ringan dan pusing. Tubuhnya terasa hangat, dan wajahnya memerah.
Sebastian yang kembali dengan jus di tangannya, sempat melihat Embun menegak habis champagne itu. Senyum lebar tersungging. Dalam benaknya berkata, 'Sepertinya, pekerjaanku akan mudah...'
***
To be continued...
KAMU SEDANG MEMBACA
Laksana Embun ( On Going Dan Proses Revisi )
RomanceLaksa, mengalami trauma jatuh cinta akibat dihinati pacarnya, Zivanya. Ia rela menyelingkuhi Laksa dengan seorang sutradara demi mengejar karirnya sebagai artis. Akibatnya, Laksa selalu menolak perjodohan yang diatur oleh neneknya, Oma Tari. Sampai...
