Bab 35 Di balik Sebastian

30 2 0
                                        

Hai guys...
Sorry, ya. Baru bisa up-date setelah beberapa hari rehat. Hal itu dikarenakan author sedang tidak enak badan.
Sebentar lagi, Laksana Embun akan tamat.
Doakan author terus sehat, biar bisa up-date dengan cepat.
Thank you... jangan lupa klik bintang dulu!
.
.
.

"Embun… Aku mohon, ikutlah kami kembali ke Jakarta," pinta Laksa, suaranya bergetar. Ia menatap Embun dengan mata memelas, raut wajahnya dipenuhi harap.

Pak Sumito menghela napas berat, memandang Laksa dengan tatapan menyelidik. "Nak Laksa, sebelumnya kami ingin tahu. Bagaimana sebenarnya hubunganmu dengan Zivanya? Warga di sini menganggap Embun sebagai benalu dalam hubungan kalian. Bapak tidak mau Embun disalahkan oleh semua orang."

"Pak," jawab Laksa, mengusap wajahnya dengan kasar. "Saya sudah membuat klarifikasi di depan media. Entah mereka menayangkannya atau tidak. Yang jelas, saya dan Zivanya tidak ada hubungan apa pun. Dia hanya wanita dari masa lalu saya."

Embun menatap kedua orang tuanya, matanya berkaca-kaca. Ia menggigit bibir bawahnya, mencoba menahan air mata. Tatapannya seolah memohon izin tanpa kata.

Pak Sumito mengusap bahu Embun dengan lembut. "Ndok… Ini sepenuhnya pilihanmu. Buatlah keputusan tanpa harus memikirkan kami."

Embun menarik napas dalam. "Pak… Buk… Jika boleh, Embun ingin ikut ke Jakarta bersama Mas Laksa."

Mata Laksa berbinar, senyumnya merekah, memperlihatkan deretan giginya yang putih. Oma Tari mengangguk, garis-garis halus di sekitar matanya semakin terlihat saat ia tersenyum lega.

Bu Fatma menghela napas panjang, matanya berkaca-kaca. "Ya sudah, Ndok. Jika itu keputusanmu, Ibu dan Bapak hanya ingin kamu bahagia."

Embun tersenyum lebar, air mata haru menggenang di matanya. Ia menggenggam erat tangan ibunya, menyalurkan rasa terima kasih dan syukur.

Pak Sumito menepuk bahu Laksa dengan tatapan serius. "Nak Laksa, saya titip Embun. Tolong jangan sakiti hatinya. Bagaimanapun juga, dia sangat berharga bagi kami."

"Iya, Pak. Saya janji akan menjaganya dan tidak akan pernah menyakitinya," jawab Laksa, suaranya mantap. Ia menatap Pak Sumito dengan penuh keyakinan.

Setelah berpamitan dengan haru, mereka bertiga—Embun, Laksa, dan Oma Tari—menuju bandara. Embun melambaikan tangan ke arah kedua orang tuanya yang berdiri di depan rumah, hingga mobil yang mereka tumpangi menghilang dari pandangan.

Tiga puluh menit kemudian, mereka tiba di Bandara Achmad Yani Semarang. Suara riuh pengumuman penerbangan bercampur dengan deru mesin pesawat terdengar memekakkan telinga. Laksa, Oma Tari, dan Embun berdiri di antara kerumunan penumpang yang mengantre untuk boarding. Cahaya mentari sore memantul di antara jendela besar bandara.

Laksa tersenyum lebar, matanya berbinar. Ia baru saja berhasil meyakinkan Embun untuk kembali padanya, sebuah kelegaan yang luar biasa memenuhi dadanya. Namun, di tengah kebahagiaan itu, Oma Tari menarik lengannya pelan. Wajahnya terlihat serius.

"Laksa," panggil Oma Tari dengan suara rendah, nyaris berbisik, "Oma mengatakan ini karena khawatir. Ingat, jangan terlalu percaya pada Sebastian."

Kening Laksa berkerut. Ia menatap Oma Tari dengan bingung. "Memangnya kenapa, Oma? Sebastian itu sudah seperti saudara Laksa sendiri. Dia juga sering main ke rumah sejak SMA."

Oma Tari menghela napas. "Justru karena Oma mengenalnya sejak lama, Oma tahu bagaimana dia sebenarnya." Tatapannya menyiratkan sesuatu yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.

Laksa terdiam. Ucapan Oma Tari membuatnya bertanya-tanya. Apa maksud peringatan ini? Ia menatap Oma Tari, mencoba mencari jawaban di matanya yang teduh namun menyimpan kekhawatiran. Namun, Oma Tari hanya menggeleng pelan, mengisyaratkan agar ia tidak bertanya lebih lanjut. Laksa menghela napas. Untuk saat ini, ia memilih untuk tidak memikirkannya. Ia ingin fokus pada Embun, pada cintanya yang hampir hilang. Ia menggenggam tangan Embun erat, seolah takut gadis itu akan lenyap lagi.

Laksana Embun ( On Going Dan Proses Revisi )Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang