Hello guys... Vote dulu sebelum lupa!
.
.
.
Aroma bumbu kacang dan telur goreng menyusup lembut hingga ke kamar Laksa, menggoda inderanya dan mengusik fokusnya dari layar laptop. Ia menarik napas dalam, membiarkan aroma itu memenuhi paru-parunya, membangkitkan selera makannya.
Laksa membuka pintu perlahan. Aroma yang semakin kuat membimbingnya ke dapur, di mana ia mendapati Embun sedang sibuk di depan kompor. "Lagi ngapain lo?" tanyanya.
"Halo, Mas! Akhirnya keluar juga!" seru Embun, tersenyum lebar. "Mas pasti lapar, kan? Ini, Embun masak makanan enak buat Mas Laksa. Cobain, yuk!" Embun menyodorkan sesendok makanan ke arah Laksa.
"Emangnya lo bisa masak?" Laksa mendekat, menatap masakan di wajan.
"Bisa, dong. Ini—" Embun hendak menyuapkan sesendok makanan ke mulut Laksa.
Laksa terdiam sejenak, memandang Embun. Gerakan tangannya yang menyodorkan sendok, senyumnya yang tulus, entah kenapa mengingatkannya pada sebuah kenangan—kecelakaan kecil di mobil bersama Pak Miko yang membuatnya bersentuhan bibir dengan Embun. Debar jantungnya kembali terasa. Ia menelan ludah, mencoba mengendalikan dirinya. Bukan saatnya untuk memikirkan hal itu, batinnya.
"Mas? Kok diam saja? Ayo buka mulutnya!" Embun mengernyit, menyadarkan Laksa dari lamunannya.
Laksa tersentak, jantungnya masih berdebar. Ia membuka mulutnya perlahan, tatapannya bertemu dengan mata Embun. Suapan tahu gimbal itu menyentuh lidahnya, hangat dan lezat. Ia mengunyah perlahan, menikmati rasa gurih bumbu kacang dan renyahnya tahu.
"Enak banget. Ini namanya apa?" tanyanya, senyum kecil terukir di bibirnya.
"Ini namanya Tahu Gimbal, makanan khas Semarang. Mau lagi?" Embun kembali menyodorkan sendoknya.
Kali ini, Laksa meraih sendok dari tangan Embun. "Biar gue makan sendiri aja," ujarnya, tersenyum.
"Baiklah. Ayo, kita makan di depan TV, Mas. Hari ini sinetron kesukaan Embun tayang," ajak Embun.
"Gue enggak pernah nonton TV," jawab Laksa.
"Ya ampun, Mas! TV sebesar itu cuma jadi pajangan? Sayang, dong, kalau tidak dinyalakan. Temani Embun, ya?" Embun menarik tangan Laksa menuju ruang TV.
Laksa menurut, jantungnya masih berdebar tidak karuan. Tinggal serumah dengan seorang wanita adalah hal baru baginya, terutama setelah pengkhianatan Zivanya. Ia selalu menolak perjodohan dari Oma Tari, namun kehadiran Embun terasa berbeda. Sederhana, namun hangat. Untuk pertama kalinya, ia merasakan debaran yang tulus. Namun, ia berusaha meyakinkan dirinya bahwa itu hanya kekaguman sesaat. Di lubuk hatinya, ia masih berharap Zivanya kembali.
"Nah, duduk sini, Mas! Makan bersama itu menyenangkan, lho. Jangan menyendiri terus, nanti Mas Laksa bisa stres. Mau ganteng-ganteng stres?" goda Embun.
"Lama-lama ello jadi cerewet kayak Oma," komentar Laksa, sambil menikmati tahu gimbalnya.
"Walaupun cerewet, maksud Oma baik, Mas. Lagian, kenapa Mas Laksa ndak mau tinggal dengan Oma saja? Kasihan Oma sudah tua tinggal sendirian," ujar Embun.
Raut wajah Laksa berubah. "Rumah itu... terlalu banyak kenangan. Setiap kali gue mencoba tidur, dada gue rasanya sesak. Bayangan Papa dan Mama selalu datang... seolah nyalahin gue." Ia menghentikan makannya, mengaduk-aduk makanannya dengan sendok.
"Duh, maaf ya, Mas. Embun ndak bermaksud mengingatkan Mas Laksa pada almarhum," kata Embun dengan nada menyesal.
"Enggak apa-apa. Gue emang enggak akan pernah bisa melupakan mereka," jawab Laksa lirih.
KAMU SEDANG MEMBACA
Laksana Embun ( On Going Dan Proses Revisi )
RomanceLaksa, mengalami trauma jatuh cinta akibat dihinati pacarnya, Zivanya. Ia rela menyelingkuhi Laksa dengan seorang sutradara demi mengejar karirnya sebagai artis. Akibatnya, Laksa selalu menolak perjodohan yang diatur oleh neneknya, Oma Tari. Sampai...
