Bab 14 Sedikit Pembalasan

47 40 2
                                        

Laksa segera menggenggam tangan Embun dengan lembut, lalu menoleh pada Zivanya. "Dia... dia pacar gue," katanya dengan mantap, tanpa sedikit pun keraguan.

Embun terlihat bingung ketika tiba-tiba Laksa menarik tangannya dan dengan lantang mengakuinya sebagai pacar. Namun, kejadian itu tak mampu menggoyahkan perhatiannya yang sepenuhnya tertuju pada Zivanya, artis idolanya yang memesona.

Dia melepaskan genggaman Laksa lalu menghampiri Vanya dengan penuh semangat. "Hah? Mbak Vanya?" jeritnya.

Laksa merasa tak nyaman melihat Embun begitu mengagumi mantan kekasihnya. Dengan lembut namun tegas, ia menarik kembali tangan Embun, membawanya menjauh dari Vanya.

"Bun...!" panggilnya sedikit tegas.

Senyum tipis penuh ejekan terlukis di wajah Vanya, memperlihatkan ketidaksenangannya terhadap perhatian berlebihan yang Laksa tunjukkan pada Embun. "Dia? Gadis kampung ini pacarmu?" ujarnya dengan nada sinis.

Mata Laksa menatap Vanya dengan tajam, seolah menyiratkan ketidaksenangan atas ucapannya tentang Embun yang disebut "anak kampung." Laksa tahu betul bahwa Vanya sama-sama berasal dari kampung, sehingga kata-kata itu terasa ganjil sekaligus menyakitkan. Seolah-olah ucapan itu sengaja dilontarkan untuk merendahkan Embun, menyelipkan penghinaan yang sulit untuk diabaikan.

"Hah.. enggak nyangka, ya? Sudah jadi artis terkenal, tapi kelakuan ello yang masih kampungan. Loe lupa dari mana berasal?"

Mata Vanya membesar, tak mampu menyembunyikan keterkejutan saat melihat Laksa membela Embun dengan begitu tegas. Perasaan tak nyaman mulai menyelimuti hatinya, bergolak antara kesal dan terluka. Bagaimana mungkin dia, yang dulu dipuja begitu dalam oleh Laksa, kini harus menerima kenyataan pahit--tersingkir oleh seorang gadis kampung yang justru menjadi penggemarnya?

Pikiran Vanya mulai dikuasai rasa iri dan gengsi yang membara. Ini bukan sekadar tentang Embun yang diakui Laksa sebagai pacarnya. Lebih dalam dari sekadar persaingan, ini adalah tentang dirinya sendiri--tentang harga diri yang tercabik oleh kenyataan bahwa Laksa, pria yang pernah begitu tergila-gila padanya, kini mampu pergi dengan langkah ringan, meninggalkan masa lalu mereka tanpa sedikit pun penyesalan.

"Maaf, Laksa, aku mengatakan itu karena Embun sendiri yang bilang dia berasal dari kampung. Bukankah begitu, Embun?"

"I-iya, benar kok, Mas. Memang Embun yang bilang."

Laksa semakin tidak bisa menyembunyikan kekesalannya. Dia menarik napas panjang, mencoba meredam emosinya. "Bun, bisa gak, sih, kamu berhenti memuja dia? Dia gak sebaik yang kamu fikirkan."

"Tapi, Mas..."

Belum selesai Embun bicara, Vanya yang tidak percaya dengan pernyataan Laksa mencoba memastikan kecurigaannya. "Embun, apa benar kamu pacarnya Laksa?" tanyanya meyakinkan Embun.

"Oh... aku..."

Belum sempat kata-kata Embun terucap sempurna, Laksa tiba-tiba merengkuhnya dalam kehangatan. Dengan lembut namun pasti, ia menarik pinggang Embun hingga tubuh mereka bersatu tanpa jarak. Satu tangannya mendarat di pipi Embun, menelusuri lembut kulitnya, sebelum bibirnya menyentuh milik Embun dalam sebuah kecupan yang sunyi namun mengguncang. Dalam sekejap, suara Embun terhenti, tenggelam dalam keheningan yang penuh makna.

Embun terkejut, hatinya bergejolak ingin melepaskan ciuman dan rengkuhan itu. Namun, usahanya tersendat, terhenti oleh genggaman tangan yang semakin erat, seakan enggan melepaskan dirinya dari pelukan yang memenjarakan sekaligus menggetarkan.

Sementara Zivanya hanya bisa berdiri membeku, membiarkan matanya menyaksikan sebuah adegan yang tak pernah ia bayangkan. Tubuhnya kaku, tetapi hatinya bergolak. Bara amarah berkobar di dadanya, emosinya meluap bagai ombak tak terkendali. Namun, entah mengapa, ia tetap tak mampu bergerak, tak mampu berbuat apa-apa.

Laksana Embun ( On Going Dan Proses Revisi )Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang