Oma Tari memandang Laksa dengan tatapan penuh emosi, tangannya sibuk menghantam pundak pemuda itu.
"Dasar anak kurang ajar! Bisa-bisanya kamu menurunkan wanita di tengah jalan!" bentaknya, napasnya memburu di antara amarah yang meluap.
Laksa, yang sibuk menangkis pukulan Oma Tari, meringis kesakitan. "Aduh, Oma... ampun..." keluhnya, mencoba menenangkan sang nenek yang justru semakin bersemangat.
"Sampai kapan kamu menolak wanita terus? Apa kamu penyuka sesama jenis?" hardik Oma Tari tajam, tanpa memberi ruang bagi Laksa untuk menjawab.
"Ya ampun, Oma... ya nggak gitu juga," balas Laksa terbata-bata, merasa serangan verbal itu lebih menyakitkan daripada sapuan sapu rotan yang berayun ke arahnya.
"Lantas kenapa kamu selalu kabur setiap kali dijodohkan?" desak sang nenek, tak mau kalah.
Laksa menghela napas, mencoba mencari jawaban yang tak akan membuat Oma Tari makin geram. "Iya... Laksa--masih nggak mau jatuh cinta aja, Oma," ujarnya, dengan nada setenang mungkin.
Namun, jawaban itu hanya menambah kemarahan Oma Tari. "Dasar bodoh! Kamu masih belum bisa melupakan mantanmu yang murahan itu, ya?"
"Enggak, Oma! Enggak gitu!" sanggah Laksa cepat, meski nada suaranya terdengar kurang meyakinkan.
"Memang bodoh kamu, ya!" bentak Oma Tari, tak memberi ampun. "Sini, otakmu itu harus Oma pukul biar sadar!" Dengan sapu rotan di tangan, Oma Tari mengejar Laksa, yang langsung memutar badan dan berlari secepat mungkin.
"Ampun, Oma! Jangan! Nanti kalau wajah tampan Laksa rusak, gimana?" pekik Laksa sambil melompat menghindari sapuan sapu.
"Halah, percuma tampan kalau nggak nikah-nikah! Sini kamu, jangan lari!" Oma Tari berteriak lantang, tak mau menyerah.
Adegan itu segera berubah menjadi kejar-kejaran yang menggelikan, mirip adegan komedi dari kartun Tom and Jerry. Oma Tari yang bersemangat mengejar, sementara Laksa berusaha lari sambil melindungi tubuhnya. Akhirnya, Laksa terpaksa keluar rumah, meninggalkan Oma Tari yang masih mengayunkan sapunya dengan penuh semangat.
***
Di sisi lain Jakarta, seorang gadis sederhana bernama Embun tengah menjalani hari-hari beratnya. Berbekal ijazah SMK dan tekad baja, ia merantau dari Semarang ke ibu kota demi membantu meringankan beban keluarganya yang terlilit utang. Namun, perjuangannya jauh lebih sulit dari yang ia bayangkan.
Setiap hari, Embun melangkahkan kaki menyusuri jalanan kota, berusaha mencari pekerjaan. Namun, keberuntungan seakan tak berpihak padanya. Setiap pintu yang diketuk selalu berujung dengan penolakan. Hari-hari penuh keletihan mulai menggrogoti semangatnya. Pandangannya kini kosong, langkahnya gontai, dan harapannya mulai terkikis oleh rasa putus asa.
Embun berjalan di trotoar dekat rumah Oma Tari, tenggelam dalam pikirannya sendiri, hingga tak menyadari seseorang berlari dari arah berlawanan. Tubrukan tak terhindarkan. Tubuh mungil Embun terjatuh, diikuti oleh tubuh pemuda itu yang tanpa sengaja menindihnya.
Embun mendongak, matanya melebar saat bertemu pandang dengan wajah Laksa yang tampan. Detik itu, waktu seolah berhenti. Wajah Laksa mengingatkan Embun pada idolanya, Byeon Woo Seok, sosok yang sering mengisi mimpinya. Embun terdiam, terpaku, seakan lupa bahwa ia baru saja terjatuh. Di tengah kebisuannya, sebuah senyuman kecil merekah di bibirnya, membingkai pertemuan tak terduga yang akan mengubah hidup mereka.
"Jangan lari kamu, anak bandel. Sini kamu...!" teriak Oma Tari dari kejauhan.
Lamunan Embun mendadak buyar ketika suara seorang nenek yang lantang menggema dari kejauhan. "Jangan lari kamu, anak bandel! Sini kamu!" teriaknya dengan nada penuh emosi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Laksana Embun ( On Going Dan Proses Revisi )
RomanceLaksa, mengalami trauma jatuh cinta akibat dihinati pacarnya, Zivanya. Ia rela menyelingkuhi Laksa dengan seorang sutradara demi mengejar karirnya sebagai artis. Akibatnya, Laksa selalu menolak perjodohan yang diatur oleh neneknya, Oma Tari. Sampai...
