Bab 1 Lagi-lagi Dijodohkan

134 53 12
                                        

Sebelum lupa,

Follow dulu... vote dulu...

Tinggalkan jejak di komentar. Beritahu penulis, bahwa kehadiranmu nyata. Suit suit...

Selamat membaca...

.

.

.


Lima tahun kemudian...

Sembari mengendalikan laju mobil, Pak Miko menyampaikan pesan kepada Laksa dengan raut wajah setengah cemas. 

"Maaf, Den Laksa. Tadi Oma telepon," katanya, sambil menatap pemuda itu yang sedang asyik dengan iPad-nya lewat spion.

Laksa, tanpa mengalihkan pandangannya dari layar, bertanya santai, "Ada apa lagi, Pak?"

Pak Miko tersenyum tipis, mencoba meredakan kecanggungan. "Katanya Aden ada kencan buta lagi sama cewek. Kali ini keturunan Bangladesh, Den. Bodynya, wow—bahenol," ucapnya sambil terkekeh, sebelah tangannya bergerak-gerak seolah memperagakan lekuk tubuh wanita yang dimaksud.

Laksa mendengus kecil, menggelengkan kepala. "Ah, Pak Miko berlebihan."

"Tapi beneran lo, Den," lanjut Pak Miko penuh semangat. "Wajahnya cuantik, kayak artis Sridevi."

Laksa akhirnya mengangkat pandangan dari iPad-nya, menatap Pak Miko dengan alis terangkat. "Sridevi siapa, Pak?"

Pak Miko terkejut. "Oalah, Den... masak ndak ngerti Sridevi, to? Itu loh, artis India yang legendaris."

Laksa menyipitkan mata, merasa nama itu asing. "Emang Sridevi itu umurnya berapa, Pak?"

Pak Miko terkekeh, mengingat-ingat. "Ya, yang saya tahu... dia sudah meninggal di usia lima puluh empat tahun, Den. Hehehe..."

Laksa menatap Pak Miko dengan ekspresi setengah tidak percaya. "Ya ampun, Pak... Pak. Ya mana saya tahu artis yang usianya sama kayak Mama."

Pak Miko tertawa kecil, mengenang sesuatu. "Hehehe... Sridevi memang artis idola almarhum Bu Cempaka, Den. Makanya Oma ingat almarhum pas dapat kenalan orang Bangladesh yang tetanggaan sama India."

Mata Laksa perlahan meredup, seperti terbenam dalam lautan kenangan. Garis-garis di wajahnya semakin dalam, bibir yang tadinya tersenyum kini sedikit bergetar, tertahan oleh perasaan yang berat. Ia menundukkan wajah, kelopak matanya menutup, seolah berusaha menahan air mata yang tak terhindarkan.

Hembusan napasnya terdengar pelan, seperti beban kenangan yang tiba-tiba hadir kembali. Ada kesedihan yang tak terkatakan di wajahnya, seakan setiap tarikan napas mengingatkan pada kehilangan yang tak akan pernah tergantikan.

"Maaf, Den. Maaf kalau saya mengingatkan Aden sama almarhum Bapak dan Ibuk," tambah Pak Miko.

"Gak papa kok, Pak."

"Kali ini Aden nurut saja ya sama Oma. Jangan kabur lagi kayak sebelum-sebelumnya."

"Kok gak ada capek-capeknya, sih, Oma jodohin saya mulu."

"Oma ndak akan berhenti sampai Aden menikah. Makane lo, Den, cepetan saja pilih salah satu. Memang Aden ndak kesepian hidup sendiri terus?"

Laksa kembali teringat peristiwa dua belas tahun yang lalu. Perasaan bersalah seketika muncul kembali dengan luka yang lebih dalam. Andai saja orang tuanya masih hidup, mungkin neneknya tidak akan pernah khawatir Laksa akan hidup sendirian.

Laksana Embun ( On Going Dan Proses Revisi )Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang