Hari ini, Laksa memutuskan untuk mengunjungi rumah Oma Tari--sebuah tempat yang selalu mengingatkannya pada kedua orang tuanya. Meski setiap ke rumah itu lukanya kembali tertoreh, Laksa tetap berusaha menengok Oma Tari walau hanya sebulan sekali.
Kali ini ia membawa kabar baik tentang bisnisnya yang kian melesat, sebuah pencapaian yang seharusnya menjadi kebanggaan. Tapi jauh di lubuk hatinya, ada perasaan yang lebih besar, lebih mendesak, yang ingin ia tumpahkan.
Di balik senyum dan cerita suksesnya, Laksa menyimpan beban yang belum terangkat. Hari ini, ia berencana membicarakan hal yang paling rapuh dalam dirinya--langkah pertama untuk menyembuhkan trauma yang telah lama menguasainya. Oma Tari adalah satu-satunya tempat di mana ia merasa cukup nyaman untuk membuka kembali luka itu, memulai perjalanan panjang menuju pemulihan. Meski Laksa tahu, ini bukan langkah yang mudah untuk benar-benar terbebas dari perasaan menyakitkan itu.
Setelah bertahun-tahun terperangkap dalam bayang-bayang masa lalu yang menguras setiap sudut pikiran dan perasaannya, Laksa akhirnya sampai pada satu keputusan yang penuh keberanian--ia ingin sembuh. Ia ingin melepaskan diri dari cengkeraman kenangan tentang Zivanya yang selama ini menggerogoti hatinya, membebaskan jiwanya dari luka yang terus ia genggam.
Untuk pertama kalinya, ia merasakan secercah harapan, sebuah keinginan tulus untuk menghapus jejak kenangan pahit itu dan menggantinya dengan sesuatu yang lebih indah. Laksa ingin membuka hatinya, membiarkannya kembali tumbuh, namun kali ini untuk cinta yang baru--cinta yang datang dari seorang wanita yang benar-benar tulus, seseorang yang tak akan mengkhianati hatinya. Meski perjalanan ini tidak akan mudah, tapi ia yakin, inilah cara satu-satunya untuk meraih kembali dirinya yang dulu hilang.
Sesampainya di sana, Oma Tari menyambut kedatangan cucunya dengan penuh semangat.
"Halo, cucu Oma..." sapanya hangat sambil melangkah mendekat.
"Halo, Oma..." jawab Laksa dengan senyum lebar, antusias menyambut neneknya.
Namun, alih-alih menghampiri Laksa, cucunya sendiri, Oma Tari malah melewatinya dan langsung menuju Embun. Dengan penuh kasih, ia memeluk Embun erat, seolah meredakan rindu yang telah lama terpendam.
"Embun, bagaimana kabarmu, Sayang? Oma sangat rindu sama kamu," katanya lembut.
Embun hanya bisa melongo, tak menyangka dengan sambutan itu, lalu tertawa kecil melihat Laksa yang diabaikan. "Oma... Kasihan Mas Laksa," katanya sambil menahan senyum.
Oma Tari menoleh sekilas ke arah Laksa, lalu berkata dengan nada bercanda, "Kenapa kamu masih baik padanya? Anak nakal ini kan selalu kasar sama kamu!" ujarnya sambil memberi pukulan ringan ke lengan Laksa yang berotot.
"Aduh... Oma, sakit," rengek Laksa sembari mengusap lengannya yang dipukul.
"Biar saja! Kamu masih suka kasar sama Embun, kan?" sergah Oma Tari sambil melayangkan pukulan lagi, kali ini lebih bercanda.
"Ah, ampun, Oma! Laksa sudah berubah kok, sekarang baik!" balas Laksa sambil mengelak.
Namun, Oma Tari tak percaya begitu saja. Ia melirik ke arah Miko, berharap mendapat kebenaran. "Miko, benar tidak apa yang Laksa bilang?" tanyanya serius.
Miko, yang diam-diam menikmati situasi itu, menjawab sambil tertawa kecil, "Benar, Oma. Den Laksa sudah lumayan baik. Ya, walaupun masih sedikit suka nyebelin."
Mendengar itu, Oma Tari kembali mengarahkan pandangannya ke Laksa. "Tuh, kan!" serunya sambil memberikan pukulan ringan lagi, membuat Laksa mengeluh kesal.
"Sudah Oma... Jangan pukul Mas Laksa terus," sela Embun, mencoba menahan tangan Oma Tari yang seolah tak ingin berhenti memukul. "Benar kok, sekarang Mas Laksa sudah lebih baik," tambahnya sambil tersenyum.
KAMU SEDANG MEMBACA
Laksana Embun ( On Going Dan Proses Revisi )
RomanceLaksa, mengalami trauma jatuh cinta akibat dihinati pacarnya, Zivanya. Ia rela menyelingkuhi Laksa dengan seorang sutradara demi mengejar karirnya sebagai artis. Akibatnya, Laksa selalu menolak perjodohan yang diatur oleh neneknya, Oma Tari. Sampai...
