Bab 19 Aku Mencintaimu

45 41 5
                                        

Laksa berdiri mematung, kedua matanya tajam menatap Embun yang berdiri di dekat jendela. Di luar, cahaya bulan memantulkan bayangannya di lantai. Udara malam terasa dingin, tetapi panas yang menjalar di dadanya membuat tubuhnya menegang.

"Diam... jangan bersuara," bisik Laksa akhirnya, suaranya rendah, tapi begitu tegas. Nada itu seperti angin kencang yang membawa petir. Langkah kakinya mendekat, membiarkan lantai kayu mengeluh pelan di bawah berat tubuhnya. "Aku... sedang marah."

Embun berbalik, kaget mendengar nada itu. Tapi tatapan Laksa menghentikan langkahnya, membuat tubuhnya seperti membeku.

"Bun..." Laksa berhenti tepat di depannya. Ada jeda panjang sebelum ia melanjutkan. "Aku enggak suka melihatmu dengan pemuda tadi."

Embun mengerjapkan mata, tetapi tak mampu berkata apa-apa. Napasnya tertahan, seolah udara di ruangan itu hilang.

Laksa mengangkat dagunya sedikit, memandang Embun dengan tatapan yang sulit ditebak. "Aku benci melihatmu tertawa dengannya. Dan sekarang... kamu harus menerima hukuman."

"Hukuman?" Embun berbisik, hampir tak terdengar. Tubuhnya sedikit bergeser ke belakang, tapi ia tak benar-benar bergerak.

Laksa mengangguk perlahan, tanpa mengalihkan pandangan. "Perlu kamu tahu, aku sedang tidak terkena serangan panik. Aku sepenuhnya sadar. Jadi, maafkan aku..."

Ia mendekatkan wajahnya, hanya sejengkal dari wajah Embun. "Kali ini... aku benar-benar akan melakukannya."

Embun tertegun. Pupil matanya melebar, napasnya tersengal. Kata-kata itu menggetarkan sesuatu di dalam dirinya, sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Keinginan untuk melawan menggelora, tetapi tubuhnya menolak bekerja sama.

Laksa mengulurkan tangan, merangkul pinggang Embun perlahan. Sentuhannya lembut, tetapi kokoh, membuat Embun tak punya pilihan selain menempel di tubuhnya. Tangannya yang lain masih menutup bibir Embun, tetapi kemudian ia melepaskannya perlahan.

Anehnya, Embun tak berteriak. Ia hanya menatap Laksa dengan sorot mata yang berubah—bukan takut, melainkan sesuatu yang jauh lebih dalam.

Tatapan Laksa melembut, tetapi nafasnya tetap berat. Perlahan, ia mendekatkan wajahnya. Embun, seolah terbawa arus yang tak bisa ia lawan, ikut mendekatkan kepalanya.

Udara di antara mereka terasa panas, mengalir seperti gelombang. Jarak mereka semakin tipis. Napas mereka bercampur, memburu, sementara waktu terasa berhenti.

Namun, detik berikutnya, suara ketukan keras di pintu memecah segalanya.

"Embun... Kamu di dalam?" panggilan Bu Fatma terdengar, tajam dan penuh kewaspadaan.

Embun tersentak, seolah tersadar dari mimpi. "Mas—" ucapannya terhenti ketika Laksa buru-buru menutup mulutnya lagi dengan tangan.

"Ssstt..." bisik Laksa dengan nada yang nyaris memohon.

"Mas Laksa, itu Ibu. Aku harus jawab," desak Embun, lirih.

Laksa menggeleng, masih menahan tangan di bibir Embun. Namun, suara Bu Fatma terdengar lagi, lebih keras kali ini.

"Embun!"

Dengan terpaksa, Laksa menurunkan tangannya. Embun bergerak cepat menyalakan lampu, menyisir rambutnya dengan jari, lalu melangkah menuju pintu. Namun, Laksa meraih pergelangan tangannya.

Tatapannya penuh dengan harapan. "Jangan pergi."

Embun menunduk, menggigit bibirnya, lalu menggeleng pelan. "Aku harus, Mas."

Laksa menghela napas panjang. Perlahan, ia melepas genggamannya, membiarkan Embun berjalan ke arah pintu.

Saat pintu terbuka, Bu Fatma berdiri dengan ekspresi serius. Matanya menyapu ruangan, kemudian menatap Embun dengan tatapan tajam.

Laksana Embun ( On Going Dan Proses Revisi )Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang