Seminggu berlalu sejak kepergian Embun. Laksa duduk di sofa apartemennya, menatap kosong layar televisi yang menayangkan berita tanpa suara. Biasanya, di saat seperti ini, Embun akan duduk di sampingnya, mengomentari berita dengan celetukan-celetukan khasnya yang membuatnya tertawa. Sekarang, hanya keheningan yang menyelimuti ruangan. Ia meraih ponselnya di meja. Jarinya ragu sejenak sebelum akhirnya menekan tombol panggil.
"Halo, Mas Laksa..." Suara Embun terdengar riang dari seberang sana, seolah membawa sedikit kehangatan ke dalam apartemennya yang dingin.
"Halo," balas Laksa, mencoba menyembunyikan kerinduannya di balik nada bicara yang datar. "Kamu terdengar senang. Lagi ngapain?"
"Tentu saja Embun senang, karena hari ini pangeran Embun menelepon," jawab Embun, disusul kekeh kecil.
Laksa tersenyum tipis. "Hhmm... Benarkah? Apakah kamu merindukanku?"
"Tentu saja. Kapan, nih, Mas Laksa mau jemput Embun?"
Laksa menghela napas. "Sabar, ya? Masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan."
"Yang bener...? Jangan-jangan Mas Laksa senang Embun ndak ada. Apa Mas Laksa mulai bertemu Mbak Vanya lagi?" Nada suara Embun berubah sedikit, ada nada curiga di sana.
"Hush... Bicara apa kamu," sahut Laksa cepat. "Cuma kamu saat ini yang bisa membuat aku bahagia. Kamu juga begitu, kan?"
"Iya dong, Mas... Cuma Mas Laksa juga yang ada di hati Embun."
"Kamu gak lagi berduaan sama Raka, kan, selama di kampung?" tanya Laksa, meskipun ia sendiri merasa tidak enak menanyakan hal itu.
"Ndak lah, Mas. Embun ndak berduaan. Tapi rame-rame sama tetangga. Hehehe..."
"Eh, tu, kan..." gumam Laksa pelan.
"Mas Laksa ndak usah khawatir. Di kampung itu ketat. Kita ndak akan bisa ngapa-ngapain di sini."
"Ya sudah kalau begitu. Kamu jaga diri baik-baik, ya. Aku mau ke kantor dulu."
"Baik, Mas Laksa..."
Laksa memutus panggilan. Ia menatap ponselnya sejenak, lalu menghela napas lagi. Ia memang bukan tipe pria yang pandai merangkai kata-kata manis. Baginya, tindakan lebih penting dari sekadar ucapan.
"Apa itu telepon dari pacarmu?" tanya Raka dari balik meja warung Bu Fatma. Hari itu, Embun membantu Bu Fatma seperti biasa.
"Iya," jawab Embun singkat, mengumpulkan piring-piring kotor. Tangannya bergerak cepat, seolah ingin menyibukkan diri agar tidak perlu berlama-lama berbicara dengan Raka.
Raka mengangguk. "Sampai kapan kamu di sini? Kuat berjauhan terus?"
Embun menghela napas. "Kami saling mencintai. Kami saling percaya. Jadi kenapa harus ndak kuat?" Ia meletakkan tumpukan piring di dekat bak cuci.
Raka tersenyum masam. "Kamu yakin bos kamu itu bisa dipercaya? Aku juga mengikuti berita di TV. Mantan pacarnya itu seorang artis. Dia cantik dan sangat elegan."
Embun menatap Raka tajam. "Kamu sebenarnya mau bicara apa sih, Raka? Mau menghasut aku?"
Suara Embun yang agak tinggi membuat Bu Fatma menoleh padanya. Namun karena sibuk melayani pelanggan, ia memilih tetap fokus pada mereka—tak menghiraukan Embun dan Raka yang sedang berdebat.
Raka mengangkat bahunya, masih dengan senyum yang sama. "Aku hanya mengujimu. Kalau kamu ndak terhasut, itu bagus." Ia meneguk minumannya. Namun, matanya yang menatap Embun menyimpan sesuatu yang lain, bukan sekadar senyum meremehkan.
Embun memutar tubuhnya, meninggalkan Raka tanpa berkata apa-apa lagi. Ia berjalan keluar warung, langkahnya cepat dan berat.
Raka menatap punggung Embun yang menjauh. Ia menghela napas dalam. Aku memang menghasutmu, Embun. Aku tidak suka kamu menjadi milik orang lain. Aku ingin kamu tetap di sini, bersamaku.
KAMU SEDANG MEMBACA
Laksana Embun ( On Going Dan Proses Revisi )
RomanceLaksa, mengalami trauma jatuh cinta akibat dihinati pacarnya, Zivanya. Ia rela menyelingkuhi Laksa dengan seorang sutradara demi mengejar karirnya sebagai artis. Akibatnya, Laksa selalu menolak perjodohan yang diatur oleh neneknya, Oma Tari. Sampai...
