Bab 39 Malam Yang Gelisah

16 3 0
                                        

Embun meneguk champagne terakhirnya, gelembung-gelembung kecilnya berakhir di tenggorokan. Wajahnya mulai kehilangan fokus, matanya sedikit sayu. Ia bersandar ke sandaran kursi, tubuhnya terlihat limbung. Sebastian memerhatikan dari meja bar, seulas senyum bermain di wajahnya. Ia mengambil Jus yang sudah siap, lalu membawanya ke meja Embun. Namun sebelumnya, Sebastian mencampurkan jus itu dengan serbuk perangsang yang diambil dari saku jasnya. Sebastian meletakkan gelas jus ke hadapan Embun, menatapnya dengan rencana terbungkus rapat di balik pandangan penuh keyakinan.

"Wah... Hebat. Lo minum Sampek abis, Bun?" Suaranya terdengar ringan, hampir seperti rayuan, mencoba menembus gemuruh musik di ruangan.

Embun melirik Sebastian. Pandangannya mencoba fokus, salah satu matanya memicing, lalu ia terkekeh pelan. "Em… enak juga ternyata, Mas. Minuman ini, membuat pikiran Embun tenang." Suaranya terdengar serak, lebih berat dari biasanya.

Sebastian tersenyum merasa puas dengan efek dari alkohol itu. "Syukurlah. Bye the way, Laksa masih asik aja. Dia enggak datang nemenin Ello?" ujarnya, memandang ke arah Laksa dan Zivanya yang tampak asyik bercakap di tengah lantai dansa.

Embun mengikuti arah pandangan Sebastian, matanya berkaca-kaca. Dada tipisnya naik turun, seakan ada beban tak terlihat yang menyumbat napas. "Mereka, terlihat sedang melepas rindu. Hati Embun, rasanya sakit," gumamnya. Ia memukul dadanya pelan, tapi penuh rasa kecewa yang tersirat jelas.

Sebastian hanya tersenyum samar. "Udahlah. Enggak usah pikirin mereka. Mending Lo nikmatin jus ini," ucapnya sambil mendorong gelas itu sedikit lebih dekat. Lalu, dengan suara yang hampir seperti bisikan, ia menambahkan, "Gue ada di sini buat Lo."

Embun memandang jus itu sejenak. Tangannya meraih gelas tanpa banyak berpikir, lalu menenggaknya habis dalam satu tarikan napas.

Di bawah sorotan lampu disko yang terus berputar, wajah Embun mulai berubah. Pipi merahnya semakin menyala, keringat mengalir tipis di pelipisnya. Ia menggeliat kecil, menarik tali gaun di bahunya sedikit ke bawah. Bahu mulusnya terpapar cahaya kelap-kelip.

Sebastian menatapnya dalam diam, senyumnya makin melebar. "Bun, Lo kenapa?" tanyanya dengan nada setengah bercanda, tapi matanya menyimpan sesuatu yang jauh lebih gelap.

"Panas, Mas. Panas banget," jawab Embun, suaranya kini terdengar lebih manja. Jemarinya menyentuh dadanya sendiri, lalu turun ke meja. Ia menatap Sebastian dengan mata berbinar, tapi ada sesuatu yang ganjil di sana, seperti kilau dari permukaan gelas pecah.

Sebastian mendekat, tangan kasarnya menangkap jemari Embun. "Lo cantik banget malam ini," ujarnya pelan, nyaris berbisik. Matanya menyapu wajah Embun, lalu turun ke bahu terbuka yang kini basah oleh keringat.

Embun menelan ludah, napasnya terengah. "Mas Sebastian… juga ganteng," ucapnya meyeringai, bibirnya sedikit bergetar.

Sebastian tertawa kecil, menggenggam tangan Embun lebih erat. "Ayo ikut gue," katanya. "Di sini berisik. Kita cari tempat yang lebih tenang."

Embun hanya mengangguk, tubuhnya terasa lemah tapi pikirannya terisi keberanian baru. Ia membiarkan Sebastian membimbingnya keluar dari ruangan penuh musik dan tawa. Mengabaikan Laksa yang sedang asik berbicara dengan mantan kekasihnya.

Sebastian menggandeng tangan Embun hingga ke parkiran. Ia membuka pintu mobil, lalu membantu Embun masuk dan duduk dengan nyaman.

Di dalam mobil, Embun menarik tubuh Sebastian mendekat. Bibirnya langsung menyambar tanpa permisi, mencium pria itu dengan nafsu yang tak terkontrol. Sebastian membiarkannya sejenak, lalu melepaskan diri dengan senyuman dingin di wajahnya.

"Tenangkan diri Lo sebentar. Gue akan kasi Lo kepuasan setelah ini," ujarnya dengan lirikan tajam dan senyum yang menggoda.

Musik di klub masih berdentum, tapi pikiran Laksa terasa lebih bising daripada suara apa pun di sekitarnya. Ia berdiri mematung di depan Zivanya, mencoba mencerna kalimat-kalimat yang baru saja terucap.

"Sebastian?" gumamnya, hampir tak terdengar. Sorot matanya mengabur, seolah menembus sosok Zivanya.

"Ya, Laksa. Dia yang mengenalkan aku pada orang itu," Zivanya mendesah, suaranya bergetar, matanya penuh harap. "Aku tidak punya pilihan waktu itu."

Laksa menggeleng pelan. "Jangan cari alasan, Vanya. Aku lihat semuanya. Kamu tertawa, kamu menikmati malam itu…" Suaranya parau, penuh luka lama yang kembali terbuka.

"Tapi kamu nggak tahu apa yang terjadi sebelumnya!" Zivanya menyela, meraih lengan Laksa dengan putus asa. "Kamu pikir aku mau? Aku nggak punya kuasa, Laksa. Kamu tahu keadaan keluargaku waktu itu…"

Laksa terdiam, membiarkan Zivanya bicara. Di dalam pikirannya, nama Sebastian bergema, mengusik logika yang selama ini ia percayai.

"Dia ingin aku. Kamu nggak sadar, Laksa? Sebastian selalu iri sama kamu. Dia nggak pernah suka kalau ada orang lain yang lebih bahagia darinya."

Laksa menatap Zivanya tajam, matanya memancarkan kebingungan sekaligus keraguan. "Dan kenapa aku harus percaya ini sekarang, Vanya? Setelah semua yang kamu lakukan?"

Zivanya mendekat, meraih tangan Laksa, menggenggamnya erat. "Karena aku masih mencintaimu. Aku nggak mau hubungan kita hancur gara-gara dia. Aku ingin memperbaiki semuanya."

"Cukup, Vanya." Laksa menarik tangannya dengan tegas, melangkah mundur. "Apa pun yang kamu katakan, aku sudah selesai dengan kamu."

Zivanya menatapnya dengan pandangan putus asa, tetapi Laksa sudah berbalik, berjalan menjauh. Ia menuju meja tempat Embun duduk sebelumnya, tapi kursinya kosong. Piring kecil berisi sisa camilan masih ada di sana, tapi Embun sudah tidak tampak.

Laksa memandang ke sekeliling, berharap melihat gaun putih yang dikenakan Embun di antara kerumunan, tapi tidak ada. Ia mengeluarkan ponselnya, menelepon nomor Embun. Tidak diangkat. Ia mencoba lagi, tapi tetap sama.

"Embun, di mana kamu…" gumamnya, kali ini dengan nada khawatir.

Ia bergegas keluar dari klub, menuju tempat parkir, di mana Pak Miko menunggunya di dalam mobil.

"Pak Miko," panggil Laksa dengan nada mendesak. "Embun sudah menghubungi Bapak?"

Pak Miko keluar dari mobil, memasang raut cemas. "Belum, Den. Saya dari tadi di sini, nggak ada kabar dari Mbak Embun."

Laksa menghela napas panjang, menatap langit malam yang terasa sesak. "Dia nggak ada di dalam. Saya sudah cari ke mana-mana, bahkan ke toilet."

Pak Miko menggaruk kepalanya, bingung. "Mungkin Mbak Embun pulang duluan, Den? Tapi biasanya dia pamit."

Laksa menggigit bibir, mencoba menyingkirkan pikiran-pikiran buruk yang mulai menguasai kepalanya. "Kita cari di apartemen. Mungkin dia sudah di sana."

"Baik, Den," jawab Pak Miko cepat, membuka pintu mobil untuk Laksa.

Mobil melaju meninggalkan parkiran klub. Di dalamnya, Laksa duduk gelisah. Pikirannya melayang ke berbagai kemungkinan. Apakah Embun melihatnya berbicara dengan Zivanya? Apakah dia salah paham dan pergi begitu saja?

Namun, sebuah perasaan aneh mengusik benaknya. Nama Sebastian terus mengiang di telinga, membawa ingatan-ingatan lama dan firasat buruk yang sulit diabaikan.

Mobil Sebastian meluncur cepat menuju sebuah hotel di dekat sana. Sesampainya di kamar, Sebastian menaruh Embun di atas ranjang. Tubuhnya menggeliat, seperti cacing di atas pasir panas. "Mas… panas," gumamnya dengan suara serak.

Sebastian berdiri di dekat meja, melepas jas dan membuka kancing kemeja perlahan. Matanya tak lepas dari tubuh Embun yang kini bergerak-gerak, mencoba menggapai. Ia mengaktifkan kamera kecil yang sudah ia pasang di sudut ruangan.

Ketika Sebastian ingin berbalik, Embun sudah menghampirinya, memeluknya dari belakang. "Mas… Embun haus. Ayolah…" desaknya dengan nada putus asa.

Sebastian berbalik mengelus rambutnya, matanya penuh rasa puas yang ia sembunyikan di balik senyuman tipis. "Sabar, Bun. Kita nikmati malam ini perlahan," ujarnya sambil menatap kamera yang kini merekam segalanya.

***
To be continued...

Laksana Embun ( On Going Dan Proses Revisi )Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang