"Jangan pergi... Aku mohon, temani aku sebentar saja," bisiknya lirih dengan mata yang masih terpejam.
Hati Embun luruh, terenyuh oleh pemandangan Laksa yang kembali terhimpit dalam derita serangan paniknya. Tanpa ragu, ia membiarkan tangannya digenggam erat, seolah genggaman itu mampu meredakan gejolak di dada Laksa. Lengan Laksa yang gemetar melingkar di tubuhnya, membuatnya tak bisa bergerak, terpaku dalam kehangatan yang rapuh namun mendalam. Embun tetap diam, bersandar pada dada Laksa yang bergetar, mendengar denyut luka yang tak terlihat namun terasa begitu nyata.
Beberapa saat berlalu, Embun merasakan napas Laksa perlahan menjadi lebih tenang. Keringat di wajahnya mulai mengering, dan kini ia tampak tertidur dengan damai, seolah badai dalam dirinya telah mereda.
Tiba-tiba, suara langkah lembut terdengar mendekat, diikuti oleh pintu kamar Laksa yang perlahan terbuka. Kehadiran Oma membuat Embun terkejut, apalagi saat Oma mendapati dirinya bersandar di dada Laksa yang masih terlelap. Embun hendak bangkit dengan rasa canggung, namun Oma menghentikannya dengan lembut, memberi isyarat agar ia tetap berada di sana.
"Ssst... Tetaplah di situ," bisik Oma dengan lembut.
Ia memberi isyarat halus kepada Embun untuk tetap pada posisinya, tanpa perlu merasa canggung. Dengan langkah pelan dan penuh kehati-hatian, Oma meninggalkan ruangan itu tanpa mengeluarkan suara, seolah tak ingin mengganggu istirahat cucunya yang tengah terlelap dalam kedamaian.
Melihat Laksa yang kini tampak tenang, Embun perlahan melonggarkan genggaman tangannya, melepas dengan hati-hati seolah enggan memutuskan kehangatan yang baru saja mereka bagi. Dengan lembut, ia menyingkirkan lengan Laksa yang melingkar di tubuhnya, penuh kehati-hatian agar tak membangunkan mimpi damai yang baru menghampiri.
Ia meraih selimut dan menyelimuti tubuh Laksa dengan lembut, membiarkan lelaki itu beristirahat dari badai yang baru saja reda.
Embun kemudian turun dari ranjang perlahan, gerakannya nyaris tanpa suara--seperti angin yang tak ingin mengusik ketenangan malam, meninggalkan Laksa dalam keheningan yang menenangkan.
Embun melangkah perlahan menuju balkon apartemen, tempat Oma Tari sudah menunggunya. Di bawah langit malam yang berkilau oleh lampu kota, Oma Tari berdiri dengan tenang, matanya menatap hiruk-pikuk Jakarta yang tak pernah terlelap. Ada keheningan mendalam di tengah gemerlap itu, seolah ia sedang merenungi kisah-kisah yang tersembunyi di balik keramaian.
"Oma..." panggil Embun dengan suara lirih, nyaris berbisik.
Mendengar namanya disebut, Oma Tari segera meraih tangan Embun dengan lembut, menatapnya penuh perhatian.
"Sini, sayang. Ceritakan pada Oma. Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa Laksa tiba-tiba mengalami serangan panik lagi?" tanyanya dengan nada penuh kasih.
Embun menunduk sejenak, suaranya terdengar pelan. "Embun juga ndak tahu, Oma. Embun cuma mendengar sedikit. Sepertinya Mas Laksa sempat bertengkar dengan Mbak Vanya."
"Vanya? Kenapa mereka bisa bertemu?" tanya Oma Tari, keningnya berkerut penuh tanya.
"Embun ndak tahu pasti, Oma," jawab Embun pelan. "Tadi Embun masih di dalam butik. Mas Laksa bilang mau keluar sebentar untuk angkat telepon. Tapi waktu Embun keluar, di sana sudah ada Mbak Vanya."
Oma Tari terdiam, wajahnya membeku dalam keheningan yang sarat makna. Pikirannya berputar cepat, mencoba merangkai kepingan-kepingan kejadian yang baru saja ia dengar. Perlahan, kemarahan lama yang pernah ia pendam terhadap Zivanya kembali mencuat ke permukaan, seperti bara yang tak pernah benar-benar padam.
Bagi Oma, Vanya adalah akar dari kekacauan ini. Ia membayangkan bagaimana perempuan itu sengaja datang untuk menggoyahkan hati Laksa, yang tengah berusaha dengan susah payah melupakan masa lalu mereka. Dalam benaknya, Vanya tak ubahnya bayangan kelam yang kembali menyeret Laksa ke jurang rasa sakit, hingga membuat serangan panik itu muncul lagi, menghancurkan ketenangan yang dengan susah payah telah diraih.
KAMU SEDANG MEMBACA
Laksana Embun ( On Going Dan Proses Revisi )
RomanceLaksa, mengalami trauma jatuh cinta akibat dihinati pacarnya, Zivanya. Ia rela menyelingkuhi Laksa dengan seorang sutradara demi mengejar karirnya sebagai artis. Akibatnya, Laksa selalu menolak perjodohan yang diatur oleh neneknya, Oma Tari. Sampai...
