Lalu, dengan kelembutan yang membuat waktu seakan berhenti, Laksa mendekatkan wajahnya dan mengecup bibir Embun dengan lembut.
Cup...!
Hanya kecupan sesaat, namun mampu membuat mata Embun membulat sempurna.
Ini adalah pertama kali Laksa mencium Embun dalam keadaan sadar. Sebelumnya, mereka selalu terlibat sebuah tragedi yang membuat keduanya tanpa sengaja bersentuhan bibir. Atau keadaan Laksa yang terhimpit kepanikan, sehingga tanpa sengaja menciumnya.
Laksa melepas ciuman itu perlahan, senyuman hangat tersungging di bibir manisnya. Ia bahagia, melihat Embun yang sama sekali tak menolak kecupan yang diberikan olehnya. Merasa mendapat respon yang baik, Laksa memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaanya.
"Bun... Aku cinta sama kamu. Aku mohon, jadilah kekasihku..."
"Mas Laksa ndak bercanda, kan?" tanya Embun, matanya menatap ragu namun penuh harap.
"Aku serius, Bun. Genggamlah tanganku seperti ini, jadilah penawar dari segalah gundahku."
"Mas... Tapi Embun hanya gadis desa yang kampungan."
"Bun... Buat aku, kamu bukanlah gadis desa biasa. Kamu mampu membangkitkan cintaku yang sudah lama mati. Hanya kamu.... Hanya kamu yang bisa membuatku tenang di saat serangan panik itu datang. Hanya kamu yang membuat tidurku nyaman tanpa harus minum obat penenang. Dan hanya kamu... Yang membuat mataku tak bisa terpajam semalaman. Aku gelisah, bahkan hampir gila saat melihatmu tertawa dengan pria lain. Bun... Mungkin aku masih takut... Aku takut untuk jatuh cinta lagi. Tapi bersamamu, segala ketakutan itu hilang. Besarnya perasaanku padamu mengalahkan segala ketakutanku selama ini."
Laksa memetik beberapa helai padi di bawahnya, memilinnya hingga menyerupai benang hijau pucat. Dengan hati-hati, ia mengangkat tangan Embun, melingkarkan "benang" padi itu di jari manisnya. Sentuhan tangannya terasa hangat di kulit Embun yang basah oleh gerimis.
"Bun, maaf… ini bukan hadiah istimewa. Tapi sungguh, perasaanku padamu lebih dari sekadar kata-kata. Maukah kamu tetap di sisiku, menghangatkanku seperti ini?" suara Laksa bergetar halus.
Embun tersenyum, matanya berbinar. Anggukannya pelan, namun mantap. "Iya, Mas… Embun mau."
Senyum Laksa merekah, lega dan bahagia. Ia mengusap lembut titik-titik air hujan yang masih menempel di wajah Embun. Tatapan mereka bertemu, napas mereka beradu. Tangan Laksa merangkul pinggang Embun, menariknya mendekat hingga dada mereka bersentuhan. Tangan lainnya menyentuh tengkuk Embun, jemarinya menyelusup di antara rambutnya yang basah. Perlahan, ia menunduk, hidung mereka bersentuhan, merasakan hembusan napas masing-masing. Di bawah guyuran hujan, bibir mereka bertemu dalam kecupan lembut yang perlahan berubah menjadi lumatan hangat. Rasa dingin hujan seolah tak terasa, digantikan oleh kehangatan yang menjalar di seluruh tubuh mereka.
Saat ciuman itu terlepas, Embun mundur selangkah, napasnya masih tersengal. Ia mendongak ke langit, membiarkan hujan membasahi wajahnya. Lalu, ia berteriak, suaranya melengking di antara gemuruh hujan. "Hujan! Embun punya pacar! Embun senang sekali!" Ia merentangkan tangan, berputar-putar di tengah sawah yang becek. "Embun cinta Mas Laksa!"
Embun melompat-lompat, lumpur memercik ke mana-mana. Wajahnya berseri-seri, seperti anak kecil yang baru mendapat hadiah impian. Ia tak percaya, Laksa, pria kota yang tampan dan sukses, mencintainya, gadis desa biasa. Perasaan yang selama ini ia pendam, kini berbalas dengan begitu indah.
Mata Laksa berbinar melihat Embun melompat-lompat, wajahnya basah dan berlumpur, namun senyumnya merekah lebar. Ia tertawa kecil, menggelengkan kepalanya dengan gemas sebelum ikut melompat ke kubangan. Hujan membasahi rambut mereka, lumpur memercik ke wajah dan pakaian. Namun, bagi mereka, hanya ada tawa, suara hujan, dan detak jantung yang berirama. Laksa meraih tangan Embun, memutar tubuhnya hingga mereka berdua berputar di tengah sawah yang becek, melupakan segalanya selain momen itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Laksana Embun ( On Going Dan Proses Revisi )
RomanceLaksa, mengalami trauma jatuh cinta akibat dihinati pacarnya, Zivanya. Ia rela menyelingkuhi Laksa dengan seorang sutradara demi mengejar karirnya sebagai artis. Akibatnya, Laksa selalu menolak perjodohan yang diatur oleh neneknya, Oma Tari. Sampai...
