Bab 7 Luka Lama

61 41 0
                                        

Eits... sebelum baca, follow dulu, dong...! Biar kamu selalu dapat notif tiap Author up-date.

Jangan lupa klik bintang dulu di bawah.

Sekarang, ya. Entar lupa lagi... 

.

.

.

Tok tok...

"Masuk!"

Seorang karyawan wanita dari divisi pemasaran masuk, membawa beberapa berkas. Laksa menghentikan pekerjaannya dan meraih pena, menandatangani dokumen-dokumen yang disodorkan.

"Maaf, Pak, mengenai peluncuran produk baru," kata karyawan itu setelah Laksa selesai menandatangani. "Apakah Bapak punya saran tentang artis yang cocok untuk mempromosikan produk kita?"

"Hmm... belum terpikirkan. Bagaimana menurut kalian?"

"Kami punya ide untuk endorse selebgram, Pak. Sekarang ini, promosi lewat media sosial terbukti lebih efektif untuk meningkatkan penjualan."

"Kenapa tidak pakai Mbak Vanya saja, Mas?" celetuk Embun yang sedang membaca koran di sofa.

Seketika, Laksa terdiam. Lagi-lagi nama itu. Semalam ia sulit tidur, bayangan masa lalu terus menghantuinya. Ia menatap Embun, berusaha menyembunyikan keterkejutannya.

"Ello kan cuma asisten, ngapain ikut-ikut menyarankan?" ujarnya, nadanya sedikit meninggi.

Embun menunduk, suaranya merendah. "Ya, siapa tahu Embun sekalian bisa kenalan dengan Mbak Vanya."

"Maksud Kak Embun, Zivanya Florence?" tanya karyawan pemasaran itu, matanya berbinar.

"Iya, betul," jawab Embun, tersenyum antusias.

"Zivanya memang sedang naik daun, Pak," timpal karyawan itu. "Saya rasa tidak ada salahnya kita bekerja sama dengannya. Akun media sosialnya juga punya banyak follower."

"Akan saya pertimbangkan," jawab Laksa singkat, menyerahkan kembali dokumen yang telah ditandatanganinya.

"Baik, Pak. Permisi." Karyawan itu mengangguk dan keluar ruangan.

Embun segera menghampiri Laksa, duduk di tepi mejanya. "Mas, ayolah, endorse Mbak Vanya, ya?" bujuknya.

Laksa menghela napas. "Kenapa, sih, lo suka banget sama dia?"

"Dia kan cantik, baik..."

"Dari mana lo tahu dia baik?" potong Laksa, sedikit tajam.

"Ya... dari gosip, sih," jawab Embun, terkekeh.

"Jangan mudah percaya gosip. Enggak semua yang lo lihat itu sesuai kenyataan," kata Laksa.

"Ih, kenapa sih, Mas Laksa sepertinya ndak suka sekali sama Mbak Vanya?" tanya Embun, mengerutkan kening.

"Seharusnya gue yang tanya, kenapa lo suka banget sama orang yang belum lo kenal?" balas Laksa.

"Sudah kenal, kok."

"Kenal dari mana?"

"Dari TV," jawab Embun polos.

Laksa memijat pelipisnya. "Terserah lo deh," ucapnya, mengalah. Ia membuang muka, menatap ke luar jendela. Ia merasa frustrasi dengan obrolan ini.

Laksa mengernyit, memperhatikan Embun yang tampak begitu mengagumi Vanya. Perasaan tidak nyaman menyelimutinya. Ia memutar kursinya, membelakangi Embun, seolah ingin menghentikan pembicaraan tentang sosok yang terus mengusik pikirannya. Sejak kemarin, kenangan tentang Vanya terus berputar di kepalanya, kenangan manis yang kini terasa pahit.

Tanpa sadar, tangannya meraih ponsel. Jemarinya mengetik nama 'Zivanya Florence' di kolom pencarian media sosial. Akun itu langsung muncul, lengkap dengan foto-foto dan informasi tentang karirnya sebagai artis yang sukses. Sebuah senyum sinis terukir di bibir Laksa. 'Jadi ini yang kau raih setelah—' ia menghentikan kalimatnya dalam hati. Rasa ingin membuktikan diri dan mungkin, secuil harapan untuk menarik perhatian Vanya kembali, tiba-tiba muncul. Tanpa ragu, ia menekan tombol 'ikuti'. Ia mulai memikirkan kemungkinan-kemungkinan, sebuah rencana kecil mulai terbentuk di benaknya.

***

"Aaahh... Om Seno..." Vanya mendesah, merasakan setiap gerakan Seno di atasnya. Di ranjang apartemennya, ia kembali berada dalam pelukan sutradara itu, pria yang telah membawanya menuju puncak popularitas. Gerakan Seno semakin intens, napas keduanya bercampur di udara. Ia mencengkeram sprei, merasakan sensasi yang bercampur aduk antara nikmat dan sesuatu yang hampa.

Setelah beberapa saat, Seno berbaring di samping Vanya, merapikan kemejanya. Vanya meraih lingerie hitam transparan yang tergeletak di sampingnya dan memakainya. Ia mendekati Seno, melingkarkan tangannya di leher pria itu. "Om, sudah lima tahun. Kapan kita akan menikah?" bisiknya, suaranya bergetar, bercampur antara harapan dan putus asa.

Seno menghela napas panjang, membuang pandang ke langit-langit. "Vanya, kau tahu situasinya. Pernikahan hanya akan merusak karirmu. Orang akan melihatmu sebagai—" ia berhenti sejenak, mencari kata yang tepat, atau mungkin hanya menunda jawaban yang sudah jelas. "—sebagai pihak ketiga."

Vanya melepaskan pelukannya, melangkah menjauh dari ranjang. "Jadi, selamanya begini? Aku hanya—" ia menggantung kalimatnya, tidak sanggup mengucapkan kata "pemuas nafsu" yang terlintas di benaknya. Ia memeluk dirinya sendiri, merasakan dinginnya udara malam menusuk kulitnya.

"Kau sudah sukses, Vanya," kata Seno, nadanya datar. "Jika kau hanya butuh suami, banyak pria yang bisa kau bayar. Tapi jangan sampai ada yang mengganggu hubungan kita." Ia tersenyum tipis, tatapannya dingin dan kalkulatif.

Vanya membuang muka, menatap pemandangan kota yang gemerlap di luar jendela. Lampu-lampu kota berkelap-kelip, namun tidak mampu menerangi kehampaan yang ia rasakan. Ia mengatupkan rahangnya, menahan air mata yang mulai menggenang di pelupuk matanya. Ia merasa terperangkap dalam hubungan ini, terikat oleh janji-janji palsu dan impian yang tak kunjung terwujud.

"Bersiaplah untuk tanda tangan kontrak sinetron baru," kata Seno, berdiri dan mengenakan jasnya. "Aku pergi dulu." Ia mengecup kening Vanya sekilas, lalu melangkah keluar dari apartemen.

Vanya terdiam, menatap pintu yang tertutup. Ia merasakan air mata akhirnya tumpah membasahi pipinya. Ia mengusap air matanya dengan kasar, lalu berjalan menuju meja rias. Ia menatap wajahnya di cermin, matanya merah dan sembab. Ia melihat bukan hanya wajah seorang bintang, tapi juga wajah seorang wanita yang kesepian dan terluka.

Ia meraih ponselnya, membuka Instagram, dan melihat notifikasi baru. Matanya membulat saat melihat nama Laksana Aditya Himawan. Jantungnya berdebar kencang. Ia mengetuk foto profil Laksa. Wajah pria itu terlihat lebih dewasa dan berwibawa. Sebuah senyum tipis terukir di bibir Vanya. "Laksa..." bisiknya lirih. Ia merasakan secercah harapan muncul di tengah kegelapan yang melingkupinya.

Tiba-tiba, ponselnya berdering. Vanya mengusap air matanya dan mengangkat telepon.

"Halo, Vanya, ada tawaran endorse nih. Dari perusahaan jasa boga. Kamu mau?" suara manajernya terdengar di seberang.

"Jasa boga?" Vanya mengerutkan kening.

"Iya. Lumayan populer belakangan ini. Coba lihat dulu profil perusahaannya. Aku kirim ya surat penawarannya."

"Oke," jawab Vanya.

Setelah panggilan berakhir, Vanya membuka emailnya. Matanya terbelalak dan napasnya tertahan saat membaca nama CEO perusahaan tersebut: Laksana Aditya Himawan. Jantungnya berdebar semakin kencang. Ia merasakan perpaduan antara keterkejutan, kebingungan, dan harapan. Apakah ini kebetulan? Ataukah ada maksud tersembunyi di baliknya?

Vanya meraih ponselnya dan menghubungi manajernya. "Ta, aku mau bertemu langsung dengan CEO perusahaan itu sebelum memberikan jawaban," katanya, suaranya mantap.

"Bertemu CEO-nya? Kenapa?" tanya manajernya, bingung.

"Aku mengenalnya," jawab Vanya singkat. "Kosongkan jadwalku besok."

***

To be continued...

Laksana Embun ( On Going Dan Proses Revisi )Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang