Bab 32 Kesalah pahaman

44 39 1
                                        

Tak berselang, suara ponsel Bastian kembali memecah keheningan. Ia melirik layar, bibirnya mengatup rapat. Tatapannya menajam, alisnya berkerut tipis. Layar ponsel itu berpendar di tangannya, namun ia tak kunjung menyentuhnya.

Laksa memperhatikan gerak-gerik itu. "Bas?" tanyanya pelan, sembari menyentuh lengan Bastian. "Lo kenapa? Gak mau jawab dulu?"

Bastian tersentak. Ia buru-buru menyembunyikan ponsel di belakang tubuhnya, seolah benda kecil itu bisa menyelamatkannya dari pandangan Laksa. "I-iya... Gue jawab telpon dulu, ya?"

Laksa mengangguk pelan. Matanya mengikuti langkah Bastian yang bergegas keluar ruangan, seperti ada sesuatu yang tak boleh dilihat atau didengarnya. Sesuatu yang tak biasa.

Di lorong kantor yang lengang, Bastian menempelkan ponsel ke telinganya. Suaranya hampir tenggelam dalam bisikan, "Lo ngapain sih, nelpon gue terus?"

Kakinya bergeser resah, punggungnya menempel ke dinding. Tangannya yang bebas masuk ke saku jeans, menggenggam erat sesuatu di dalamnya. "Gue belum ketemu sama dia." Suaranya sedikit bergetar. "Udah, gak usah ganggu gue sekarang. Gue lagi sama Laksa."

Lorong itu sunyi, hanya suara napas Bastian yang beradu dengan langkah-langkah kecilnya. Ia mendesah panjang sebelum menurunkan ponsel, tatapannya kosong ke lantai.

Kembali ke ruangan, Bastian berdiri mematung di pintu. Laksa masih sibuk di meja, tangannya lincah memeriksa tumpukan berkas, tak menyadari Bastian yang hanya berdiri di sana, memandangnya. Menatap Laksa dalam sembari berpikir, "apa yang aku lakukan? Apa aku harus menyakiti orang sebaik dia?" Gumamnya dalam hati.

"Lo udah selesai?" suara Laksa memecah lamunannya.

Bastian berkedip, seperti baru bangun dari mimpi. "Hah? Iya, udah."

Ia tersadar dari lamunan. Berusaha menyembunyikan wajahnya yang masih tegang. Telpon yang dia terima tadi membuatnya sangat frustasi.

"Siapa sih? Muka lo tegang banget."

Bastian memaksakan senyum, tetapi sudut bibirnya tak sepenuhnya terangkat. "Itu dari kantor di Amerika. Biasalah... urusan kerjaan," jawabnya berkelit.

Laksa menatapnya lekat-lekat, seakan ingin membaca sesuatu dari wajah Bastian. Tetapi Bastian segera mengalihkan pandangan, kembali membenahi meja yang sebenarnya tak berantakan.

Di sudut matanya, ada sisa gelisah yang tak bisa ia sembunyikan.

***

Pagi ini di Desa Jatirejo, Semarang. Mentari pagi menyelimuti desa dengan hangat, sinarnya memantulkan warna emas pada hamparan padi yang menguning di sekitar rumah Juragan Sastro. Burung-burung sawah berterbangan dengan lincah, suaranya yang merdu mengiringi aktivitas pagi di desa itu.

Juragan Sastro duduk santai di teras rumah, menikmati singkong rebus yang mengepul hangat, ditemani secangkir kopi hitam. Pandangannya tertuju pada Raka, putranya, yang baru saja keluar rumah dan mengambil sandal di dekatnya.

"Mau ke mana kamu, Le?" tanya Juragan sambil menyeruput kopinya.

"Mau membantu Embun di sawah, Pak. Hari ini Pak Mito panen," jawab Raka sambil memasang sandalnya.

Juragan Sastro mengangkat alis. "Sampai kapan kamu bakal terus menempel ke Embun? Memangnya wanita-wanita yang Bapak tawarkan kurang cantik?"

Raka menatap ayahnya dengan senyuman kecil. "Cantik saja ndak cukup, Pak. Banyak wanita cantik di luar sana, tapi wanita yang baik dan tulus seperti Embun itu langka."

Bu Nima yang sedang menjemur pakaian di halaman depan ikut menimpali percakapan itu. "Betul apa kata Raka, Pak. Embun itu anak yang baik. Lagi pula, kenapa Bapak tidak mempertimbangkannya saja? Raka ini anak semata wayang kita. Kalau dia ndak bahagia, kita juga ndak bakal bahagia, Pak."

Juragan Sastro menghela napas panjang. Matanya memandang ke arah Raka dengan sorot lembut namun penuh pertimbangan. "Jadi maumu sekarang apa, Le?"

Raka mendekat. Senyum lebar muncul di wajahnya, matanya berbinar penuh harap. "Tolong lamar Embun untukku, Pak. Kalau Embun jadi istri Raka, Raka janji bakal nurut sama Bapak."

Bu Nima tersenyum mendengar itu. Ia mendekati Juragan Sastro dan berkata pelan, "Mumpung Embun masih di sini, Pak. Kita harus cepat. Jangan sampai keduluan orang lain."

Juragan Sastro mengangguk perlahan. "Baiklah kalau itu maumu. Bapak akan bicara dengan Embun dan keluarganya. Tapi Bapak juga harus minta maaf atas kejadian di masa lalu."

Wajah Raka berseri. Ia memeluk ibunya dengan erat. "Terima kasih, Buk. Raka beruntung punya Ibu seperti Ibu."

Bu Nima mengusap lembut bahu Raka. "Ibu cuma ingin kamu bahagia, Nak."

***

Sementara itu, di sawah, Embun tengah membawa gorengan dan kopi untuk para petani yang membantu panen. Dengan langkah lincah, ia menghampiri saung di tengah sawah.

"Pak, ini kopinya Embun taruh di saung ya. Bapak istirahat dulu," serunya kepada Pak Sumito, ayahnya.

"Ya, Ndok. Taruh saja di sana," jawab Pak Sumito dari kejauhan.

Embun duduk di saung, mengambil napas sejenak sambil membuka ponselnya. Ia mengetik sebuah pesan dengan ragu.

"Selamat pagi, Mas Laksa..."

Setelah pesan terkirim, matanya tertuju pada layar. Namun, percakapan terakhirnya dengan Laksa kembali muncul di layar ponsel. Lima hari. Sudah lima hari pesan-pesannya hanya berjejer tanpa jawaban.

Embun menggenggam ponselnya erat, menempelkan layar dingin itu ke dadanya. Hatinya terasa perih. Janji Laksa untuk menjemputnya kini terdengar seperti bayangan semu. Air matanya mengalir perlahan. Dunia mereka terlalu berbeda. Ia semakin yakin bahwa hubungan ini hanyalah harapan kosong.

Ia memandang kosong ke sawah yang membentang luas, tetapi untuk pertama kalinya, ia tidak merasakan keindahannya. Suara burung dan gemerisik angin di antara padi tidak mampu mengusir rasa sepi yang menggulung dirinya.

***

Laksa berdiri di depan cermin, merapikan dasi dengan teliti. Setelah memastikan semuanya sempurna, ia menata rambutnya dengan cepat, mengambil tas kerjanya, dan bersiap untuk berangkat ke kantor.

Sebelum melangkah keluar, ia memeriksa ponselnya. Sebuah pesan dari Embun muncul di layar. Laksa membukanya, dan senyum kecil menghiasi wajahnya saat membaca kata-kata sederhana tapi penuh perhatian dari Embun. Namun, sebelum sempat mengetik balasan, ponselnya berdering. Nama Pak Subroto terpampang di layar.

"Halo, iya, Pak..." Laksa menjawab sambil berjalan menuju pintu.

"Laksa, aku sedang sarapan di warung soto Madura dekat kantormu. Mungkin kamu bisa menemaniku sebentar? Ada yang perlu kita bicarakan soal bisnis."

Laksa menempelkan ponselnya di telinga sambil melangkah menuju basement. "Oh, baik, Pak Subroto. Dengan senang hati. Saya sedang dalam perjalanan ke sana, Pak. Mohon tunggu sebentar."

Pak Subroto terkekeh. "Aku tahu kamu selalu punya waktu untuk klien penting. Baiklah, aku tunggu."

"Terima kasih, Pak. Saya segera ke sana." Laksa mengakhiri panggilan dengan senyum tipis.

Setelah memasukkan ponselnya ke saku celana, ia langsung masuk ke mobil dan memberi perintah pada Pak Miko. "Ayo jalan, Pak. Kita mampir ke soto Madura dulu, ya. Pak Subroto sudah menunggu di sana."

"Baik, Den." Pak Miko segera menyalakan mesin dan bergegas menuju tempat yang di informasikan Laksa.

Dipenuhi oleh kesibukan di kantornya, Laksa lupa Embun sedang menunggu balasan pesan darinya.

Kejadian ini bukan yang pertama. Demi menjaga hubungan profesional dan fokus pada pekerjaannya, Laksa sering kali menunda—atau bahkan melupakan—hal-hal kecil yang penting bagi Embun. Baginya, semua ini demi masa depan yang lebih baik.

Namun, di kejauhan, Embun hanya melihat satu hal: keheningan Laksa sebagai bentuk ketidakpedulian. Pesan-pesan yang tak terbalas, jarak yang makin terasa jauh, dan perhatian yang berkurang sedikit demi sedikit membuat Embun berpikir, mungkin Laksa benar-benar telah melupakannya.

***

To be continued...

Laksana Embun ( On Going Dan Proses Revisi )Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang