Bab 28 Di balik masa lalu

30 37 0
                                        


Dari dalam mobil yang terparkir tak jauh dari sana, Zivanya menyaksikan adegan itu dengan mata penuh kebencian. Tangannya mengepal, urat-urat di tangannya menonjol. "Aku tidak akan membiarkanmu bahagia, Embun!" gumamnya, suaranya teredam oleh amarah. Ia memukul setir berulang kali, matanya memerah oleh kemarahan dan kekecewaan. Rencananya untuk mempermalukan Embun justru berbalik menjadi tamparan keras bagi dirinya sendiri. Kemudian, Zivanya memutar kunci mobil dengan kasar, melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, meninggalkan gedung itu di belakang. 

Setiba di apartemen, Zivanya membanting pintu dengan keras, suaranya menggema di lorong. Ia melemparkan tasnya ke kasur hingga terpental dan jatuh ke lantai. "Sialan!" desisnya, napasnya memburu. Ia berjalan mondar-mandir di ruang tengah, tangannya mengepal erat. Bayangan Laksa merangkul Embun, melindunginya dari kerumunan, berputar di kepalanya seperti film yang diputar ulang tanpa henti. Setiap kali bayangan itu muncul, dadanya terasa sesak, seperti ada batu besar yang menindihnya. Ia meraih vas bunga di atas meja, mengangkatnya tinggi-tinggi, lalu membantingnya ke lantai hingga pecah berkeping-keping. Pecahan keramik itu berserakan di kakinya, tapi ia tak peduli.

Zivanya meraih sebotol anggur dari rak dan menuangkannya ke gelas hingga hampir penuh. Meneguknya dalam sekali tarikan napas, merasakan cairan pahit itu membakar tenggorokannya. Ia kembali mengisi gelasnya, lalu duduk di sofa, menatap kosong ke arah jendela. Kilas balik masa lalunya bersama Laksa menyeruak. Ia ingat betapa baiknya Laksa dan Oma Tari padanya. Di tengah keputusasaannya yang mencari pekerjaan di Jakarta, ia bertemu dengan Laksa. Pria itu membawanya ke restoran Oma Tari, dan mempekerjakannya di sana. Ketulusan Laksa pelan-pelan berubah jadi cinta, hingga memperlakukan Zivanya bak seorang putri raja. Ia merindukan saat-saat itu. Masa di mana dirinya dicintai dengan tulus. Meski gajinya dari restoran Oma tidak seberapa, Zivanya begitu bahagia. Di rumah itu, ia merasakan hidup dalam keluarga yang bahagia. Perasaan yang tidak pernah ia dapatkan di rumahnya sendiri.

Kemudian, ingatan itu berubah menjadi pengkhianatan yang ia lakukan. Ia menutup matanya rapat-rapat, berusaha mengusir bayangan itu. Keputusan untuk meninggalkan Laksa memang ia ambil demi karirnya, demi lepas dari jerat kemiskinan yang menghantuinya sejak ayahnya pergi. Ia ingat ibunya yang bekerja keras membanting tulang demi menghidupi mereka, dan kakaknya yang justru menghambur-hamburkan uang untuk berjudi. Zivanya merasa terbebani untuk mengubah nasib keluarganya. Ia merasa sendirian di dunia ini, tanpa ada yang benar-benar peduli padanya.

Ponselnya berdering, membuyarkan lamunannya. Ia menatap layar yang menampilkan nama kakaknya. Jantungnya berdebar tak karuan. Ia meraih ponselnya dengan tangan gemetar dan mengangkat panggilan itu dengan suara tercekat, "Halo?"

"Lama sekali mengangkatnya! Kirim aku uang sekarang!" suara kasar kakaknya terdengar di seberang sana.

"Uang lagi? Bukankah baru minggu lalu aku mengirim tiga puluh juta?" desis Zivanya, memijat pelipisnya.

"Jangan banyak mengeluh! Kau enak di sana, sementara aku harus merawat Ibu sendirian. Jika kau tidak kirim uang, aku tidak akan merawatnya."

"Bang—!" Zivanya menggigit bibir bawahnya. "Dia ibumu juga! Bagaimana kau bisa—"

"Sudahlah! Ibu itu tidak berguna! Cepat kirim lima puluh juta sekarang juga!" Panggilan terputus.

Air mata Zivanya akhirnya tumpah. Ia melempar ponselnya ke sofa, tak peduli jika layarnya retak. Ia merosot dari sofa, berlutut di lantai, merasakan dinginnya ubin merambat ke tubuhnya. Ia memeluk dirinya sendiri, bahunya bergetar hebat. Ia merasa terperangkap, sendirian, dan marah. Marah pada kakaknya, marah pada keadaan, dan marah pada Embun yang tanpa sadar telah membangkitkan kenangan pahitnya dengan Laksa.

***

Laksa membawa Embun kembali ke apartemen. Kilatan lampu kamera dan teriakan-teriakan yang menyudutkan masih terngiang di telinganya. Bau anyir telur dan asam tomat masih melekat di bajunya, pengingat nyata dari kejadian beberapa jam lalu. Ia memapah Embun masuk, gadis itu tampak linglung.

"Bun, mandi dulu, ya. Tenangkan diri kamu. Aku buatkan sesuatu untukmu," ucap Laksa lembut, mengusap bahu Embun pelan.

Embun mengangguk kecil, tatapannya kosong. Setelah Laksa menutup pintu kamar, Embun menatap dirinya di cermin. Noda-noda di bajunya terlihat jelas di sana. Ia mulai melepaskan pakaiannya dengan gerakan lambat, setiap helai yang jatuh seolah melepaskan sebagian dari rasa malunya.

Ia memutar keran bathtub. Air hangat mengalir, uapnya perlahan memenuhi kamar mandi. Embun masuk ke dalam air, membenamkan dirinya hingga leher. Sensasi hangat air merambat di kulitnya, sedikit meredakan ketegangan yang mencengkeram tubuhnya. Ia memejamkan mata, membiarkan keheningan menelan suara-suara sumbang yang terus berputar di kepalanya. "Aku harus kuat," bisiknya lirih, suaranya nyaris tak terdengar.

Tiba-tiba, aroma manis menyapa indranya. Gula aren yang karamel dan singkong kukus yang lembut bercampur, mengusik perutnya yang kosong. Ia membuka mata, lalu berdiri dan meraih handuk. Setelah mengeringkan tubuhnya seadanya, ia keluar dari kamar mandi, rambutnya masih basah dan menetes.

"Baunya enak sekali," gumamnya, melihat Laksa di dapur. Ia menghampirinya, berdiri di ambang pintu.

Laksa menoleh, senyumnya tulus. "Sudah selesai? Aku masak singkong gula aren. Katanya, yang manis-manis bisa mengobati hari yang buruk." Ia mengaduk perlahan singkong yang berkuah kental di atas kompor.

Embun tersenyum tipis, matanya masih menyimpan jejak kesedihan. "Sepertinya enak."

Laksa mengambil sesendok singkong dan meniupnya pelan. "Coba." Ia menyodorkannya ke Embun.

Embun menerima suapan itu. Rasa manis dan hangat singkong itu menyebar di mulutnya, membuatnya merasa sedikit lebih tenang. "Enak sekali, Mas," ujarnya, senyumnya sedikit mengembang.

Laksa meletakkan sendoknya dan menatap Embun lekat-lekat. "Apa kamu baik-baik saja?" tanyanya lembut.

Embun mengangguk kecil, lalu mengalihkan pandangannya. "Terima kasih, Mas."

Laksa mengulurkan tangannya dan menggenggam tangan Embun. Ia merasakan tangan gadis itu dingin dan sedikit gemetar. Ia mendekat, merengkuh Embun ke dalam pelukannya. Embun membalas pelukan itu, menyandarkan kepalanya di dada Laksa. Ia merasakan detak jantung Laksa yang tenang, sedikit demi sedikit menenangkan jantungnya yang masih berdebar kencang.

Mereka berpelukan dalam diam, hanya suara napas mereka yang terdengar. Kemudian, Laksa mengangkat dagu Embun dengan lembut dan mengecup keningnya. Kecupan sederhana, namun penuh kehangatan dan pengertian.

Laksa menatap mata Embun lekat-lekat. "Aku di sini," bisiknya. Ia mendekatkan wajahnya dan mencium bibir Embun. Ciuman itu awalnya lembut dan ragu, lalu semakin dalam dan intens. Embun memejamkan matanya, membiarkan dirinya terbawa oleh ciuman itu. Untuk sesaat, ia melupakan semua kejadian yang menimpanya. Yang ia rasakan hanya kehangatan dan ketenangan di pelukan Laksa.

Laksa melepaskan ciumannya dan menatap Embun. Ia melihat mata gadis itu berkaca-kaca. Ia mengusap air mata yang menggenang di pelupuk mata Embun dengan ibu jarinya. Ia kembali mendekatkan wajahnya dan mengecup bibir Embun sekali lagi, singkat namun lembut. "Sudah merasa lebih baik?" tanyanya.

Embun mengangguk kecil, menyandarkan kepalanya di bahu Laksa. "Terima kasih, Mas."

Laksa memeluknya erat, membiarkan Embun beristirahat di pelukannya. Ia mengusap rambut Embun dengan lembut, berharap kehangatannya dapat sedikit meredakan guncangan yang dialami gadis itu.

***
Hari yang melelahkan buat Laksa, Embun, dan juga Zivanya. Apa pendapat kalian setelah mengetahui latar belakang Zivanya?
Komen ya guys...

To be continued...

Laksana Embun ( On Going Dan Proses Revisi )Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang